Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 18 November 2015

EDUCATION FOR ALL DI INDONESIA



Hakekat Education for All
Hakekat dari “Education for All” pada intinya adalah mengupayakan agar setiap warga negara dapat memenuhi haknya, yaitu layanan pendidikan. Pembelajaran  untuk semua merupakan wujud pembelajaran yang menyangkut semua usia entah itu dewasa, orang tua maupun anak-anak yang bertujuan agar lebih mengerti tentang sesuatu. Seperti yang dikemukakan Paulo Freire bahwa pendidikan tidak boleh dibatasi hanya untuk golongan elite dengan mengesampingkan golongan menengah ke bawah sebagai kaum tertindas. Usaha pendidikan menurut Freire, harus melepaskan diri dari kecenderungan hegemoni dan dominasi. Karena pendidikan yang memiliki karakteristik hegemonik dan dominatif tidak akan pernah mampu membawa rakyat pada pemahaman diri dan realitasnya secara utuh. Semua orang yang hidup berhak memperoleh pendidikan, inilah yang disebut konsep pendidikan “education for all”.
Pendidikan untuk semua telah menjadi komitmen global untuk menyediakan pendidikan dasar yang berkualitas bagi semua anak muda, anak-anak, maupun orang dewasa. Pendidikan untuk Semua atau Education for All (EFA) adalah gerakan global yang dipimpin oleh UNESCO, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar semua anak, remaja dan orang dewasa pada tahun 2015.  UNESCO telah diamanatkan untuk memimpin gerakan dan mengkoordinasikan upaya-upaya internasional untuk mencapai tujuan EFA. Untuk dapat mewujudkan EFA, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warga negara secara individual, secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskannya sesuai dengan potensi dan kapasitas masing-masing.
Sejarah Terbentuknya Education for All (EFA)
Semua negara di dunia merasa perlu untuk menjamin terselenggaranya Education for All bagi setiap warga negaranya. Pendidikan merupakan hal penting bagi kehidupan manusia. Latar belakang sejarah terbentuknya EFA adalah :
a)      Sekitar 40 tahun yang lalu bangsa-bangsa di dunia membicarakan deklarasi universal Hak Asasi Manusia yang menegaskan “setiap orang memiliki hak untuk pendidikan”. Namun dalam menjamin hal tersebut masih banyak kendalanya.
b)      Pada 5-9 Maret 1990 di Jomtien, Thailand 115 negara dan 150 organisasi mengadakan konferensi dunia membahas Education for All (EFA).
c)      Masyarakat Internasional menegaskan kembali komitmennya terkait Education for All (EFA) di Dakar, Senegal pada 26-28 April 2000. Pada pertemuan terakhir 189 negara membicarakan tujuan pendidikan yang dikenal dengan Milenium Development Goals mengenai pendidikan dasar universal (MDG2) dan kesetaraan gender (MDG3) pada pendidikan 2015.
Kendala Penerapan Education for All (EFA)
Semua bangsa di dunia berupaya untuk menjamin pendidikan untuk semua bagi setiap warganya. Meskipun negara-negara tersebut terus mengupayakan untuk menjamin pendidikan untuk semua, tetapi masih saja ditemukan kendala. Beberapa kendala tersebut antara lain :
  1. Lebih dari 100 juta anak-anak, termasuk setidaknya 60 juta anak-anak, tidak memiliki akses terhadap pendidikan dasar. 
  2. Lebih dari 960 juta orang dewasa, dua pertiga di antaranya adalah perempuan yang buta huruf, dan buta huruf adalah masalah yang signifikan di semua negara, termasuk di negara industri dan berkembang. 
  3. Lebih dari sepertiga orang dewasa di dunia tidak mendapatkan pengetahuan tertulis, keterampilan, dan teknologi baru yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan membantu mereka dalam beradaptasi menghadapi perubahan sosial dan budaya 
  4. Lebih dari 100 juta anak-anak dan orang dewasa yang tak terhitung, gagal untuk menyelesaikan program pendidikan dasar 
  5. Jutaan orang telah memenuhi persyaratan untuk memperoleh pendidikan, namun mereka tidak memperoleh pengetahuan dan keterampilan esensial.

Selain permasalahan di atas, masih banyak masalah-masalah lain yang menghambat upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar dasar. Masalah terkait kemunduran ekonomi, pertumbuhan penduduk yang cepat, kesenjangan ekonomi antar bangsa, adanya konflik dan perang saudara serta berbagai bentuk tindakan kejahatan dan kekerasan (kriminal) telah menyebabkan kemunduran besar dalam pendidikan dasar pada 1980-an di banyak negara sedang berkembang. Di beberapa negara lain, pertumbuhan ekonomi telah tersedia untuk membiayai perluasan pendidikan, namun meskipun demikian, banyak jutaan tetap dalam kemiskinan, tidak mampu bersekolah atau buta huruf. Di negara-negara industri tertentu juga, penghematan dalam pengeluaran pemerintah selama tahun 1980-an telah menyebabkan kemerosotan pendidikan.
Komitmen Education for All (EFA) 
Dalam rangka memenuhi education for all, EFA memiliki beberapa komitmen yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertendtu, diantaranya:
  1. Memperluas dan meningkatkan perawatan anak usia dini yang komprehensif dalam pendidikan. 
  2. Memastikan bahwa pada 2015 semua anak di dunia tanpa terkecuali memiliki akses lengkap dan bebas ke wajib pendidikan dasar yang berkualitas baik. 
  3. Memastikan bahwa kebutuhan belajar semua pemuda dan dewasa dipenuhi melalui akses yang adil untuk pembelajaran yang tepat dan program ketrampilan hidup. 
  4. Mencapai 50% peningkatan dalam keaksaraan orang dewasa pada tahun 2015, khususnya bagi perempuan, dan akses ke pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa secara adil. 
  5. Menghilangkan perbedaan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005, dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan dengan tahun 2015, dengan fokus pada perempuan bahwa mereka dipastikan mendapat akses penuh dan sama ke dalam pendidikan dasar dengan kualitas yang baik. 
  6. Meningkatkan semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulan semua sehingga diakui dan diukur hasil pembelajaran yang dicapai oleh semua, khususnya dalam keaksaraan, berhitung dan kecakapan hidup yang esensial.

Upaya Mencapai Education for All (EFA)
Untuk mencapai komitmen Education for All (EFA) seperti yang diharapkan maka diperlukan upaya-upaya antara lain sebagai berikut :

  1. Menyediakan dan menambah dana pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menyekolahkan anak-anak di dunia. 
  2. Meningkatkan kualitas pendidikan dengan pelatihan dan perekrutan guru profesional antara sekarang dan 2015, sehingga semua anak memiliki kesempatan untuk belajar di kelas. 
  3. Mendorong pemerintah untuk mendefinisikan dan mengukur standar minimal pembelajaran, sebagai tonggak utama terhadap peningkatan hasil pembelajaran dan strategi yang lebih luas untuk menjamin kualitas pendidikan di sekolah-sekolah, sehingga peserta didik terus mengembangkan keahlian yang dibutuhkan untuk pekerjaan dan kontribusi untuk ekonomi produktif. 
  4. Menjangkau semua anak dengan mengembangkan strategi-strategi baru untuk mencapai sulit dijangkau anak-anak dalam konflik, di daerah terpencil, dan dari kelompok-kelompok didiskriminasi.
  5.  Memperluas kesempatan pendidikan pada semua tingkatan, termasuk perawatan anak usia dini dan pengembangan, pendidikan menengah dan penyediaan kesempatan kedua belajar bagi mereka melalui pendidikan non-formal dan program keaksaraan orang dewasa  
  6. Menjamin bahwa anak-anak memiliki cukup untuk makan dan untuk belajar mengembangkan kesehatan melalui penyediaan makanan sekolah 
  7. Mendorong pemerintah nasional untuk mempersembahkan paling sedikit 20% dari anggaran nasional untuk pendidikan dan untuk menghapuskan biaya yang mencegah begitu banyak anak-anak dari pergi ke sekolah.
Education for All di Indonesia
Indonesia telah mengalami kemajuan di bidang pendidikan dasar dalam 20 tahun terakhir ini. Terbukti rasio bersih anak usia 7-12 tahun yang bersekolah mencapai 94 persen. Tapi Indonesia tetap belum berhasil memberikan jaminan hak atas pendidikan bagi semua anak. Apalagi, masih banyak masalah yang harus dihadapi, masalah tersebut antara lain:
  1. Masih banyaknya anak putus sekolah. 
  2. Kualifikasi dan kompetensi tenaga pengajar masih kurang. 
  3. Metode pengajaran yang tidak efektif yang masih berorientasi kepada guru dan anak didik tidak diberi kesempatan memahami sendiri. 
  4. Manajemen sekolah yang buruk dan minimnya keterlibatan masyarakat. 
  5. Kurangnya akses pengembangan dan pembelajaran usia dini bagi sebagian anak-anak yang tinggal di pedalaman dan pedesaan. 
  6. Biaya pendidikan yang tinggi disertai alokasi anggaran dari pemerintah daerah dan pusat yang tidak memadai.
Untuk mencapai tujuan Education for All, pemerintah Indonesia dibantu oleh UNICEF dan UNESCO melakukan kegiatan-kegiatan antara lain:
a.       Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat
UNICEF mendukung langkah-langkah pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses pendidikan dasar melalui Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat. Sistem ini memungkinkan penelusuran semua anak usia di bawah 18 tahun yang tidak bersekolah.
b.      Program Wajib Belajar 9 tahun
Dalam upayanya mencapai tujuan “Pendidikan untuk Semua” pada 2015, pemerintah Indonesia saat ini menekankan pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun bagi seluruh anak Indonesia usia 6 sampai 15 tahun. Dalam hal ini, UNICEF dan UNESCO memberi dukungan teknis dan dana.
c.       Program Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak (CLCC).
Bersama dengan pemerintah daerah, masyarakat dan anak-anak di delapan propinsi di Indonesia, UNICEF mendukung program Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak (CLCC).
Sementara kondisi yang terjadi di lapangan tak sepenuhnya sesuai dengan yang diharapkan dimana masyarakat justru dirugikan dengan adanya Education for All (EFA). Beberapa kondisi yang terjadi antara lain:
  1. Menjelang tahun ajaran baru masyarakat golongan menengah ke bawah gelisah memikirkan masa depan pendidikan anak-anaknya mengingat biaya pendidikan yang semakin mahal dari tahun ke tahun. Anak-anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ini kemungkinan besar akan menjadi buruh, atau hanya menambah jumlah penganggur. 
  2. Mereka yang mengecap pendidikan dijadikan sebagai sekrup mesin kolonialisme. 
  3. Pendidikan yang seharusnya menjadi milik publik, tetapi kenyataannya telah berada di bawah kepentingan politik dan bisnis (ekonomi). 
  4. Dunia pendidikan dikendalikan oleh selera penguasa dan pemilik modal demi kepentingan sesaat. Kepentingan sesaat yang mengaburkan visi pendidikan nasional sehingga dalam pelaksanaannya tidak terarah lagi sesuai konstitusi, menyebabkan biaya pendidikan semakin mahal, diskriminasi pendidikan, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan. 
  5. Dengan mengatasnamakan demi kualitas, menjamurlah sekolah-sekolah elite yang memungut biaya yang sangat mahal dari orang tua siswa. RSBI dan SBI yang tertutup bagi siswa miskin.

Rabu, 11 November 2015

SIFAT-SIFAT WIRAUSAHA



SIFAT-SIFAT YANG PERLU DIMILIKI WIRAUSAHA

Dalam dunia wirausaha sebenarnya ada beberapa jalan masing-masing orang dalam meraih kesuksesan, baik itu yang timbul dari diri sendiri maupun pengaruh dari lingkungan. Cara untuk mancapainya kesuksesan pun tidak bisa datang begitu saja, namun membutuhkan proses. Prosesnya itulah  yang menjadikan kita benar-benar tanguh dalam memilih jalan untuk berwirausaha atau proses itu juga bisa membuat kita menyerah. Dalam proses yang dilewati tersebut, kita harus mampu membaca peluang pasar dan memiliki intuisi untuk mendapatkan keuntungan yang halal untuk menuju kesuksesan yang hakiki.
Menurut buku yang pernah saya baca, yaitu dari Thomas Zimmerer yang intinya mengatakan bahwa kewirausahaan itu bukanlah sifat genetis, melainkan suatu ketrampilan yang dapat dipelajari dan setiap orang bisa bisa memiliki sifat kewirausahaan asalkan memang benar-benar mau mempelajarinya. Ternyata bila ingin menjadi wirausahawan yang baik maka ada sifat-sifat yang harus dimiliki, berikut saya akan menjelaskan tentang hal itu berdasarkan sudut pandang penulis dan beberapa referensi.
A.           Percaya Diri
Percaya diri merupakan sikap yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha. Percaya diri dalam hal ini adalah tidak mudah terbawa arus dan hanya mengikuti trend saat ini tanpa memiliki bekal tekat yang kuat. Percaya diri juga mampu mengambil jalan sesuai dengan pendapat dan insting berwirausaha dan mampu menerima setiap kritikan dan saran untuk membangun dan memperkokoh landasan untuk berwirausaha.
Adapun watak yang harus dimiliki oleh wirausaha terkait dengan percaya diri adalah : 1) Kepercayaan, dalam hal ini kita harus yakin terlebih dahulu dengan jalan yang akan kita pilih ini yaitu berwirausaha. 2) Ketidaktergantungan, yaitu memiliki kepribadian yang mantap, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, mandiri baik secara lahir dan batin yaitu kita sudah bisa survive dengan berwirausaha tanpa ada tekanan dan mampu menjaga dengan baik kualitas dan yang paling penting kita mampu menjaga diri kita dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dalam kegiatan jual beli atau berwirausaha. 3) Optimisme, yaitu suatu keyakinan bahwa suatu saat nanti kita akan berhasil. Berhasil dalam hal ini adalah berhasil di dunia dan di akhirat. Berhasil di dunia ialah kita bisa hidup sejahtera, bukan mengejar-ngejar uang tanpa memikirkan hal-hal yang peting dalam hidup apalagi sampai kehidupan sosial terganggu karena kesibukan mencari uang. Semuanya harus balance, ada kepedulian sosial, mau menolong sesama dan yang paling penting dekat dengan sang pencipta, maka Insya Allah kita akan memperoleh keberhasilan yang hakiki dalam berwirausaha.
B.            Berorientasi Tugas dan Hasil
Dalam hal ini orang tidak mengutamakan prestise atau gengsi dahulu, namun lebih mementingkan prestasi dahulu. Nanti apabila sudah berprestasi maka prestise akan mengikutinya sendiri. Apabila kita mau terjun didunia wirausaha maka singkirkanlah gengsi atau malu yang seolah-olah minder untuk melakukan hal-hal yang kecil dan terkesar kerja rendah. Saya menyakini bahwa setiap langkah besar itu dimulai dengan satu langkah kecil, dalam hal ini apabila kita ingin sukses tentulah tidak instan ada langkah-langkah yang harus dilakukan mulai dari hal-hal yang kecil. Sebagai contoh, saat kita mau memulai usaha, sebagai salah satu cara untuk mendatangkan pelanggan, maka kita melakukan promosi. Promosi tidak mesti mewah-mewah disiarkan di TV atau radio, mungkin bisa kita lakukan dengan membagikan selebaran kertas kecil kepada warga calon konsumen kita, bahkan kita menempelkan selebaran ditempat-tempat strategis tanpa ada rasa malu untuk mempromosikan barang/jasa tersebut.
Adapun watak yang harus dimiliki oleh wirausaha terkait dengan berorientasi tugas dan hasil adalah : 

  1. Haus akan prestasi, maksudnya kita harus menunjukkan kwalitas barang/jasa, kualitas layanan dan memberikan yang maksimal agar orang terkesan dan memperhitungkan barang/jasa yang kita tawarkan. 
  2. Berorientasi pada laba dan hasil, maksudnya jelas bahwa kita berwirausaha untuk menghasilkan laba/keuntungan. Keuntungan dalam hal ini walaupun untungnya kecil namun rutin barang/jasa yang kita tawarkan itu banyak yang meminati daripada sekali untung besar namun sepi. 
  3. Tekun dan tabah, sangat jelas bahwa ketekunan itulah yang akan membawa kita untuk mampu bersaing, tidak mudah putus asa dan tidak takut akan kegagalan serta selalu tawakal kepada sang pencipta. Ada yang pernah bilang dengan saya bahwa, “Bila Tuhan menggariskan kegagalan kamu 10 kali, maka kamu harus menghabiskan kegagalan itu dengan mencobanya sebanyak 11 kali untuk berhasil”. 
  4. Tekad, kerja keras dan motivasi, jelas hal ini harus dimiliki oleh seorang wirausaha karena tekad yang bulat dalri dalam diri yang menuntut keyakinan diri serta diiringi dengan pantang menyerah merupakan komponen yang akan membuat kita bisa mandiri dan eksis dijalur yang kita pilih ini. Sedangkan motivasi merupakan bentuk dasar dari diri yang muncul dari diri sendiri (intrinsik) dan dari luar diri (ekstrinsik). Contoh dari motivasi yang mucul dari dalam diri sendiri adalah tanggung jawab. Dengan tanggung jawab kita akan fokus pada tujuan kita karena ada beban tersendiri yang kita pikul, bisa jadi itu tanggung jawab kepada keluarga, anak, istri dan lain-lain. Sedangkan contoh motivasi dari luar diri adalah adanya orang yang sudah sukses berwirausaha. Tentunya dengan melihat orang yang sudah sukses maka kita dapat mengambil hikmah dari kesuksesannya. 
  5. Energik, dalam hal ini seorang wirausaha harus mampu aktif dan mampu membaca peluang dan segera membuat strategi jitu. Jadi seorang wirausaha harus mampu mengupdate berita dan perkembangan zaman dan mau mempelajari hal-hal baru dan tidak sombong akan ilmu yang dimilikinya. 
  6. Penuh inisiatif, yaitu mampu menghasilkan ide-ide baru memiliki daya pikir kreatif, alternatif-alternatif jitu bila terjadi hal-hal yang diluar prediksi awal.

C.           Pengambilan Resiko
Dalam berwirausaha tentu ada resiko-resiko yang harus ditanggung, namun semua itu harus dilalui dan jadikan sebuah tantangan sebelum kita benar-benar sukses. Tantangan dalam hal ini bisa berupa persaingan, harga yang turun naik, barang yang tidak laku dan sebagainya. Mengapa persangaingan bisa membuat kita bisa sukses dalam berwirausaha? Menurut saya karena dengan persaingan mampu memacu kita untuk semakin kreatif, inovatif dan survive dengan bidang yang kita geluti apabila kita benar-benar serius. Contoh, mengapa para tukang fotokopi banyak dan sangat menjamur dikawasan dekat kampus UPI (sepanjang jalan Geger Kalong)? Padahal sudah banyak fotokopi yang buka, tapi mengapa mereka tidak berfikir untuk membuka usaha fotokopi dikawasan pegunungan atau didekat lokasi objek wisata yang jelas-jelas persaingannya sedikit bahkan tidak ada? Jawabannya karena memang pangsa pasar terbesarnya ada disana, yaitu mahasiswa, pelajar dan para akademisi yang membutuhkan jasa fotokopi tersebut walaupun sudah banyak saingan, tapi tetap saja ramai dan dibutuhkan.
D.           Kepemimpinan
Kalau boleh saya mengibaratkan, pemimpin itu bagaikan burung elang yang mana mampu terbang lebih tinggi dari burung-burung yang lain. Jadi bila pemimpin habat itu yang memiliki visioner yang jauh ke depan dan bila bekerja tidak kenal kata menyerah.
Berikut saya tampilkan sebuah gambar yang dapat menjadi pimikiran kita semua tentang seorang pemimpin.


Sumber : google image

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pemimpin yang baik itu iyalah yang menjadi panutan, mampu memotivasi bawahan dan rekan kerja, mampu mengambil keputusan yang bijaksana, berfikir positif, mau bekerja keras, dapat bergaul dengan orang lain dengan baik, mau menerima kritik dan saran yang positif dan memiliki ambisi yang kuat untuk sukses.
Dalam hal ini saya mengambil contoh sosok pemimpin seperti bapak mantan presiden B.J. Habibie, selama beliau menjadi presiden ia hanya tidur sehari 4-5 jam dan selebihnya dipakai untuk bekerja. Bukti kerja keras beliau yaitu ketika mampu membangun industri Dirgantara di Indonesia, sehingga Indonesia dikenal diseluruh dunia sebagai salah satu negara yang mampu memproduksi pesawat terbang. Walaupun sosok B.J. Habibie bukanlah seorang pebisnis handal, namun karya beliau mampu menghidupkan dan mensejahterakan banyak orang, inilah pemimpin yang berjiwa bisnis.
E.            Keorisinilan
Orisinil dari arti bahwa wirausaha itu harus mampu memberikan pendapat sendiri, ide sendiri tanpa mengekor pada orang lain. Ciri keorisinilan itu bisa dilihat dari inovasi yang dimunculkan dari suatu produk/jasa. Jadi dapat dikatakan apa yang membuat produk/jasa yang kita tawarkan berbeda dengan orang lain. Bisa saja perbedaan itu terletak pada layanan kita, kemasan kita, bahkan bisa saja cara kita memasarkannya atau cara kita dalam promosi. Bila dilihat dari kreatifitas yaitu cara kita manjalankan inovasi tadi dengan cara kita sendiri, sehingga apa yang kita tawarkan kepada konsumen benar-benar sampai dengan baik. Mulai dari proses promosi, penawaran, distribusi hingga kita mengevalusinya nanti.
Supaya kita mampu menghasilkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru yang kreatif dan inovatif maka seorang wirausaha haruslah memiliki kemampuan yang serba bisa dan mengetahui banyak hal khususnya dibidang yang ia geluti saat ini. Misalnya, kita berwirausaha dalam penjualan pakaian. Maka kita sebagai penjual harus mengetahui trend baju apa yang lagi digandrungi oleh anak-anak muda pria dan wanita saat ini baik untuk santai, sport maupun formal. Kemudian kita juga harus tahu harga pasaran barang/jasa ini supaya harga tetap bersaing. Maksud dari serba bisa, karena sekarang sudah zaman canggih maka kita harus melek teknologi, menggunakan media sosial untuk berjualan bisa melalui BBM, Instagram, Facebook, Twitter atau menggunakan penyedia jasa jual online seperti Tokopedia, Olx, Kaskus dan lain-lain.
F.            Berorientasi ke Masa Depan
Wirausawan haruslah memiliki pandangan ke depan atau visioner. Bagaimana usahanya dalam beberapa tahun ke depan, apasaja yang perlu dikembangkan dan bagaimana perubahan-perunahan pasar, itu semua harus menjadi bahan pertimbangan oleh wirausaha. Selain itu, seorang wirausaha harus memiliki perspektif yaitu langkah-langkah yang konkret dan jelas untuk masa depannya nanti. Maksudnya ialah sudah memiliki analisis data akan penjualan barang/jasa dan sudah memiliki alternatif-alternatif pemecahan masalah.
G.           Hubungan yang Baik dengan Sang Pencipta
Sebenarnya bagian ini tidak ada dalam buku pokok mata kuliah, namun menurut penulis hal ini merupakan bagian yang sangat penting. Selain kita mengejar duniawai, jangan melupakan hubungan kita dengan Allah SWT. Kita berwirausaha untuk mendapatkan ketenangan lahir dan batin tanpa ditakuti rasa bersalah dan rasa dengki dengan dekat pada-Nya. Mampu menjadi tembok kita dalam berwirausaha agar tidak menyimpang dari ajaran-ajaran agama.

Dari penjabaran diatas, dapat penulis simpulkan bahwa sifat-sifat yang harus dimiliki oleh wirausaha adalah yang berhubungan dengan diri sendiri yaitu : percaya diri, pengamilan resiko. Kemudian yang berhubungan dengan orang lain, yaitu : berorientasi pada tugas dan hasil, memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki sifat orisinil untuk menjadi kreatif dan inivatif, dan berorientasi pada masa depan. Sedangkan yang berhubungan dengan Sang Pencipta yaitu rasa memiliki tanggung jawab terhadap-Nya, karena apa yang kita lakukan saat ini akan mendapat balasan dikemudian hari.



DAFTAR REFERENSI


Alma. Buchari. 2013. Kewirausahaan. Bandung : Alfabeta
Fahmi, Faisal. 2013. Kewirausahaan, Teori, Kasus dan Solusi. Bandung : Alfabeta
 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!