Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 18 April 2013

BP_bayu pradikto: Jenis Tenaga Profesi Pendidikan Luar Sekolah.

BP_bayu pradikto: Jenis Tenaga Profesi Pendidikan Luar Sekolah.: Jenis Tenaga Profesi Pendidikan Luar Sekolah. Sedikit Flashback...! Ketika saya baru awal-awal masuk kuliah di Program Studi Pendidi...

Rabu, 17 April 2013

Jenis Tenaga Profesi Pendidikan Luar Sekolah.


Jenis Tenaga Profesi Pendidikan Luar Sekolah.

Sedikit Flashback...!
Ketika saya baru awal-awal masuk kuliah di Program Studi Pendidikan Luar Sekolah (semester 1), pihak prodi ada memberikan selebaran tentang jenis tenaga profesi PLS. Mungkin tujuannya saat itu untuk memberikan gambaran tentang kualifikasi lulusan PLS.
Setelah saya semester 8, ada adek tingkat saya yang menanyakan kembali hal tersebut kepada saya. Maka dari itu saya mencari kembali file-file lawas tentang hal tersebut agar infonya lebih lengkap dan ditambah buku bacaan yang saya punya.



Di dalam UU Sisdiknas, terminologi pendidikan mencakup guru, dosen, konselor, pamong belajar, pamong, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan, yang berfungsi sebagai agen pembelajaran warga belajar. Dalam konteks PNF, pendidik PNF merupakan anggota masyarakat yang memiliki tugas dan kewenangan dalam merencanakan dan melaksanakan proses, serta menilai hasil, melakukan pembimbingan dan pelatihan pada satuan PNF.
Tenaga PNF, yang disebut juga PTK-PNF (Pendidik dan Tenaga Kependidikan – Pendidikan Nonformal). Berikut adalah ketenagaan PNF :

Pendidik pada PNF : 

  • Pamong Belajar adalah PNS yang bertugas untuk melaksanakan pengembangan model, pembuatan percontohan serta penilaian dalam rangka pengendalian mutu dan dampak pelaksanaan program PNFPI sesuai dengan Kepmenko-wasbangpan. 
  • Pendidik atau pamong PAUD adalah Tenaga honorer yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang melaksanakan pembelajaran pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini jalur nonformal seperti kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan PAUD sejenis.  
  • Instruktur Kursus adalah Tenaga Pendidik yang bertugas untuk melaksanakan pembelajaran bagi warga masyarakat yang membutuhkan keterampilan tertentu yang dapat digunakan untuk keterampilan hidup dan dimanfaatkan sebagai mata pencarian. 
  • Tutor Pendidikan NonFormal (PNF) adalah anggota masyarakat yang bertugas merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi proses pembelajaran pada program keaksaraan Fungsional (KF), Kejar Paket A,B dan C. 
  • Pendidikan dan Pelatihan (diklat) adalah Proses pembelajaran untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan membentuk sikap peserta Diklat agar dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien.


Tenaga Kependidikan PNF :

  • Penilik adalah Tenaga pendidikan PNF yang berstatus PNS bertugas untuk merencanakan, melaksanakan, menilai, membimbing dan melaporkan kegiatan penilaian PNF sebagai penjamin muru terhadap penyelenggaraan PNF. 
  • Tenaga Lapangan Dikmas (TLD) adalah Tenaga Kependidikan yang dikontrakan tahunan bertugas membantu kepala cabang Dinas Pendidikan Kecamatan dalam mengumpulkan, mengolah dan megevaluasi data PNF dalam rangka mendukung pemastian kualitas pelaksanaan program PNF setempat. 
  • Fasilitator Desa Insentif adalah Tenaga pendidik yang memberikan pelayanan PNF yang merata dan berkualitas, terutama bagi masyarakat yang bermukim di desa-desa dengan kategori terpencil dan tertinggal ataupun kantong-kantong sasaran pendidikan Non Formal. 
  • Tenaga pustakaan/pustakawan, yaitu tenaga yang diberikan tugas dan kewenangan menyelenggarakan/mengelola serta memberikan pelayanan pada suatu lembaga perpustakaan. 
  • Teknisi teknologi informasi, yaitu tenaga yang memiliki keterampilan dan keahlian pada bidang teknologi dan informasi yang diberikan tugas dan kewenangan mengelola teknologi dan informasi pada suatu lembaga penyelenggaraan satuan PNF. 
  • Teknisi sumber belajar bertugas dan bertanggung jawab mempersiapkan, merawat, memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran pada satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal. 
  • Tenaga lapangan pendidikan bertugas dan bertanggung jawab melakukan pendataan, pemantauan, pembimbingan, dan pelaporan pelaksanaan. 
  • Tenaga administrasi bertugas dan bertanggung jawab menyelengarakan pelayanan administratif pada satuan pedidikan baik formal maupun nonformal. 
  • Pekerja sosial bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan bantuan sosiologis-pedagogis kepada peserta didik dan pendidik pada pendidikan khusus dan PAUD. 
  • Terapis bertugas dan bertanggungjawab memberikan layanan bantuan fisiologis-kinesiologis kepada peserta didik pada pendidikan khusus dan PAUD. 
  • Tenaga kebersihan bertugas dan bertanggung jawab memberikan layanan kebersihan lingkungan satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal. 
Daftar Pustaka
Sudarwan Danim, dan Wiwien. 2009. Profesi dan Profisionalisasi, Yogyakarta : Paradigma Indonesia

Jumat, 12 April 2013

JENIS-JENIS KARYA TULIS ILMIAH

2.1 JENIS ATAU BENTUK KARYA TULIS ILMIAH
Karya tulis ilmiah dapat dilihat dari bentuk penyajian (bahasa) dan kajiannya. Dari segi bentuk penyajiannya, sebagian karya tulis ilmiah memang disajikan ilmiah teknis yang umumnya dipahami oleh kalangan tertentu. Karya tulis seperti ini disebut karya tulis ilmiah akademis atau pendidikan. Biasanya karya tulis seperti ini dimaksudkan untuk kepentingan akademis. Sebagian lagi ditulis untuk kepentingan publikasi yang dapat dipahami oleh banyak orang. Karya tulis ini tidak terlalu banyak menggunakan istilah teknis dan menggunakan bahasa yang familiar dan populer. Karya tulis ilmiah semacam ini disebut karya tulils ilmiah populer. Sedangkan dari segi kajiannya, karya tulis ilmiah dapat diangkat dari penelitian ilmiah yang dilakukan. Tetapi sebagian lagi tidak berasal dari penelitian ilmiah, tetapi hanya gagasan konseptual atau telaah kritis.

Menurut Takedogawa (dalam http://skinhead4life-carigaragara.blogspot.com) karya tulis ilmiah terbagi atas Artikel Ilmiah Popular, Artikel Ilmiah, Disertasi, Tesis, Skripsi, Kertas Kerja, Makalah. Sementara itu menurut Maizudin (dalam http://maizuddin.wordpress.com) Macam-macam karya tulis ini disajikan dalam berbagai bentuk seperti: makalah, artikel, laporan penelitian, skripsi/tesis dan disertasi. Karya tulis ilmiah ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Semisal dalam perkuliahan kta sering menggunakan makalah sebagai salah satu tugas mata kuliah. Makalah ini merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah.
Berbeda dengan pendapat di atas Tugino (dalam http://tugino230171.wordpress.com) karya tulis ilmiah terbagi atas laporan, makalah, kertas kerja, skripsi, tesis, disertasi, resensi, kritik, esai. Berbagai macam pendapat tentang jenis-jenis karya ilmiah, namun pada dasarnya Karya ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori, dan atau bukti-bukti empirik. Ciri-ciri sebuah karya ilmiah dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta penggunaan bahasa. Jadi apabila suatu karya tulis tertentu memenuhi kriteria sebuah karya tulis ilmiah maka ia dapat dimasukkan kedalam jenis karya ilmiah

A. MAKALAH
Makalah merupakan salah satu jenis karya tulis ilmiah yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan perkuliahan makalah sering sekali digunakan. Makalah, dalam tradisi akademik, adalah karya ilmuwan atau mahasiswa yang sifatnya paling ‘soft’ dari jenis karya ilmiah lainnya. Sekalipun, bobot akademik atau bahasan keilmuannya, adakalanya lebih tinggi. Misalnya, makalah yang dibuat oleh ilmuwan dibanding skripsi mahasiswa. Makalah mahasiswa lebih kepada memenuhi tugas-tugas pekuliahan. Karena itu, aturannya tidak seketad makalah para ahli. Bisa jadi dibuat berdasarkan hasil bacaan tanpa menandemnya dengan kenyataan lapangan. Makalah lazim dibuat berdasrakan kenyatan dan kemudian ditandemkan dengan tarikan teoritis; mengabungkan cara pikir deduktif-induktif atau sebaliknya. Makalah adalah karya tulis (ilmiah) paling sederhana.

Makalah menurut Mardanu (dalam http://mrdanu.blogspot.com) adalah tulisan ilmiah yang membahas pokok masalah tertentu. Makalah lazimnya disusun untuk disajikan dalam pertemuan formal tertentu (misal:seminar), atau untuk diterbitkan dalam jurnal atau majalah ilmiah tertentu.Sebagai tulisan ilmiah, makalah mempergunakan proses berpikir ilmiah dalam pembahasan pokok masalahnya, sungguhpun tidak semua langkah berpikir ilmiah terdapat pada makalah tersebut.

Merdanu (dalam http://mrdanu.blogspot.com) menambahkan bahwa proses berpikir ilmiah terdiri atas (1) identifikasi masalah, (2) pembatasan masalah, (3) penyusunan hipotesis, (4) pengujian hipotesis, dan (5) penarikan simpulan. Kelima proses berpikir ilmiah tersebut nanti akan diuraikan penempatan dan penggunaannya dalam sistematika makalah.

Dilihat dari cara berpikir, makalah dapat dibedakan menjadi dua macam : makalah hasil berpikir deduktif dan makalah hasil berpikir induktif. Makalah hasil berpikir deduktif membahas masalah atas dasar kajian teori tertentu. Dengan kata lain makalah jenis ini menerapkan teori tertentu untuk memecahkan masalah yang dipilihnya. Jika Anda menulis makalah jenis ini, maka kita harus berangkat dari teori tertentu dan menerapkan dalam pembahasan masalah. 

Hal itu berbeda dengan makalah hasil berpikir induktif. Makalah jenis ini membahas masalah dengan menyajikan deskripsi gejala, fakta dan data dari pengamatan di lapangan. Gejala fakta dan data tersebut diperbincangkan sesuai masalah yang dipilih, kemudian disimpulkan. Simpulan itu kemudian dibandingkan dengan teori yang relevan. Jadi makalah induktif diawali oleh pengamatan empiris, pembahasan hasil pengamatan, penarikan simpulan, dilanjutkan dengan pembandingan dengan teori yang relevan.
Contoh : 
Dari pengalaman proses belajar mengajar di kelas, Anda mencatat bahwa pujian yang Anda berikan kepada siswa atas belajar mereka ternyata mengubah perilaku dan sikap mereka terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia. Siswa lebih antusias dan semangat dalam belajar bahasa Indonesia dan akhirnya hasil belajar pun semakin meningkat. Segala data, fakta, dan gejala yang berkaitan dengan pemberian pujian dan segala akibatnya anda catat. Kemudian dalam penulisan makalah Anda menggunakan data, fakta tersebut untuk membahas pengefektifan pengajaran bahasa Indonesia dengan pemberian pujia. Anda berkesimpulan bahwa pujian dapat meningkatkan efektifias pembelajaran bahasa. Simpulan itu kemudian diperbandingkan (baca : didiskusikan) dengan teori pembelajaran yang mengatakan bahwa pemberian pujian diperlukan untuk meningkatkan kemahiran bahasa si pembelajar.

B. SKRIPSI
Skripsi adalah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar sarjana (S1). Bobotnya 6 satuan kredit semster (SKS) dan dalam pengerjakannya dibantu dosen pembimbing. Dosen pembimbing berperan ‘mengawal’ dari awal sampai akhir hingga mahasiswa mampu mengerjakan dan mempertahankannya pada ujian skripsi.
Menurut UPI (dalam http://www.cs.upi.edu.com) Skripsi adalah karya tulis resmi akhir mahasiswa dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1). Skripsi menggambarkan kemampuan akademik mahasiswa dalam merancang, melaksanakan dan menyusun laporan penelitian bidang studi (baik pendidikan maupun non kependidikan).
Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain. Pendapat tersebut didukung data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung; observasi lapanagn atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga menggaransi ke arah sumbangan material berupa penemuan baru.
Berbeda dengan pendapat di atas Tugino (dalam http://tugino230171.wordpress.com) skripsi adalah karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana atau sarjana muda. Skripsi ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian.

C. Tesis
Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Pernyataan-pernyataan dan teori dalam tesis didukung oleh argumen-argumen yang lebih kuat, jika dibandingkan dengan skripsi. Tesis ditulis dengan bimbingan seorang dosen senior yang bertangungjawab dalam bidang studi tertentu.
Tesis berasal dari kata Thesis berarti pernyataan atau kesimpulan teoretis yang diajukan serta ditunjang oleh argumentasi ilmiah dan referensi-referensi yang diakui secara ilmiah, yang dibuat oleh seorang kandidat Magister. Tesis disusun oleh kandidat Magister secara mandiri pada akhir masa studi dan merupakan salah satu syarat mencapai gelar Magister. (Panduan Tesis PSMP UNTAR, 2008:1).

Tesis atau Master Thesis ditulis bersandar pada metodologi; metodologi penelitian dan metodologi penulisan. Standarnya digantungkan pada institusi, terutama pembimbing. Dengan bantuan pembimbing, mahasiswa merencanakan (masalah), melaksanakan; menggunakan instrumen, mengumpulkan dan menjajikan data, menganalisis, sampai mengambil kesimpulan dan rekomendasi.
Dalam penulisannya dituntut kemampuan dalam menggunakan istilah tehnis; dari istilah sampai tabel, dari abstrak sampai bibliografi. Artinya, kemampuan mandiri sekalipun dipandu dosen pembimbing menjadi hal sangat mendasar. Sekalipun pada dasarnya sama dengan skripsi, tesis lebih dalam, tajam, dan dilakukan mandiri.

D. DISERTASI
Menurut Tugino (dalam http://tugino230171.wordpress.com) disertasi ialah karangan yang diajukan untuk mencapai gelar doktor, yaitu gelar tertinggi yang diberikan oleh suatu univesitas. Penulisan desertasi ini di bawah bimbingan promotor atau dosen yang berpangkat profesor, dan isinya pembahasan masalah yang lebih kompleks dan lebih mendalam daripada persoalan dalam tesis.

Pencapaian gelar akademik tertinggi adalah predikat Doktor. Gelar Doktor (Ph.D) dimungkinkan manakala mahasiswa (S3) telah mempertahankan disertasi dihadapan Dewan Penguji Disertasi yang terdiri dari profesor atau Doktor dibidang masing-masing. Disertasi ditulis berdasarkan penemuan (keilmuan) orisinil dimana penulis mengemukan dalil yang dibuktikan berdasarkan data dan fakta valid dengan analisis terinci.

Disertasi atau Ph.D Thesis ditulis berdasarkan metodolologi penelitian yang mengandung filosofi keilmuan yang tinggi. Mahahisiswa (S3) harus mampu (tanpa bimbingan) menentukan masalah, berkemampuan berpikikir abstrak serta menyelesaikan masalah praktis. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.

E. Artikel Ilmiah
Menurut Pedoman Penulisan Usul Penelitian, Tesis, dan Artikel Ilmiah Program Pascasarjana UNSOED (2008 : 85) artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal ilmiah atau buku kumpulan artikel ilmiah yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah. Artikel ilmiah dapat berupa hasil penelitian maupun gagasan ilmiah (review). Hasil penelitian ataupun gagasan / pemikiran ilmiah akan lebih bermanfaat apabila telah diaplikasikan ataupun disampaikan kepada publik. Jurnal ilmiah merupakan suatu sarana yang efektif untuk mempublikasikan hasil penelitian bagi kalangan yang lebih luas atau publik.

Artikel ilmiah seyogyanya dirancang dengan menyesuaikan petunjuk penulisan jurnal yang dituju. Hampir semua jurnal ilmiah mengeluarkan petunjuk /patokan yang harus diikuti jika ingin naskah kita dimuat di dalamnya.

Jumlah halaman artikel dalam jurnal biasanya dibatasi dan umumnya tidak lebih dari 15 halaman, sudah termasuk gambar dan tabel. Dengan demikian, hanya hal-hal yang sangat perlu saja yang dapat dimuat dalam halaman yang jumlahnya terbatas tersebut. Kebanyakan jurnal tidak menghendaki Tinjauan Pustaka (Literature Review). Hal-hal yang berkaitan dengan survei pustaka dipadukan dalam Pendahuluan (Introduction Background). Pemilihan dan pemilahan menjadi amat penting dalam penulisan artikel ilmiah. Dalam banyak kasus, metode dibuat seringkas-ringkasnya oleh penulis.

F. Artikel Imiah Populer
Berbeda dengan artikel ilmiah, artikel ilmiah popular tidak terikat secara ketat dengan aturan penulisan ilmiah. Sebab, ditulis lebih bersifat umum, untuk konsumsi publik. Menurut Takedogawa (dalam http://skinhead4life-carigaragara.blogspot.com ) dinamakan ilmiah populer karena ditulis bukan untuk keperluan akademik tetapi dalam menjangkau pembaca khalayak. Karena itu aturan-aturan penulisan ilmiah tidak begitu ketat. Artikel ilmiah
popular biasanya dimuat di surat kabar atau majalah. Artikel dibuat berdasarkan berpikir deduktif atau induktif, atau gabungan keduanya yang bisa ‘dibungkus’ dengan opini penulis.
Contoh:
Kata ilmiah Kata populer
Analogi Kiasan
Anarki Kekacauan
Bibliografi Daftar pustaka
Biodata Biografi singkat
Definisi Batasan
Diskriminasi Perbedaan perlakuan
Eksentrik Aneh


G. Kertas Kerja
Menurut Takedogawa (dalam http://skinhead4life-carigaragara.blogspot.com ) Kertas kerja pada prinsipnya sama dengan makalah. Kertas kerja dibuat dengan analisis lebih dalam dan tajam. Kertas kerja ditulis untuk dipresentasikan pada seminar atau lokakarya, yang biasanya dihadiri oleh ilmuwan. Pada ‘perhelatan ilmiah’ tersebut kertas kerja dijadikan acuan untuk tujuan tertentu. Bisa jadi, kertas kerja ‘dimentahkan’ karena lemah, baik dari susut analisis rasional, empiris, ketepatan masalah, analisis, kesimpulan, atau kemanfaatannya.

H. Resensi
Resensi ialah karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah buku. Resensi yang disebut juga timbangan buku atau book review sering disampaikan kepada sidang pembaca melalui surat kabar atau majalah. Tujuan resensi ialah memberi pertimbangan den penilaian secara objektif, sehingga masyrakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut patut dibaca ataukah tidak.

I. Kritik
Menurut Curtis (1996 : 284) kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Kritik dari bahasa Yunani kritikos yang berarti `hakim’. Kritik sebagai bentuk karangan berisi penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya.

J. Esai
Menurut Wikipedia (dalam http://id.wikipedia.org) Esai adalah suatu tulisan yang menggambarkan opini penulis tentang subyek tertentu yang coba dinilainya. Esai semacam kritik yang lebih bersifat subjektif. Maksudnya apa yang dikemukakan dalam esai lebih merupakan pendapat pribadi penulisnya.

K. Laporan
Laporan menurut Tugino (dalam http://tugino230171.wordpress.com) ialah bentuk karangan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk dilaksanakan. Laporan ini disampaikan dengan cara seobjektif mungkin.

Selasa, 09 April 2013

BP_bayu pradikto: PENGERTIAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN

BP_bayu pradikto: PENGERTIAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN: BAB I PENDAHULUAN 1.1    Latar Belakang Era globalisasi adalah era yang sedang dihadapi oleh setiap bangsa pada saat ini dan ...

PENGERTIAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Era globalisasi adalah era yang sedang dihadapi oleh setiap bangsa pada saat ini dan merupakan era di mana dunia menjadi terbuka dan ini menuntut kesiapan sumber daya manusia untuk semakin sadar akan adanya keterbukaan juga menuntut kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai insan berbudaya. Pengaruh budaya global tersebut secara disadari maupun tidak, pada suatu saat akan sampai kepada setiap bangsa di dunia, tidak terkecuali bangsa Indonesia. Oleh karenanya, apapun unsur yang terkandung di dalam era global tersebut menuntut kesiapan suatu bangsa dalam menghadapinya, khususnya kesiapan sumber daya manusianya.
Suatu bukti bahwa bangsa Indonesia masih belum siap untuk bersaing dalam dunia global dapat dilihat dari kemampuan daya saing sumber daya manusianya, sebagaimana dikemukakan oleh Boediono (1997:82) dalam Suyanto dan Hisyam (2000:3) yang menyatakan bahwa berbicara kemampuan sebagai bangsa, tampaknya kita belum siap benar menghadapi persaingan pada milenium ketiga. Tenaga ahli kita belum cukup memadai untuk bersaing di tingkat Pengelolaan Sumber Daya Manusia  global. Dilihat dari pendidikannya, angkatan kerja kita saat ini sungguh memprihatinkan. Sebagian besar angkatan kerja (53%) tidak berpendidikan. Mereka yang berpendidikan dasar sebanyak 34%, berpendidikan menengah 11%, dan yang berpendidikan tinggi (universitas) hanya 2%. Padahal tuntutan dari dunia kerja pada akhir pembangunan pada jangka panjang II nanti mengharuskan angkatan kerja kita berpendidikan. Dari angkatan kerja yang ada hanya 11% saja yang tidak berpendidikan; 52% berpendidikan dasar; 32% berpendidikan menengah; dan 5% dari angkatan kerja harus telah berpendidikan universitas.
Kondisi di atas, memberikan informasi kepada kita bahwa secara tegas pendidikan yang sedang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia perlu dioptimalkan, khususnya yang menyangkut pengelolaan sumber daya manusianya. Pengelolaan sumber daya manusia ini merupakan aspek yang sangat penting untuk menunjang keberlangsungan suatu bangsa.
Untuk mengatasi hal-hal yang menyangkut mengenai permasalahan sumber daya manusia yang mampu bersaing di era globalisasi seperti saat ini, diperlukan suatu pembinaan, pengembangan dan cara-cara lain yang jitu dalam mengembangkan sumber daya manusia.


1.1   Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, muncul beberapa masalah, yaitu :
Ø     Apa yang dimaksud dengan pembinaan SDM ?
Ø     Apa saja strategi pembinaan SDM ?
Ø     Apa yang dimaksud dengan pengembangan SDM ?

1.2   Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
Ø   Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pembinaan SDM.
Ø   Untuk mengetahui apa saja strategi pembinaan SDM.
Ø   Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pengembangan SDM.
 
1.3   Metodelogi
Metodelogi yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metodelogi kepustakaan.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Pembinaan
Pengertian Pembinaan secara umum diartikan sebagai usaha untuk memberi pengarahan dan bimbingan guna mencapai suatu tujuan tertentu.
Berikut adalah isi Undang-Undang ketenagakerjaan BAB XII Pembinaan :
Pasal 161
1)  Pemerintah melakukan pembinaan terhadap segala kegiatan yang  berhubungan dengan ketenagakerjaan.
2)        Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat mengikutsertakan unsur dunia usaha dan masyarakat.
3)        Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ayat (2), dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi
Pasal 162
Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 161 diarahkan untuk :
a.       mewujudkan perencanaan tenaga kerja dan informasi ketenagakerjaan;
b.   mendayagunakan tenaga kerja secara optimal serta penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan pembangunan nasional;
c.   mewujudkan terselenggaranya pelatihan kerja yang berkesinambungan guna meningkatkan kemampuan, keahlian dan produktivitas tenaga kerja;
d.  menyediakan informasi pasar kerja, pelayanan penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan tenaga kerja pada pekerjaan yang tepat;
e.  menyelenggarakan sertifikasi keterampilan dan keahlian tenaga kerja sesuai dengan standar;
f.       mewujudkan tenaga kerja mandiri;
g.      menciptakan hubungan yang harmonis dan terpadu antara pelaku proses produksi barang dan jasa yang diwujudkan dalam Hubungan Industrial Pancasila;
h.  mewujudkan kondisi yang harmonis dan dinamis dalam hubungan kerja yang meliputi terjaminnya hak pengusaha dan pekerja; dan
i.    memberikan perlindungan tenaga kerja yang meliputi keselamatan dan kesehatan kerja, norma kerja, pengupahan, jaminan sosial tenaga kerja, serta syarat kerja.
Pasal 163
1)    Dalam rangka pembinaan, Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada orang yang telah berjasa dalam bidang ketenagakerjaan.
2)    Penghargaan sebagaimana diamksud pada ayat (1) dapat diberikan dalam bentuk piagam, tanda jasa, uang, dan/atau bentuk penghargaan lainnya.
Pasal 164
Ketentuan mengenai pelaksanaan pembinaan ketenagakerjaan yang meliputi jenis-jenis pembinaan, sasaran, keikutsertaan dunia usaha dan masyarakat, dan pemberian penghargaan, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
 

2.2  Strategi Pembinaan SDM
Strategi pembinaan pelatihan SDM diarahkan agar pelatihan kerja mampu berfungsi memenuhi tuntutan pasar kerja. Hal ini perlu dilakukan sesuai dengan tuntutan dunia kerja, perkembangan teknologi dan perkembangan pembangunan.
Strategi pelatihan kerja menggunakan pendekatan kesisteman dan dibina secara terpadu, berkesinambungan, berperan secara optimal dan menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai, terampil, disiplin dan produktif.
Dalam strategi pembinaan pelatihan dikenal adanya trilogi latihan kerja sebagai berikut :
a.         Latihan kerja harus sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan kesempatan kerja.
b.   Latihan kerja harus senantiasa mutakhir sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c.  Latihan kerja merupakan kegiatan yang bersifat terpadu dalam arti proses kaitan dengan pendidikan, latihan dan pengembangan satu dengan yang lain.
Jelas bahwa semua upaya-upaya pelatihan bermuara pada pasar kerja sehingga tidak satupun peserta latihan menjadi penganggur. Oleh karena itu didalam strategi pelatihan perlu diadakan pembaharuan-pembaharuan total pada beberapa kebijakan sebagai berikut :
a.         Mengizinkan lembaga pelatihan swasta (LPS) yang berperan bisnis.
Untuk menggalakkan pelatihan maka pemerintah sewajarnya mencari mitra usaha pelatiha yang mengusahakan berbagai jenis pelatihan terutama :
Ø  Pelatihan-pelatihan teknologi canggih
Ø  Pelatihan-pelatihan konstruksi berat
Ø  Pelatihan-pelatihan mikrochip dan elektronika tingkat tinggi
Ø  Pelatihan-pelatihan dibidang perkapalan, konstruksi dibawah air dan penerbangan.
b.        Mengadakan pelatihan bagi para sarjana untuk dapat mandiri.
Model pekerja mandiri sarjana perlu dibantu dengan tempat kerja, alat kerja, bahan kerja, model kerja dan berbagai informasi tentang pasar kerja. Sarjana-sarjana tersebut merupakan pelopor usaha mandiri (POM) yang dapat diprogramkan dengan kerja sama universitas, pemerintah, perusahaan dan pertisipasi masyarakat setempat. POM tersebut diharapkan sebagai motivator dan dinamisator dalam pembangunan didaerah. PMO merupakan kelas menengah yang dapat mencerna kebijakan pemerintah terhadap kepentingan-kepentingan masyarakat setempat dan sebaliknya, sehingga implementasi dari kebijakan pemerintah dapat sejalan dangan pasar kerja yang ada.
c.  Mengadakan  pengaturan khusus tentang latihan dasar yang diterapkan pada sekolah-sekolah formal.
       Berhubung sekolah-sekolah kejuruan jumlahnya terbatas maka perlu diadakan pengaturan khusus daengan penambahan kurikulum berupa latihan dasar tekhnik pada sekolah-sekolah formal. Hal ini terjadi pada sekolah-sekolah di jepang sehingga sekolah-sekolahtekhnik mereka sudah diarahkan padateknologi yang canggih. Lain halnya dijerman (repoblik federasi jerman) diadakan pembagian yang ketat dalam pendidikan yaitu bagi murid sekolah yang pandai diarahkan kepada sekolah Gymnasium, sedangkan bagi murid-murid yang tidak rangking diarahkan ke pendidikan Berufschule.
d.    Peraturan-peraturan baru dibidang pelatihan kerja
       memasuki era industri maka perlu diadakan peraturan-peraturan baru yang mengatur tentang :
Ø  Partisipasi lembaglembaga swasta yang bergerak dibidang pelatihan dengan memberikan kemudahan-kemudahan dan bantuan-bantuan pelatihan dibidang fasilitas kredit, pemasukan alat-alat peltihan;
Ø  Pengaturan kembali tentang penjenjangan, standardisasi, sertifikasi, uji keterampilan, akreditisasi dan lisensi;
Ø   Membuat undang-undang tentang sistem pelatihan nasional yang sejalan dengan undang-undang pendidikan nasional;
Ø   Mengatur pelaksanaan bekerja sambil belajar (kejar) khususnya untuk pekerja dibawah usia kerja (keinderarbeid) yang sudah terlanjur bekerja di suatu unit usaha karena faktor-faktor yang sangat mendesak;
Ø   Mengatur tentang perpajakan, bea, cukai, bisnis pelatihan dan tenaga asing yang dibutuhakan oleh lembaga-lembaga pelatihan;
Ø   Mengatur tentang kelembagaan pelatihan baik yang dimiliki oleh pemerintah, swata maupun lembaga keagamaan.
e.    Mengadakan kampanye nasional tentang pelatihan kerja.
Untuk dapat mementau kemajuan pelatihan, mendorong lembaga-lembaga pelatihan yang belum maju menuju suatu kualitas tertentu sehingga dapat mengangkat citra lembaga-lembaga peltihan tersebut. Untuk itu perlu diadakan bulan kampanye pelatiahan kerja dengan mengadakan pola konvensi-konvensi berupa perlombaan pelatihan, uji keterampilan secara nasional untuk mengetahui sejauh mana kemampuan unit pelatihan di Indonesia.


2.3  Pengembangan SDM
Pengembangan manajeman adalah suatu proses bagaimana manajemen mendapatkan pegalaman, keahlian dan sikap untuk menjadi atau meraih sukses sebagai pemimpin dalam organisasi mereka. Karena itu, kegiatan pengembanagn ditunjukan membantu karyawan untuk mendapat menangani jawabannya dimasa mendatang, dengan memperhatikan tugas dan kewajiban yang dihadapi sekarang.
Walaupun pelatihan dapat membantunkaryawan untuk mengerjakan pekerjaan mereka saat ini, keuntungan dari program pelatihan dapat diperoleh sepanjang karirnya dan dapat membantu peningkatan karirnya dimasa mendatang. Pengembangan, sebaliknya, dapat membantu individu untuk memegang tanggung jawab dimasa mendatang.
A.      Sasaran Pelatihan dan Pengembangan
Sasaran pelatihan yang dapat dirumuskan dengan jelas akan bermanfaat dalam :
Ø  Menjamin konsistensi dalam menyusun program pelatiha yang mencakup materi, metode, cara penyampaian, sarana pelatihan;
Ø  Memudahkan komunikasi antara penyusun program pelatihan dngan pihak yang memerlukan pelatihan ;
Ø  Memberiakan kejelasan bagi peserta tentang apa yang harus dilakukan dalam rangka mencapai sasaran ;
Ø  Memudahakan penilaian peserta dalam mengikuti pelatihan ;
Ø  Memudahkan penilaian hasil program pelatihan;
Ø  Menghidari kemungkinan konflik antara penyelenggara dengan orang yang meminta pelatihan mengenai efektivitas pelatihan yang diselenggarakan.
Tujuan dari pelatihan dan pengembangan adalah :
·           Untuk meningkatakan kuantitas output;
·           Untuk meningkatkan kualitas output;
·           Untuk mrnurunkan biaya limbah dan peraatan;
·           Untuk menurunkan jumlah dan biaya terjsdinya kecelakaan;
·           Untuk menurunkan turnover, ketidak hadiran kerja serta meningkatkan kepuasan kerja;
·           Untuk mencegah timbulnya antipati karyawan.

B.  Kebutuhan Pelatihan
Pelatihan akan berhasil jika proses mengisi kebutuhan pelatihan yang benar. Pada dasarnya kebutuhan itu adalah untuk memenuhi kekurangan pengetahuan, meningkatkan ketrampilan, atau sikap dengan masing-masing kadar yang bervariasi. Kebutuhan dapat digolongkan menjadi :
Ø  Kebutuhan memenuhi tuntutan sekarang.
Ø  Memenuhi Kebutuhan tuntutan jabatan lain.
Ø  Untuk memenuhi tuntutan perubahan.



D.  Faktor-Faktor Yang Berperan Dalam Pelatihan dan Pengembangan
Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dan berperan dalam pelatihan dan pengembangan :
      • Efektivitas biaya
      • Materi program yang dibutuhkan
      • Prinsip-prinsip pembelajaran
      • Ketepatan dan kesesuaiaan fasilitas
      • Kemampuan dan preferensi peserta pelatihan.
      • Kemampuan dan preferensi instruktur pelatihan.

E.  Metode Pelatihan dan Pengembangan
1.  On the Job Training :
On the job training adalah metode yang sudah sangat popular dalam dunia pelatihan karyawan. OJT sendiri secara definisi adalah melatih seseorang untuk mempelajari pekerjaan sambil mengerjakanya (Gary Dessler,2006:285). Pelatihan yang diberikan pada saat karyawan bekerja. Sambil bekerja seperti biasa, karyawan memperoleh pelatihan, sehingga dapat memperoleh umpan balik secara langsung dari pelatihnya (Handoko, 1989). Dilakukan oleh semua perusahaan, terutama untuk karyawan baru s/d karyawan yang berpengalaman. Keuntungannya: relatif tidak mahal, peserta pelatihan bisa belajar sambil tetap menjalankan proses produksi, tidak perlu ruang kelas khusus.
Bentuk pelatihan on the job training :
ü  Coaching/pendampingan: karyawan dibimbing, diarahkan oleh atasan / supervisor / karyawan lain yang lebih berpengalaman. Hungan mereka serupa dengan hubungan karyawan- tutor. Cara ini akan berjalan efektif apabila periode selama bimbingan dan umpan balik diperpanjang
ü  Rotasi pekerjaan: peserta pelatihan ditugaskan untuk berpindah dari satu bagian ke bagian pekerjaan yang lain dalam satu perusahaan, dengan interval yang terencana, sehingga diperoleh pengalaman kerja. Cara ini umum dipakai dalam melatih manajer dengan level manajerial apapun juga.
ü  Magang/apprenticeship training: merupakan pembelajaran bagi karyawan baru kepada karyawan lama yg lebih berpengalaman.
ü  Pelatihan Instruksi Jabatan (Job Instruction Training): diberikan untuk pekerjaan yang terdiri dari urutan langkah-langkah yang logis. Semua langkah perlu ditata dalam urutan yang tepat. Petunjuk pengerjaan diberikan secara langsung pada pekerjaan yang sedang dilakukan. Contoh sederhana: mengoperasikan mesin pintal benang.
ü  Planned progression yaitu pemindahan karyawan dalam salura-saluran yang telah ditentukan melalui tingkatan-tingkatan organisasi yang berbeda-beda.
ü  Penugasan sementara
ü  Sistem penilaian prestasi formal
2.  Off the Job Training:
Teknik pelatihan yg dilakukan di luar waktu kerja, dan berlangsung di lokasi jauh dari tempat kerja, agar perhatian peserta lebih terfokus. Peserta pelatihan menerima presentasi tentang aspek tertentu, kemudian mereka diminta memberikan tanggapan sebagaimana dalam kondisi yang sebenarnya. Dalam teknik ini juga digunakan metode simulasi.
Keuntungan Off the Job Training :

        • Trainer/ Instruktur harus lebih trampil dalam mengajar, karena tidak ada tuntutan pekerjaan yang lain.
        • Trainee/ karyawan terhindar dari kekacauan dan tekanan situasi kerja, sehingga mampu konsentrasi lebih baik/ lebih terfokus perhatiannya.
        • Tidak mengganggu proses produksi yang sedang berjalan di perusahaan.
        • Waktu dan perhatian lebih memadai

3.  Simulasi, permaian yang dapat dibagi menjadi 2 macam : simulasi yang melibatkan simulator yang bersifat mekanik ( mesin) yang mengandalkan aspek-aspek utama dalam situasi kerja, simulasi computer, keadaan yang sesuai dengan program yang ada dikomputer.
4. Studi Kasus, adalah pelatiha yang menggunakan deskripsi tertulis dari suatu permasalahan real yang dihadapi oleh perusahaan atau perusahaan lain.
5.  Role Playing, adalah metode pelatihan yang merupakan perpaduan antara metode kasus dan program pengembangan sikap.
6.  Business game, menekankan pada pengembanagan kemampuan problem solving.
7. Balai Pelatihan (Vestibule Training): Merupakan alternatif untuk mengatasi kekurangan pada metode pelatihan di tempat kerja (on the job). Jenis pekerjaan yang dilatih adalah sama dengan pelatihan di tempat kerja. Cocok digunakan bila jumlah peserta pelatihan melebihi kemampuan supervisior lini
8. Laboratorium: di mana seseorang belajar menjadi lebih sensitif terhadap orang lain,lingkungan dan sebagainya
9. Program Pengembangan Eksekutif: di mana para manajer berpartisipasi dalam program-program yang di buka untuk umum melalui penggunaan alias kaskus,simulasi,dan metode pengajaran lainya
10.Ceramah, adalah pendekatan terkenal karena menawarkan sisi ekonomis dan material organisasi, tetapi partisipasi, umpan balik, transfer dan repetisi sama rendah. Televise, film, slide dan film pendek sama dengan ceramah.
 

 
BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Pengertian Pembinaan secara umum diartikan sebagai usaha untuk memberi pengarahan dan bimbingan guna mencapai suatu tujuan tertentu.
Dalam strategi pembinaan pelatihan dikenal adanya trilogi latihan kerja sebagai berikut :
ü  Latihan kerja harus sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan kesempatan kerja.
ü  Latihan kerja harus senantiasa mutakhir sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
ü  Latihan kerja merupakan kegiatan yang bersifat terpadu dalam arti proses kaitan dengan pendidikan, latihan dan pengembangan satu dengan yang lain.
Pengembangan manajeman adalah suatu proses bagaimana manajemen mendapatkan pegalaman, keahlian dan sikap untuk menjadi atau meraih sukses sebagai pemimpin dalam organisasi mereka. Karena itu, kegiatan pengembanagn ditunjukan membantu karyawan untuk mendapat menangani jawabannya dimasa mendatang, dengan memperhatikan tugas dan kewajiban yang dihadapi sekarang.





DAFTAR PUSTAKA

Barthos, Basir. 2004. Manajemen Sumber daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara
Rivai, Veithzal. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan. Jakarta : Murai Kencana.
Winardi. 1983. Asas-Asas Manajemen. Bandung : Offset Alumni
 




 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!