Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 21 Maret 2016

ANALISIS SWOT DALAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH




Dalam penyelenggaraan program pendidikan non formal, pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan yang bertujuan untuk dapat memberikan layanan pendidikan yang profesional. Berikut saya akan menjelaskan pendapat mengenai implementasi UU Sisdiknas dalam mendorong kemajuan pengembangan pendidikan luar sekolah dilihat dari analisis SWOT :


Mengadopsi dari analisis SWOT dalam buku kewirausahaan (Irham Fahmi, 2013:345) menjelaskan bahwa SWOT adalah singkatan dari Strengths (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (Ancaman). Berikut pendapat saya mengenai pengembangan pendidkan luar sekolah dalam analisis SWOT :
Strengths (Kekuatan), kekuatan program-program PLS yaitu : 1) PNF menjawab kebutuhan masyarakat akan “haus” pendidikan karena kelemahan yang terjadi pada pendidikan formal. 2) PLS berpijak atas dasar kebutuhan masyarakat yang benar-benar nyata berada ditengah-tengah masyarakat. 3) Programnya disesuaikan dengan situasi, kondisi dan budaya lokal masyarakat. 4) Karakteristik sebagai wahana pendidikan non-formal yang memiliki sifat fleksibel, serta adanya 3 dimensi pembelajaran, usaha, dan pengembangan masyarakat memungkinkan beradaptasi dengan beragam kebutuhan, keunikan dan kepentingan. 5) Diakuinya Lembaga-lembaga PNF dalam Undang-Undang Sisdiknas sebagai satuan pendidikan non formal. 6) Adanya anggaran pemerintah baik dari pusat maupun daerah untuk mendukung. 7) Adanya Forum PNF baik bersifat Regional, Nasional maupun internasional. 8) Adanya Jurusan/Program Studi Pendidikan Luar Sekolah di Perguruan Tinggi yang berdampak langsung untuk memajukan PLS itu sendiri pada daerah yang memiliki jurusan PLS.
Weakness (kelemahan), kelemahan PLS antara lain : 1) Masih ada masyarakat, birokrasi pemerintah, stakeholder terkait yang belum mengenal dengan baik kiprah PLS di lingkungan masyarakat dan pemerintahan. 2) Bermunculan stigma-stigma negatif tentang PNF pada lembaga-lembaga penyelenggaranya, misalnya PKBM. Bahwa keberadaannya hanya untuk mendapatkan dana dari pemerintah untuk PNF namun dijalankan “asal-asalan” bahkan ada yang fiktif. 3) masih banyaknya stakeholde yang terlalu mengkredilisasikan pendidikan nonformal dan lebih mementingkan pendidikan formal yang berorientasi ijazah.
Opportunity (Peluang), peluang-peluang yang ada di PLS yaitu : 1) semakin carut marut pendidikan formal, maka pendidikan nonformal akan menjadi alternatif. 2) keberadaan PNF mampu menjangkau warga yang tidak terlayani pendidikan formal hingga pelosok nusantara. 3) Adanya tiga dimensi dalam progam PNF yaitu pembelajaran, usaha dan pengembangan masyarakat memungkinkan untuk menarik partisipasi masyarakat dan dukungan lembaga-lembaga donor yang lebih luas. 4) Adanya komitmen global dalam MDGs (Millenium Development Goals) yang implementasinya di tingkat akar rumput sebagian besar merupakan ruang cakupan PNF. 5) Adanya komitmen global tentang Education For All dan Life long Learning yang sebagian besar merupakan ruang cakupan PNF. 6) berlakunya kebijakan tentang CSR (Corporate Social Responsibility) untuk kemajuan pendidikan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat yang jumlah alokasi dananya cukup besar dan bersifat konsisten. 7) mulai banyak bantuan-bantuan dari internasional untuk persoalan-persoalan pendidikan, pengentasan kemiskinan dan pengembangan masyarakat. 8) Pendidikan Non Formal diatur langsung dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 yang menjadi payung hukum kuat untuk menjalankannya.
Threat (Ancaman), ancaman-ancaman pada pendidikan luar sekolah : 1) Adanya potensi konflik diantara berbagai lembaga yang bertanggungjawab membina dan mengembangkan program PNF, misalnya antara Sub-Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten, SKB, BPKB, Sub Dinas Pendidikan Propinsi, BPPLSP, FK-PKBM Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat yang apabila tidak disikapi secara dewasa dapat menimbulkan usaha-usaha kontra produktif bagi gerakan untuk memajukan Program PNF dan adanya beberapa oknum yang merasa terancam akan adanya gerakan-gerakan PNF yang murni dan kuat sehingga membuat langkah-langkah perlawanan yang dapat menghambat gerak maju agar oknum-oknum tersebut tidak kehilangan ‘keuntungan’ dari ‘manipulasi’ dan KKN proyek PNF.

DAFTAR PUSTAKA

Fahmi, Irham. 2014. Kewirausahaan, Teori, Kasus dan Solusi. Bandung : Alfabeta
Ihat, dkk. 2011. Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka
Muhammad, Hamid. 2009. Pendidikan Masyarakat Untuk Pemberdayaan. Departeman Pendidikan Nasional : Direktorat Pendidikan Masyarakat
Permendiknas No. 23. 2006. Tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta : Balitbang Depdiknas
Sinamo, Nomersen. 2014. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta : Permata Aksara
Suryadi, Ace. 2014. Pendidikan Indonesia Menuju 2025. Bandung : Remaja Rosdakarya Offset
Taufik, A. 2002. Pendidikan Anak di SD. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang Nomor 20. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Balitbang Depdiknas
Undang-Undang Nomor 52. 2009. Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
Waskito, AA. 2009. Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Wahyu Media

Sumber lain :
4.         https://www3.nd.edu/~rbarger/www7/compulso.html                                                   
6.         www.unicef.org/crc/
8.         http://education.stateunivers
 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!