Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 16 Mei 2017

BERTEMU DENGAN TOKOH PENDIDIKAN "LINK AND MATCH" WARDIMAN DJOJONEGORO

Buku Wardiman Djojonegoro

Mungkin cerita ini saya mulai dari salah satu ruang sempit yang ada disalah satu sudut Kota Bandung, ya mungkin supaya agak didramatisir begitu... Benar, kostan saya yang ada di Gegerkalong Kota Bandung. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang berharap segera menyesaikan studinya, namun masih memiliki tanggung jawab akademik yang harus diselesaikan apabila ingin wisuda. Salah satu syaratnya adalah, harus menjadi pemakalah pada seminar Internasional dan telah menulis jurnal yang harus terbit. Mulailah pada malam hari saya mencari informasi tentang beberapa kegiatan-kegiatan kampus yang akan mengadakan seminar atau conference dalam waktu dekat ini. Pilihan saya jatuh kepada dua pamflet yang memberikan pengumuman bahwa akan mengadakan seminar intenasional dan seminar yang memuat jurnal. Pertama, di salah satu kampus di Ponorogo dan kedua di salah satu kampus di Malang. Mengapa saya memilih kampus tersebut, selain karena posisi mereka yang sama-sama di Jawa Timur dan biaya dalam mengikuti kegiatan tersebut masih terjangkau untuk kelas mahasiswa seperti saya. Bahkan untuk mengikuti seminar nasional dan terbit jurnal, itu gratis! Namun harus mengirimkan tulisan paper dan diseleksi sehingga bisa ikut dengan gratis.
Selama kurang lebih dua minggu saya mempersiapkan paper untuk bisa ikut pada kegiatan tersebut. Papar yang saya akan bahas itu tidak jauh dari keilmuan saya atau kuliah yang sedang saya tempuh saat ini di Universitas Pendidikan Indonesia. Sebenarnya dulu saya pernah membuat paper pada saat mata kuliah dan telah dibimbing oleh salah satu dosen di kampus, sehingga saya tidak begitu kesulitan dalam membuat paper dalam waktu singkat. Ya singkat cerita, kedua paper tersebut selesai hanya dalam waktu dua minggu setelah mengetahui pamflet seminar tersebut. Sebenarnya sih bisa saya menyelesaikannya dalam waktu lebih singkat, namun karena kesibukan saya menemui dosen pembimbing dan dosen pembimbing akademik (maklum, mahasiswa tingkat akhir) ditambah lagi rada-rada malas sedikit, sehingga kurang lebih dua minggu baru bisa selesai. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, tidak banyak mengalami masalah dalam penulisan paper, namun yang menjadi masalah adalah ketika mengubah dari Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Inggris. Hal ini mungkin karena Bahasa Inggris saya pas-pasan. Namun dengan telaten dan dibantu dengan salah satu situs di internet yang memiliki kemampuan untuk menterjemahkan secara langsung, akhirnya saya menyelesaikan full paper dalam Bahasa Inggris. Setelah semua siap, akhirnya saya kirimkan full paper ke panitia penyelenggara yang ada di Ponorogo dan di Malang.
Setelah mendapat balasan dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo, bahwa paper saya diterima dan harap mempersiapkan diri. Akirnya saya bersiap-siap mencari tiket kereta dengan harga yang paling murah. Sebelumnya saya sudah menelpon teman satu kostan dan teman satu jurusan dengan saya yang kebetulan lagi di Madiun dan sekalian menjadi penulis kedua dalam paper yang akan ditampilkan pada seminar internasional di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Asep, begitu sapaan akrabnya. Beliau sudah mengajak ke Madiun untuk menginap terlebih dahulu di kediamannya di Madiun.
Sore sekitar jam 15.15 WIB saya sudah bersiap-siap dan telah memesan ojek online untuk mengantarkan saya ke stasiun Kiara Condong. Cuaca baru saja hujan dan angin kencang di Kota Bandung. Sehingga suasana cukup dingin dan kendaraan banyak yang berjalan merayap. Banar saja, macet terjadi di Kota Bandung. Berangkat dari Gegerkalong sekitar pukul 15.20 WIB, sampai di Stasiun Kiara Condong jam 17.40 WIB. Untungnya saya tidak terlambat, dengan kereta keberangkatan 18.10 WIB.
jangan baper ya!!

Setelah dalam kereta cukup banyak yang hal-hal yang terjadi, mulai dari bertemu ibu yang bersama anaknya baru pertama kali naik kereta sehingga salah tempat posisi duduk. Yang awalnya duduk di bangku tempat saya, setelah saya klarifikasi dengan tiket, akhirnya si ibu dan anaknya pindah ke kursi didepan saya. Tak sampai disana, ternyata setelah ada pemuda sepasang (laki-laki dan perempuan) mengkrarifikasi bahwa itu kursi yang mereka harusnya duduki sesuai dengan tertera ditiket. Ternyata benar saja, setelah si Ibu memperlihatkan tiketnya, barulah beliau sadar bahwa dia duduk diseberang kursi saya. Saya duduk sendirian pada pada baris kursi yang harusnya diduduki dua orang, yang ternyata kemudian saya ketahui bahwa penumpang diselah saya nanti akan naik dari stasiun Tasikmalaya. Belum sampai disana cerita di Kereta, tepat di depan saya ada sepasang (laki-laki dan perempuan) yang kelihatannya masih kuliah sekitar semestar 4 atau 6 yang kemudian saya ketahui bahwa akan turun di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Sepanjang perjalanan mereka hanya asik dengan dunia mereka sendiri, mungkin seolah dunia milik mereka berdua. Saling rangkul, saling sandaran bahu, pel*kan, nyanyi-nyanyi engga jelas... Masha Allah. Saya yang jadi tidak enak (bukan baper ya...hahahhahahaaa). Suatu waktu yang laki-lakinya menelpon ibunya dan meminta kirimkan pulsa dan kuota dengan bahasa dan suara yang manja. Ya Allah, saya jadi berpikir.... ini masih minta sama orang tua, tapi ..... Ah,, sudahlah!!
Setelah kurang lebih pukul enam pagi, saya tiba di Stasiun Madiun yang tak berapa lama sudah dijemput oleh Asep. Setelah diajak sarapan, saya langsung menuju rumah kediaman Asep. Karena cukup lelah diperjalanan, saya langsung istirahat dikediaman beliau. Selama kurang lebih 3 hari saya berada di Madiun bersama Asep, dan diajak keliling-keliling Madiun dan sekitarnya. Bertemu dengan keluarga Asep, Bude, Pak De, calon mertuanya Asep, “Guru spiritualnya” dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Pokoke joss lah.... Mangan wae.... (Emang banyak diajak makan kalo disana).
Tepat pada hari Sabtu, kita bersiap-siap ke Ponorogo yang jarak tempuhnya kurang lebih 45 menit dari Madiun. Tujuan kita adalah Universitas Muhammadiyah Ponorogo untuk mengikuti International Seminar on Islamic Education (ISIE2017). Di seminar nasional ini, pematerinya adalah Prof. Dato, Dr. Abdul Halim Tamuri Halim (Rektor Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor Malaysia) dan Prof. Dr. Ahmad Tafsir, MA (Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung). Saya tidak akan banyak membahas mengenai Seminar ini, karena mungkin akan saya ulas pada tulisan berikutnya.
Setelah selesai mengikuti seminar tersebut, saya diajak Asep dan Ninda (Calon Istrinya Asep) ke  Kabupaten Magetan Jawa Timur. Ya sekalian jalan-jalan begitu. Setelah menikmati daerah pegunungan, singkat cerita kami tiba di Madiun dan dikediaman Asep sekitar pukul 19.00 WIB. Pada malam harinya saya harus bersiap-siap karena besok sekitar jam 02.50 dini hari harus segera melanjutkan perjalanan ke Malang.
Dari Madiun saya tidak langsung ke Malang, tapi saya menuju Kepanjen dulu. Ya benar saja, saya akan menyaksikan pertandingan Arema FC terlebih dahulu. Tepat pukul 07.30 WIB saya sampai di Stadiun Kepanjen dan menginap satu malam di Kepanjen. Sebanarnya saya sedikit nekat ke Malang, karena belum ada balasan dari universitas yang saya akan ikuti seminat nasionalnya, apakah paper saya diterima atau tidak. Akhirnya pagi itu, saya memutuskan untuk menghubungi admin universitas tersebut yang menyelenggarakan seminar. Dengan santun, admin dari Univeritas Wisnuwardhana Malang membalas pesan singkat saya bahwa akan menanyakan terlebih dahulu kepada tim review jurnal dan akan dikabarkan secepatnya. Dalam pikiran saya ya, paling tidak saya jalan-jalan saja ke Malang dan menyaksikan pertandingan bola saja apabila paper saya tidak diterima. Pada siang harinya, saya mendapat kabar dari adminnya, bahwa berita sebenarnya sudah dikabarkan ke email masing-masing, namun karena lagi ada masalah (gangguan teknis) dengan sistem email, maka beritanya terlambat di kabarkan. Setelah kurang lebih 30 menit setelah kabar tersebut, sebuah satu sms (short message service) masuk ke ponsel saya, yang menyatakan bahwa pesan ini dari tim review jurnal Universitas Wisnuwardhana, bahwa paper saya diterima dan harap bisa hadir pada hari Selasa, 25 April 2017 di Aula Lantai 2 Universitas Wisnuwardhana.
Senin, 24 April 2017 Pukul 11.00 WIB saya berangkat dari Kepanjen menuju Kota Malang dengan menggunakan angkutan umum. Untuk sampai ke Kota Malang, saya haru menaiki dua kali angkutan umum. Setelah sampai di Kota Malang, saya tepat berhenti di dekat Universitas Negeri Malang (UM) pada sebuah warung makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Setelah makan, saya berjalan sedikit menuju Jalan Merbabu untuk memesan penginapan yang cukup murah, bersih dan full wifi. Rekomendasi deh, namanya KAVIE HOSTEL. Cari aja di geogle map, pasti ada kok, pas di depan Taman Merbabu dan dekat dengan Hutan Kota. Hari Senin ini saya habiskan untuk jalan-jalan sekitaran Kota Malang dengan jasa ojek online. Beberapa yang saya singgahi antara lain : museum musik indonesia, Candi Badut, Alun-alun Kota Malang, alun-alun tugu, Masjid Agung Jami’ Malang (Sekalian sholat Magrib dan Isya di sana).
Keesokan harinya, Selasa, 25 April 2017 tepat pukul 11.00 WIB saya sudah bersiap-siap untuk menuju kampus Wisnuwardhana Malang. Dengan menaiki ojek online, saya mempuh dan 30 menit kemudian sampai di lokasi. Selepas Sholat Dzuhur dan makan siang, para pemateri seminar nasional dengan Keynote Speaker : Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro (Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tahun 1993-1998).  Pemateri : 1) Ir. Abdul Aziz Hoesein, Dipl. HE., M.EngSC. (Mantan Direktur Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah dan Mantan Deputi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. 2) Dr. Imam Ropi’i, SH, MH. (Ka.Prodi Magister Ilmu Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang). Dan tak lupa sambutan hangat dari Rektor Universitas Wisnuwardhana Malang.

Foto Rektor Univ.Wisnuwardhana, Keynote Speaker, dan pemateri Seminar

Dalam kegiatan seminar ini memang banyak membahas mengenai buah pikiran Prof. Wardiman Djojonegoro dan pengalaman masing-masing pemateri tentang keadaan pendidikan sekarang dan masa zaman Prof. Wardiman. Seminar berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Diakhir acara, peserta bisa mendapatkan buku karya Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro yang berjudul “SEPANJANG JALAN KENANGAN : Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar” dengan diskon khusus dan gratis bagi pemakalah. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk memiliki buku beliau.
Dalam bukunya dan saat dipaparkan dalam seminar, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro yang pernah bekerja bersama tiga tokoh besar Indonesia, yaitu : Ali Sadikin, Suharto dan BJ. Habibie, memiliki beberapa gagasan yang pada masa kepemiminan beliau sangat konsen untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Antara lain, kebijakan link and match (Keterkaitan dan kesepadanan). Dari perspektif ini, link menunjukkan proses, yang berarti bahwa pendidikan selayaknya sesuai dengan kebutuhan pembangunan, sehingga hasilnya pun cocok (match) dengan kebutuhan tersebut. Baik dari segi jumlah, mutu, jenis, kualifikasi, maupun waktunya. Kebijakan ini dikembangkan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan umumnya dan denga kebutuhan dunia kerja, dunia usaha dan dunia industri khususnya. Jadi, esensi dari relevansi adalah upaya menciptakan keterkaitan dan kesepadanan antara pendidikan dengan pembangunan (hal.288).
Sebenarnya, jika kita telaah pada masa itu saja, konsep seperti ini sudah terpikirkan bahwa sangat pentingnya link and match. Hingga saat ini pun konsep ini Masih  sangat berlaku pada semua jalur pendidikan, baik itu pada pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Pada pendidikan formal, misalnya SMK harus mampu eksis dan bersaing setelah menyelesaikan studinya, karena memang idealnya SMK itu diharapkan siap bekerja setelah selesai studi. Pada pendidikan nonformal, bermunculannya lembaga kurus dan pelatihan (LKP atau LPK) tentunya diharapkan mempu menjawab kebutuhan masyarakat akan meningkatkan life skill akan keahlian tertentu. Misalnya kursus menjahit, diharapkan setelah selesai kursus mampu membuka usaha sendiri atau bisa bekerja pada perusahaan-perusahaan garment yang sesuai dengan kebutuhan pasar pada saat ini. Pada pendidikan informal, karena ini merupakan pendidikan keluarga, maka keahlian-keahlian yang yang berasal dari keluarga dan diajarkan berdasarkan kekeluargaan, misalnya seorang ayah bekerja sebagai sedain grafis, sang ayah secara otodidak mengajarkan kepada anaknya tentang desain grafis sehingga anaknya mampu menguasai kemampuan desain dengan baik dan terus berkembang.
Selain link and match, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro juga memiliki kebijakan yang antara lain agar IKIP diperluas menjadi Universitas. Ya, mungkin salah satunya adalah kampus saya saat ini. Yang dahulunya bernama IKIP Bandung, sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Selain itu juga, ada pengelolaan wajib belajar sembilan tahun, memperluas museum nasional, meningkatkan kompetensi SMK, kepedulian kepada nasib dan martabat guru serta mengeluarkan kebijakan mendirikan sekolah unggulan di seluruh Indonesia dan beberapa kebijakan lainnya.
Dalam buku beliau ada sebuah cerita yang membuat beliau ingin menulis bukunya. Awalnya, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro tidak mau menulis buku atau biografi karena beliau tahu bahwa minat baca di Indonesia sangat rendah, sehingga buku-buku atau biografi hanya akan menjadi penghias di perpustakaan saja. Bahkan sudah banyak orang yang menyarankan kepada beliau untuk menuangkan pengalaman dan buah pikiran beliau dalam bentuk tulisan, namun belum disambut oleh beliau. Hingga pada suatu hari beliau mendapat berita duka. Seorang mantan rektor sebuah universitas negeri yang besar, bahkan kemudian menjadi Direktur Jenderal serta Sekretaris Jenderal Depdikbud meninggal dunia (2014). Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro berkemas berangkat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Almarhum dan menyampaikan rasa duka kepada keluarga yang ditinggalkan. Ketika di pemakamana betapa kaget beliau sekaligus prihatin, karena selain kerabat dan keluarga, beliau tidak melihat seorangpun pejabat dan mantan pejabat Depdikbud yang hadir. Orang yang beliau nilai telah mengabdi untuk pendidikan di Indonesia ternyata luput dari perhatian dalam hirup pikuk kesibukan dunia modern. Mungkin karena kelurga tidak memiliki catatan alamat para pejabat Depdikbud dan tidak memberitahukan lewat sms.
Selepas pulang melayat, beliau langsung berpesan kepada sekertarisnya bahwa meminta dicatat semua alamat dan kontak teman-teman beliau dan kelak bilamana beliau di panggil menghadap yang Kuasa, buka catatan itu dan kabarkan kepada teman. Hal ini jugalah yang semakin menguatkan keinginan beliau untuk menuangkan, berbagi dan menuliskan episode perjalanan beliau dalam sebuah buku. Karena supaya apa yang telah beliau lalui dan lakukan tidak hilang ditelan zaman dan dapat menginspirasi yang mambacanya.
Lanjut ke acara seminar tadi. Setelah selesai acara seminar, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro tidak sungkan memberikan tanda tangan di buku yang beliau tulis dan berfoto dengan yang ingin mengabadikan moment dengan beliau. Saya pun tidak melewatkan kesempatan ini. Sambil menunggu antrian, saya berbaris rapi di antara barisan lurus orang yang akan meminta tanda tangan dan berfoto dengan beliau. Dari barisan tengah, saya melihat beliau dengan hangat sambil menyapa dan mengobrol ringan dengan orang-orang yang meminta tanda tangan dan berfoto dengan beliau.
Buku yang ditanda tangan langsung penulisnya

Tiba saatnya giliran saya maju. Sambil menunjukkan nama dan asal saya pada selembar kertas, agar bisa beliau tulis saya menghampirinya. Dengan disambut dengan salaman, saya menyerahkan kertas yang telah ditulis tadi. Betapa cukup kagetnya beliau mengetahui saya berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Jawa Barat. Langsung beliau menatap saya dan berkata, “Mau ngapain kok jauh-jauh kemari?” sambil senyum. Saya pun menjawab, “Iya Prof. Sebelumnya ada acara di Ponorogo, jadi sekalian ke Malang”. Beliau pun langsung membuka obrolan dengan saya, “Oh.. Iya Kan kemarin Rektor UPI meninggal dunia kan ya?” Saya pun juga menjawab dengan sepengetahuan saya. Memang beliau masih terus memantau dan mengikuti perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, sehingga beliau masih tidak pernah ketinggalan informasi. Tak lupa beliau sedikit menceritakan kepada saya bahwa dulu UPI itu IKIP Bandung dan berkembang menjadi Universitas. Dan pertemuan kami ditutup dengan titipan salam beliau kepada dosen-dosen di UPI Bandung.
Setelah bertemu beliau, saya sangat beruntung sekali bisa bertatapan langsung bahkan bisa berbincang-bincang singkat dengan beliau. Orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang hebat dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Sepanjang perjalanan pulang melalui kereta Malang – Bandung, tak lupa saya membaca buku Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro untuk mengisi waktu-waktu perjalanan saya. Betapa hebat pemikiran dan pengalaman beliau yang telah lakukan. Dengan membaca bukunya, saya seperti merasakan dan terlibat didalamnya. Hal ini jugalah yang membuat saya termotivasi, suatu saat nanti juga akan menulis buku. Semoga saja apa yang telah Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro lakukan dan dedikasikan untuk pendidikan di Indonesia dapat bermanfaat dan berguna bagi pembangunan Bangsa dan tanah air Indonesia.

Sabtu, 29 April 2017

MUSEUM MUSIK INDONESIA

Selamat pagi yang cerah di hari minggu…
Museum Musik Indonesia (MMI). Mungkin sebagian orang baru mendengar atau hanya mendengar tapi tidak tahu apa saja yang ada disana dan dimana alamatnya. Baiklah, saya akan sedikit membahas mengenai pengalaman saya salama mengunjungi Kota Malang khususnya tentang museum music Indonesia. Cekidot ……!!!

foto salah satu wallpaper MMI

MUSEUM MUSIK INDONESIA beralamat di Jalan Nusakambangan No.19, Kasin, Klojen, Kasin, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65117. Museum ini dibuka mulai pukul 08.00-17.00 (Waktu Malang) dan dibuka setiap hari, kecuali hari libur Hari raya itu sih menurut salah seorang yang jaga di museum tersebut. Kalau kamu menggunakan google maps, langsung aja ketik Museum Musik Indonesia pasti langsung ditunjukkan ke alamat tersebut. Bagi anda yang ingin menaiki angkutan umum, kayaknya jarang deh lewat angkot disana yang langsung berhenti di depan gedungnya. Pada saat itu, saya dari penginapan di daerah Jalan Merbabu sekitar pukul 15.15 WIB, dengan menggunakan ojek online kira-kira 10 menit sudah tiba di lokasi dengan tarif ojek online Rp5.000,-
Sesampainya di lokasi, gedungnya terlihat seperti gedung serbaguna gitu. Ada tulisan Gedung Kesenian Gajayana. Adapun ruangannya terletak di lantai 2. Sesampai di ruangan, saya mengucapkan salam dan menanyakan, “Apakah masih buka museum musiknya?” Dengan semangat dan menyambut dengan hangat mereka mempersilahkan masuk dengan kontribusi tiket masuk Rp5.000,- (Lima Ribu Rupiah) sudah mendapatkan stiker keren museum musik Indonesia. Saya pun disapa dengan hangat oleh para pengurus museum, yang pada saat itu lagi ada sesi wawancara (kayaknya dengan radio sih). Sambil mengisi buku tamu, saya ditanya oleh yang kemudian namanya saya ketahui mbak Ciciel, “Berasal dari mana mas?” Dengan spontan saya menjawab, “Dari Sumatera Mbak, Bengkulu.” Kemudian beliau menjawab,” Wah jauh juga ya…” kemudian saya dikenalkan/dipromosian ke yang sedang berbincang-bincang yang kemudian saya ketahui namanya Bapak Hengki Herwanto (Salah satu Pendiri Musium music indonesia), “Ini ada wisatawan dari Bengkulu, jauh-jauh datang kesini”. Sambil senyum-senyum saya menjawab, “Iya dari Bengkulu”.
Setelah selesai saya mengisi buku tamu, saya melanjutkan melihat dan mendokumentasikan dengan ponsel beberapa foto koleksi museum music Indonesia. Banyak koleksi yang terdapat disini, terutama koleksi-koleksi lawas baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Ada koleksi CD, ada koleksi kaset, piringan hitam, majalah, Koran, foto-foto musisi, Itulah yang terdapat pada sisi ruangan pertama. Dengan tersusun rapih dan teleh teridentifikasi berdasarkan jenis dan asalnya. Disini sangat bersih dan terawat, bahkan tidak ada debu yang saya temui di koleksi-koleksi tersebut. Beberapa wallpaper dinding bergambar tulisan museum music Indonesia yang biasa menjadi tempat berfoto para wisatawan disini. 

 foto koleksi MMI (1)

 foto koleksi MMI (2)

foto koleksi MMI (3)

Di bagian dinding lainnya, ada wallpaper legend yang saya kenal yaitu Alm. Chrisye lengkap dengan nama albumnya dan tahun meluncurkan albumnya terpampang di dinding. Tidak hanya itu saja, menurut informasi, ada koleksi terbaru dari Iwan Fals (Pasti tahu donk musisi yang satu ini). Koleksinya tersusun rapi di lemari kaca yang berisi buku, kaset, CD, poster, topi menjadi sumbangan langsung dari Iwan Fals.
 foto di wallpaper dinding Chrisye


foto di lemari kaca Iwan Fals

Masuk ke ruangan berikutnya, ada banner tentang cara mendengaran music yang telah didigitalisasi yang bisa didengarkan disitus wifi MMI dan hanya bisa didengrakan di ruangan museum. Di ruangan ini ada yang langsung menyedot perhatian saya, yaitu ada empat buat gitar dan bass bermotif BATIK yang terpampang di dinding. Selain itu juga ada beberapa pakaian dari beberapa musisi pada saat tampil manggung dan juga ada alat music tradisional. Koleksi berikutnya adalah alat-alat pemutar music lawas yang menjadi koleksi yang cukup hits untuk difoto.

 foto koleksi museum (Bass Motif Batik)

 foto koleksi alat-alat untuk mendengarkan musik (jadul)

foto dengan salah satu gitar motif batik 

gambar beberapa foto musisi terpajang di dinding

Setalah puas menikmati semua koleksi di Museum Musik Indonesia, saya berpamitan akan melanjutkan perjalanan, sambil ngobrol-ngbrol santai dengan Bapak Hengki dan Mbak Ciciel, beliau menanyakan tentang daerah Bengkulu kepada saya. Ada beberapa pertanyaan yang Pak Hengki tanyakan, antara lain, “Siapa saja musisi-musisi daerah Bengkulu?” Jujur saya kurang begitu memahami siapa saja musisi dari Bengkulu, sepengatahuan saya hanya musisi daerah yang membawakan lagu-lagu daerah sih… kemudian beliau menyakana dari Bengkulu kenapa bisa tahu ada Musium Musik Indonesia? Saya menjawab, “saya tahu dari google pak, mencari lokasi-lokasi wisata di Kota Malang, dan salah satu rekomendasinya adalah di Museum Musik Indonesia.” Beliau cukup senang, ternyata sudah ada di google ulasan mengenai museum music Indonesia. Terakhir, beliau juga berpesan kepada bahwa museum music Indonesia sangat mengharapkan apabila ada masyarakat atau musisi yang mau menyumbangkan koleksinya ke sini agar tetap lestari dan bisa menjadi warisan kekayaan music di Indonesia. Khusus untuk musisi di Bengkulu, boleh juga apabila ingin menyumbangkan koleksi atau karya musiknya baik music daerah atau karya music lainnya. Tak lupa beliau memberikan kartu nama untuk membantu mempromosikan atau menambah koleksi di museum ini.
foto kartu identitas MMI

Pokoknya kerenlah museum musiknya walaupun belum begitu lama didirikan, tapi langkah dan cara tekad beliau sangat patut di apresiasi. Lokasi bersih dan nyaman. Mungkin itu sedikit ulasan dari saya mengenai Museum Musik Indonesia, pengen suatu saat nanti datang lagi kesini dengan koleksi yang semakin banyak dan bervariasi.  Barangkali band-band (Peterpan / Noah, Slank, Gigi, God Bless, dll) yang masih eksis hingga saat ini mau menyumbangkan karyanya, jadi makin gress, dan kekinian. 


Sabtu, 01 April 2017

Pandangan Knowless tentang Belajar

Belajar dipandang sama dengan ‘’living, and living it self is a process of problem finding and problem solving’’. We must learn from everything we do, we must exploit every experience as a learning experience. Every instution in our community government on nongovernment agencies, stores, recreational places, organizations chures, mosque, fields, factories, cooperative, associations, and the like becomes resources for learning, as does every person we access to parent, child, friend, service, provider, docter, teacher, fellow worker, supervisor, minister store clerk and so on and on, learning means making use every resourcesin or out of education institutions for our personal growth and development. Even the word is regarded as a classroom. Demikianlah salah satu pandangan makro yang dikemukakan oleh konwless. 
Sebagai pakar Pendidikan Luar Sekolah, tanggapan dan analisis penulis terkait pandangan Knowless tentang belajar, bahwa kegiatan belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dari sumber mana saja, dan dapat diperoleh dari pengalaman. Pendidikan harus dipandang sebagai proses pemahaman dan penemuan masalah serta pemecahan masalah baik yang berhubungan dengan masalah yang saat ini dihadapi maupun masalah kehidupan di masa depan. Sejalan dengan konsep sepanjang hayat, bahwa dimana pun dan kapanpun seseorang mengalami proses belajar, baik disadari maupun tidak disadari, hendaknya didasarkan atas kebutuhan peserta didik. Kondisi tersebut yang berkaitan dengan upaya menghubungkan pendidikan dan kehidupan nyata peserta didik dan perkembangan lingkungannya, lebih banyak terjadi dalam pendidikan luar sekolah. Belajar tidak terbatas oleh pendidikan yang ada dipersekolahan, namun harus dapat diperluas sesuai dengan kebutuhan dan kondisi perkembangan masyarakat. Artinya belajara dapat dilaksanakan dimana saja, dan oleh siapa saja tanpa adanya batasan umur.
Karakteristik masyarakat yang ingin dibangun melalui pandangan knowless tersebut, kemudian bandingkan dalam bentuk table dengan pandangan anda terkait dengan kondisi masyarakat Indonesia pada saat ini.
Tabel 1. Perbandingan Karakter Masyarakat 
Pandangan Knowless dan kondisi Masyarakat Indonesia

No
Karakteristik yang ingin di bangun knowless
Karakteristik masyarakat Indonesia pada saat ini
1.
Masyarakat yang gemar belajar
Masyarakat Indonesia berada pada masa bermimpi (dreaming society) masih menuju pada masyarakat pembelajar (learning society).
2.
Berkarakter
Karakteristik manusia yang belum berkarakter
3.
Peran pengalaman
Masyarakat Indonesia belum menerapkan pembelajaran berdasarkan pengalaman
4.
Belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
walaupun dengan adanya kebijakan pemerintah tentang tiga jenis pendidikan, namun masyarakat indonesia beranggapan/ masih menjadikan sekolah sebagai tempat utama belajar,
5.
Masyarakat menjadikan apa yang mereka lakukan sebagai proses belajar.
Masyarakat menjadikan apa yang mereka lakukan sebagai proses belajar




Jumat, 24 Februari 2017

REVIEW BUKU MEWUJUDKAN MASYARAKAT PEMBELAJAR

Judul Buku : Mewujudkan Masyarakat Pembelajar : Konsep, Kebijakan Implementasi
Pengarang : Ace Suryadi
Penerbit : Widya Aksara Press (Bandung)
Tahun Terbit : 2009
Telp/email : (022) 2019800 / widsara@yahoo.com
Jumah Halaman : viii + 163 halaman
Harga  : Rp 52.000,00



Perkembangan masyarakat secara umum dapat dibagi menjadi atas : (a) masyarakat petani (agriculture society), (b) masyarakat industri (industry society), (c) masyarakat pembelajar (learning society). Perkembangan masyarakat ini berdampak pula pada proses pembelajaran. Melihat alurnya, nampaknya kini zaman sudah mulai beralih ke era masyarakat pembelajar. Tidak ada pilihan bahwa untuk mewujudkan manusia unggul, harus dilakukan perubahan sikap dan prilaku budaya dari masyarakat yang gemar belajar menuju masyarakat gemar belajar (learning society). (hlm.13-14)
Mewujudkan masyarakat pembelajar adalah juga sebuah proses pemberdayaan yang harus  terus menerus dilakukan. Proses pemberdayaan tersebut mencakup proses merubah sikap dan prilaku budaya masyarakat yang tidak gemar belajar menjadi masyarakat yang gemar belajar. Belajar merupakan proses interaksi terus menerus antara pembelajar dengan sumber belajar pada suatu lingkaran belajar. Pembelajar yang berhasil, dapat dikatakan bahwa ia telah sukses memberdayakan dirinya menjadi lebih unggul dibanding sebelumnya. (hlm. 24)



Konsep pemberdayaan dalam kaitannya dengan mewujudkan masyarakat pembelajar merupakan konsep yang terkandung pula nilai-nilai sosial di samping nilai ekonomi. Konsep pemberdayaan ini lebih luas dari sekedar memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut, yang pemikirannya belakangan ini banyak dikembangkan sebagai upaya mencari alternatif terhadap konsep pertumbuhan ekonomi pada masa lalu. Konsep pemberdayaan bertitik tolak dari pandangan bahwa dengan pemerataan terciptanya landasan yang lebih luas untuk pertumbuhan dan berkelanjutan. Pemberdayaan melalui perwujudan masyarakat pembelajar secara otomatis menumbuhkan daya keunggulan seorang pembelajar melalui pengetahuan yang diserapnya selama proses pembelajaran (hlm. 25).

Buku ini mengandung sepuluh bagian atau sepuluh BAB. BAB I (Pendahuluan), BAB II (Memberlajarkan Masyarakat melalui Pendidikan Non Formal), BAB III (Memulai dengan memaksimalkan Golden Age), BAB IV (Menjangkau yang Belum Terlayani dengan Kesetaraan), BAB V (Menjejak Nusantara Melek Aksara), BAB VI (Mengembangkan Kursus, Menembus Pasar Kerja, BAB VII (Menikmati Hidup, Kuasai Kecakapan Hidup), BAB VIII (Gender sebagai Arus Pengutamaan Pembelajaran), BAB IX (Membangun Reading Interest), BAB IX (Penutup).

Buku Mewujudkan Masyarakat Pembelajar karangan Ace Suryadi ini sangat direkomendasikan bagi pegiat pendidikan non formal dan informal, LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan mahasiswa-mahasiswa. Pemaparan buku ini tidak berbelit-belit dan runtut berdasarkan kajian, kebijakan, analisis dan pemikiran penulis (Ace Suryadi) terkait mewujudkan masyarakat pembelajar. Selain dilengkapi dengan konsep, implementasi, buku ini juga dilengkapi dengan contoh kebijakan-kebijakan pendidikan khususnya pendidikan non formal dan informal baik nasional maupun internasional yang berkaitan dengan BAB dan Sub BAB yang dibahas. Selain itu, setiap tulisan dilengkapi dengan kerangka pikir yang memudahkan pembaca untuk mengerti alur pikir terkait dengan tulisan tersebut dan dilengkapi juga dengan beberapa gambar yang memperlihatkan keadaan situasi yang sesuai dengan tulisannya sehingga memudahkan pembaca untuk mengerti. Jika melihat dari daftar pustaka, tulisan ini berlandaskan beberapa jurnal-jurnal internasional dan kebijakan-kebijakan pemerintah sehingga membuat buku ini menjadi sangat cocok untuk kalangan akademisi.

Walaupun buku ini terkesan tanpa celah, namun buku ini juga masih memiliki beberapa kekurangan. Karena penulis (Ace Suryadi) memberikan beberapa contoh kebijakan pemeritah dalam bidang pendidikan pada saat buku ini terbit, maka kebijakan tersebut bisa saja sudah berubah mengikuti perkembangan zaman dan perubahan kebijakan, sehingga beberapa kebijakan menjadi tidak berlaku lagi pada tahun-tahun berikutnya. Contoh, mengenai sasaran dan target resentra Pendidikan Non Formal 2005-2009, data-data BPS dikutip pada tahun 2009 ke bawah. Sehingga bagi pembaca yang mengingikan data update tahun-tahun yang masih hangat tidak akan disajikan dalam buku ini. Namun hal itu bukan menjadi masalah, sebab bisa kita cari sendiri di internet dengan landasan atau kerangka yang dituliskan dalam buku ini.

Buku Mewujudkan Masyarakat Pembelajar, menawarkan teori yang berasal dari kajian ilmiah dan kebijakan-kebijakan terkait dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu juga ada kerangka pikir yang memudahkan pembaca memahami gagasan dan pemikiran penulis buku, hal ini cocok bagi yang akan menyusun skripsi, tesis atau disertasi yang masih mencari kerangka berfikir terkait dengan judul, bab dan subbab yang ada di buku ini. Selain itu, pada era masyarakat pembelajar (learning society) memungkinkan masyarakat atau warga belajar dapat belajar segala ilmu pengetahuan kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. (*)

(*) pereview : Bayu Pradikto. 
Yang mau di Review boleh email : bayupradikto(et)gmail(dot)com

Sabtu, 28 Januari 2017

FUNGSI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM SEKOLAH, DUNIA KERJA DAN KEHIDUPAN

Fungsi-Fungsi Pendidikan Luar Sekolah Pendidikan luar sekolah memiliki fungsi dalam kaitan dengan kegiatan pendidikan sekolah, kaitan dengan dunia kerja dan kehidupan. Dalam kaitan dengan pendidikan sekolah, fungsi PLS adalah sebagai substitusi, komplemen, dan suplemen. Kaitannya dengan dunia kerja, PLS mempunyai fungsi sebagai kegiatan yang menjembatani seseorang masuk ke dunia kerja.Sedangkan dalam kaitan dengan kehidupan, PLS berfungsi sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan seseorang.
  1. Fungsi PLS sebagai substitusi pendidikan sekolah
Substitusi atau pengganti mengandung arti bahwa PLS sepenuhnya menggantikan pendidikan sekolah bagi peserta didik yang karena berbagai alasan tidak bisa menempuh pendidikan sekolah. Materi pelajaran yang diberikan adalah sama dengan yang diberikan di pendidikan persekolahan. Contoh: pendidikan kesetaraan yaitu Paket A setara SD untuk anak usia 7-17 tahun, Paket B setara SLTP bagi anak usia 13-15 tahun, dan Paket C setara SLTA bagi remaja usia SLTA. Setelah peserta  didik menamatkan studinya dan lulus ujian akhir, mereka memperoleh ijazah yang setara SD, SLTP dan SLTA.
  1. Fungsi PLS sebagai komplemen pendidikan sekolah
Pendidikan luar sekolah sebagai komplemen adalah pendidikan yang materinya melengkapi apa yang diperoleh di bangu sekolah. Ada beberapa alasan sehingga materi pendidikan persekolahan harus dilengkapi pada PLS. Pertama, karena tidak semua hal yang dibutuhkan peserta didik dalam menempuh perkembangan fisik dan psikisnya dapat dituangkan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, jalur PLS merupakan wahana paling tepat untuk mengisi kebutuhan mereka. Kedua, memang ada kegiatan-kegiatan atau pengalaman belajar tertentu yang tidak biasa diajarkan di sekolah. Misalnya olah raga prestasi, belajar bahasa asing di SD, dan sebagainya. Untuk pemenuhan kebutuhan belajar macam itu PLS merupakan saluran yang tepat.  Bentuk-bentuk PLS yang berfungsi sebagai komplemen pendidikan sekolah dapat berupa kegiatan yang dilakukan d sekolah, seperti kegiatan ekstra kurikuler (pramuka, latihan drama, seni suara, PMR) atau kegiatan yang dilakukan di luar sekolah. Kegiatan terakhir ini dilakukan oleh lembaga-lembaga PLS yang diselenggarakan masyarakat dalam bentuk kursus, kelompok belajar dan sebagainya.
  1. Fungsi PLS sebagai suplemen pendidikan sekolah
Pendidikan luar sekolah sebagai suplemen berarti kegiatan pendidikan yang materinya memberikan tambahan terhadap materi yang dipelajari di sekolah. Sasaran populasi PLS sebagai suplemen adalah anak-anak, remaja, pemuda atau orang dewasa, yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah tertentu (SD sampai PT). Mengapa mereka membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap tertentu sebagai tambahan pendidikan yang tidak diperoleh di sekolah? Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat,sehingga kurikulum sekolah sering ketinggalan. Oleh karena itu, lulusan pendidikan sekolah perlu menyesuaikan pengetahuan dan keterampilannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Hal itu dapat ditempuh  dengan melakukannya melalui PLS. Kedua, pada umumnya lulusan pendidikan sekolah belum sepenuhnya siap terjun ke dunia kerja. Oleh karena itu, lulusan tersebut perlu dibekali dengan
pengetahuan dan keterampilan yang diminta oleh dunia kerja melalui PLS. Ketiga, proses belajar itu sendiri berlangsung seumur hidup. Walaupun telah menamatkan pendidikan sekolah sampai jenjang tertinggi, seseorang masih perlu belajar untuk tetap menyelaraskan hidupnya dengan perkembangan dan tuntutan lingkungannya.
  1. Fungsi PLS sebagai jembatan memasuki dunia kerja
Pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai suplemen bagi lulusan pendidikan sekolah untuk memasuki dunia kerja. Lepas kaitannya dengan pendidikan sekolah, PLS berfungsi sebagai jembatan bagi seseorang memasuki dunia kerja. Apakah orang tersebut memiliki iazah pendidikan sekolah atau tidak. Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keaksaraannya di jalur PLS dan ia belum memiliki pekerjaan, dia memerlukan jenis pendidikan luar sekolah yang bisa membawa ke dunia pekerjaan.
  1. Fungsi PLS sebagai wahana ntuk bertahan hidup dan mengembangkankehidupan
Bertahan hidup (survival) harus melalui pembelajaran. Tidaklah mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya tanpa belajar mempertahankan hidup. Demikian pula untuk mengembangkan mutu kehidupannya,seseorang harus melakukan proses pembelajaran. Belajar sepanjang hayat merupakan wujud pertahanan hidup dan pengembangan kehidupan. Pendidikan luar sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan dan belajar sepanjang hayat yang amat strategis untuk pengembangan kehidupan seseorang. Dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.


Referensi :
Sudjana, Djudju. 2003. Pendidikan Luar Sekolah : Wawasan, Sejarah Perkembangan, Falsafah, Teori Pendukung, Asas. Bandung : Falah Production 
http://websebelah.com/5-fungsi-fungsi-pendidikan-luar-sekolah/

Selasa, 22 November 2016

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA



By Bayu Pradikto

Pendidikan yang baik selayakna tidak membuat orang “terasing” dan hanya diam atas ketidakadilan, tapi justru terampil menganalisis kondisi objektif kehidupan mereka. Disitulah, mereka menjadi merdeka.”- Paulo Freire
Berbicara mengenai pendidikan, akan sangat kompleks problematika yang ada di dalamnya, mulai dari ketidakmerataan pendidikan, hingga kepada kualitas pendidikan itu sendiri. Pendidikan untuk semua telah menjadi komitmen global untuk menyediakan pendidikan dasar yang berkualitas bagi semua usia dan semua kalangan (Education for All).
Di Indonesia sesuai UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa terdapat tiga jalur pendidikan untuk mewujudkan  lifelong learning, antara lain : 1) Pendidikan formal (pada sistem persekolahan), 2) Non formal (diluar sistem persekolahan) 3) Pendidikan informal (pendidikan keluarga).
Learning System

Gambar1. Framework Lifelong Learning : Lifecycle Approach

Kemudian muncul pertanyaan, mengapa lifelong learning itu menjadi sebuah keharusan? Mari kita coba telaah perkataan yang pernah diucapkan oleh Henry Ford[1], “Siapapun yang berhenti belajar berarti sudah tua, entah pada usia dua puluh tahun atau delapan puluh tahun. Siapa yang tetap belajar akan senantiasa muda. Hal terbesar dalam hidup adalah membuat pikiran awet muda.” Lifelong learning menghasilkan (to learn) pengetahuan dan kecakapan baru yang berguna dan “membuang” (to unlearn) pengetahuan dan kecakapan yang obsolete/usang.
Pentinganya knowledge untuk pembangunan masyarakat serta kecakapan dan kompetensi baru sebagai hasil dari belajar terus menerus, sehingga nantinya knowledge menjadi faktor yang paling menentukan dalam pengembangan ekonomi dan sosial. Mengapa demikian ?
  1. Knowledge dapat menimbulkan stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas sebagai hasil dari inovasi. (berkaitan dengan goal 8 SDG's) 
  2. Berkontribusi terhadap pengentasan kemiskinan (berkaitan dengan goal 1 SDG's) 
  3. Tentunya membantu mempermudah dalam pencapaian sebagian besar tujuan SDG’s 
  4. Memperkuat kapasitas suatu negara dalam mengatasi dan menangani bencana (dalam hal ini bukan hanya bencana alam saja).

PETA PERMASALAHAN UTAMA PENDIDIKAN
1.          Pendidikan Dasar untuk Semua
Layanan pendidikan dasar dilakukan atas dasar prinsip keadilan tanpa membedakan suku bangsa, golongan, jenis kelamin, tempat tinggal dan latar belakang sosial dan ekonomi. Keadilan dalam pelayanan pendidikan hanya dapat diwujudkan dengan kebijakan pendidikan dasar yang bebas biaya, tidak dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan yang merata.
2.           Pendidikan Menengah Universal
Berdasarkan fungsinya sebagai satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan umum, baik untuk menyiapkan peserta didik melanjtkan ke pendidikan tinggi akademik, pendidikan tinggi vokasional. Jadi pendidikan menengah seolah-olah hanya menyiapkan lulusannya untuk kemudian hari akan menjadi tenaga akademik yang bergelar sarjana, magister, atua doktor. Celakanya, pada kenyataanya pendidikan menengah seolah tidak memiliki fungsi untuk menyiapkan lulusannya untuk langsung bekerja. Ironinya, lulusan SMK pun yang seharusnya disiapkan untuk bisa langsung bekerja justru lebih banyak (>80%)  yang melanjutkan ke perguruan tinggi akademik.
3.           Pendidikan Menegah Kejuruan
Pendidikan kejuruan di sekolah lebih bersifat “supply driven” karena jenis program studi, isi pendidikan, media belajar, evaluasi dan mekanisme sertifikasi sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah sebagai provider. Padahal yang dibutuhkan oleh SMK adalah pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pasar, bukan ditentukan langsung oleh pemerintah. Contohnya, dari dulu program-program studi yang ada di SMK tidak banyak berubah, padahal kebutuhan DUDI  akan kecakapan, ketrampilan dan keahlian terus berkembang setiap waktu.
4.           Pendidikan Tinggi dan Riset
Pendidikan tinggi di Indonesia cenderung hanya menghasilkan pencari kerja bukan pencipta kerja, sehingga tidak melahirkan lulusan yang mandiri. Selain itu ada ketimpangan antara lulusan pendidikan tinggi dengan lapangan pekerjaan yang tersedia masih didominasi kegiatan ekonomi subsistence yang lebih membutuhkan tenaga kerja berpendidikan rendah.
5.           Pendidikan Non Formal dan Informal
Adanya paradigma dikotomi antara pendidikan formal dan non formal, sehingga memunculkan efek kredensialisme yang menempatkan simbol-simbol status seseorang (ijazah atau gelar akademik dari pendidikan formal) dianggap lebih penting daripada kecakapan atau keahlian. Selanjutnya adanya paradigma bahwa lulusan pendidikan nonformal masih kalah di bawah pendidikan formal. Misalnya lulusan pendidikan paket C tidak lebih baik daripada lulusan SMA. Lain lagi dengan pendidikan keluarga, yang mana di lingkungan keluarga, kadang tidak menciptakan iklim belajar yang baik untuk anak.

*TPS (Tidak Pernah Sekolah) TTSD (Tidak Taman Sekolah dasar)
Gambar 2. Pergeseran Struktur Jabatan di Era Persaingan Global
(from credentialism toward professionalism)


APAKAH SEMAKIN TINGKAT TINGGI PEDIDIKAN MAKA SEMAKIN MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ?

Jawabannya BELUM TENTU. Saat ini cukup banyak kritikan terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang pada dasarnya mengatakan bahwa perluasan kesempatan belajar cenderung telah menyebabkan bertambahnya pengangguran tenaga terdidik daripada bertambahnya tenaga produktif yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Hal ini dapat terlihat dari data Badan Pusat Statistik tentang penduduk yang bekerja menurut pendidikan dan pengangguran terbuka menurut pendidikan penganguran di Indonesia.

 

               
Berdasarkan data diatas, memang terlihat bahwa pengangguran terbuka banyak terdapat pada tingkat pendidikan SMK, SMA, Diploma dan Universitas/PT. Namun demikian, kritik tersebut juga belum benar seluruhnya karena cara berfikir yang digunakan dalam menafsirkan data empiris tersebut cenderung agak menyesatkan. Cara berfikir tersebut ini cukup berbahaya; bukan hanya akan berakibat penyudutan yang tidak perlu terhadap sistem pendidikan, tetapi juga cenderung akan menjadikan pengangguran sebagai masalah yang selamanya tidak dapat dipecahkan.
Pada umumnya pengangguran terdidik itu disebabkan antara lain :
  1. Jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang mampu menyerapnya. 
  2. Kurang selarasnya perencanaan pembangunan pendidikan dan berkembangnya lapangan kerja yang tidak sesuai dengan jurusan mereka. 
  3. Faktanya, lembaga pendidikan di Indonesia cenderung hanya menghasilkan pencari kerja bukan pencipta kerja.
Keberhasilan dalam membangun pendidikan bukanlah diukur dari banyaknya gedung sekolah, banyaknya guru dan sarana belajar di sekolah namun lebih kepada mutu dan dampak pendidikan terhadap pembentukan warga negara yang baik, bertanggung jawab dan kompeten. Terakhir, mari kita renungkan perkataan Socrates, “Pendidikan adalah tentang menyalakan pelita bukan memenuhi bejana.”

Referensi :
Data BPS : https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1909
Suryadi, Ace. 2014. Pendidikan Indonesia Menuju 2025. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Wesfix. 2013. Teacher’s Wisdom. Jakarta : PT. Gramedia



[1] Pendiri Ford Motor Company dan Ford Foundation
 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!