Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 20 Maret 2016

TEORI PERUBAHAN SOSIAL



TEORI PERUBAHAN SOSIAL

1.     Pengertian
Perubahan sosial adalah suatu bentuk peradaban umat manusia akibat adanya eskalasi perubahan alam, biologis, fisik yang terjadi sepanjang kehidupan manusia.
2.      Proses perubahan sosial
Menurut Roy Bhaskar (1984), perubahan sosial biasanya terjadi secara wajar (natural), gradual, bertahap serta tidak pernah terjadi secara radikal atau revolusioner. Proses perubahan sosial meliputi :
a.         Proses reproduction, adalah mengulang-ulang, menghasilkan kembali segala hal yang diterima sebagai warisan budaya yang kita miliki. Warisan budaya dalam kehidupan keseharian meliputi ; material (kebendaan, teknologi) dan immaterial (non benda, adat, norma, dan lain-lain)
b.        Proses transpormation, adalah suatu proses penciptaan hal yang baru yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berubah adalah aspek budaya yang sifatnya material, sedangkan yang sifatnya norma dan nilai sulit sekali diadakan perubahan (bahkan ada kecenderungan untuk dipertahankan). Contohnya orang Jawa, memakai pakaian dengan stelan dasi dan jas, tetapi nilai kehidupannya tetap Wonogiri. Hal ini menunjukkan bahwa budaya yang tampak (material) lebih mudah diubah, tetapi sikap hidup adalah menyangkut nilai-nilai yang sikar untuk dibentuk kembali.
3.      Teori perubahan sosial menurut ahli
a.         Karl Marx
Menurut teori ini, konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl Marx yang menyebutkan bahwa konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial.
Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas di masyarakat. la yakin bahwa konflik dan pertentangan selalu ada dalam setiap bagian masyarakat. Menurut pandangannya, prinsip dasar teori konflik yaitu konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat dalam struktur masyarakat.

b.        Max Weber
Pada dasarnya melihat perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat dari pergeseran nilai yang dijadikan orientasi kehidupan masyarakat. Dalam hal ini dicontohkan masyarakat Eropa yang sekian lama terbelenggu oleh nilai Katolikisme Ortodoks, kemudian berkembang pesat kehidupan sosial ekonominya atas dorongan dari nilai Protestanisme yang dirasakan lebih rasional dan lebih sesuai dengan tuntutan kehidupan modern.

c.         Emile Durkheim
Melihat perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari faktor-faktor ekologis dan demografis, yang mengubah kehidupan masyarakat dari kondisi tradisional yang diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat modern yang diikat oleh solidaritas organistik.

4.      Faktor-faktor penyebab perubahan sosial
Ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan sosial dalam dua golongan besar yaitu sebagai berikut :
a.         Faktor internal
1)      Bertambahnya atau berkembangnya penduduk
Pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat dapat menyebabkan perubahan dalam struktur masyarakat seperti munculnya kelas sosial yang baru dan profesi yang baru.
Berkurangnya penduduk mungkin disebabkan karena berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dari daerah ke daerah lain (transmigrasi).
2)      Adanya penemuan baru
Pada setiap masyarakat selalu ada sejumlah individu yang sadar akan kekurangan kebudayaan masyarakatnya. Mereka terdorong untuk memperbaiki dan menyempurnakannya melalui penemuan baru.
3)      Pertentangan konflik masyarakat
Pada masyarakat yang heterogen dan dinamis, pertentangan-pertentangan mungkin saja terjadi antara individu dan kelompok-kelompok tertentu.
Pada masyarakat Batak dengan sistem patrilineal murni, terdapat adat istiadat bahwa apabila suami meninggal, keturunannya berada di bawah kekuasaan keluarga almarhum. Dengan terjadinya proses individualisasi terutama pada orang-orang Batak yang pergi merantau, maka terjadi penyimpangan. Anak-anak tetap tinggal bersama ibunya, walaupun hubungan antara si ibu dengan keluarga almarhum suaminya telah terputus karena suaminya telah meninggal. Perubahan tersebut telah membawa perubahan besar pada keluarga batih dan kedudukan wanita, yang selama ini dianggap tidak mempunyai hak apa-apa jika dibandingkan dengan laki-laki.
4)      Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi
Perubahan yang terjadi secara cepat dan mendasar yang dilakukan oleh individu atau kelompok akan berpengaruh besar pada struktur masyarakat.
Biasanya hal ini diakibatkan karena adanya kebijaksanaan atau ide-ide yang berbeda. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi system diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan Negara hingga tatanan dalam keluarga.
5)      Ideologi
Ideologi bisa diartikan sebagai seperangkat kepercayaan, nilai, dan norma yang saling berhubungan yang dapat mengarahkan pada tujuan tertentu.

b.        Faktor Eksternal
1)      Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia
Penyebab perubahan yang bersumber dari lingkungan alam fisik kadang kala disebabkan oleh masyarakat itu sendiri. Misalnya, terjadinya bencana alam, seperti banjir, longsor, atau gempa bumi.
2)      Peperangan
Peperangan antara satu negara dan negara lain bisa menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan, baik pada lembaga kemasyarakatan maupun struktur masyarakatnya. Biasanya dalam perang, negara yang menang akan memaksakan kebudayaannya pada negara yang kalah. Contohnya negara-negara yang kalah pada Perang Dunia Kedua mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatannya.
3)      Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain
Di zaman yang semakin terbuka, tidak ada negara atau masyarakat yang menutup dirinya dari interaksi dengan bangsa atau masyarakat lain. Interaksi yang dilakukan antara dua masyarakat atau bangsa mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Apabila salah satu dari kebudayaan yang bertemu mempunyai taraf  teknologi yang lebih tinggi maka yang terjadi ialah proses imitasi, yaitu peniruan terhadap unsur-unsur kebudayaan lain. Mula-mula unsur kebudayaan tersebut ditambahkan pada kebudayaan asli, yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli akan dirubah dan diganti dengan unsur-unsur kebudayaan asing tersebut.


5.      Faktor-Faktor yang mempengaruhi jalannya proses perubahan
Adapun faktor-faktor yang mendorong jalannya proses perubahan adalah sebagai berikut :
a.       kontak dengan kebudayaan lain
b.      sistem pendidikan yang maju
c.       sikap mengahargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju
d.      toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang
e.       sistem lapisan masyarakat yang terbuka
f.       penduduk yang heterogen
g.      ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu
h.      orientasi ke muka
i.        nilai meningkatkan taraf  hidup

demikian pula faktor-faktor penghambat terjadinya perubahan sebagai berikut :
a.       kurangnya hubungan-hubungan dengan masyarakat lain.
Hal  ini biasanya terjadi dalam suatu masyarakat yang kehidupannya terasing, yang membawa akibat suatu masyarakat tidak akan mengetahui terjadinya perkenmbangan-perkembangan yang ada pada masyarakat  yang  lainnya. Jadi masyarakat tersebut tidak mendapa kan bahan perbandingan yang lebih baik untuk dapa tdibandingkan dengan pola-pola yang telah ada pada masyarakat tersebut.
b.      Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat
Terlambatnya ilmu pengetahuan dapat diakibatkan karena suatu masyarakat tersebut hidup dalam keterasingan dan dapat  pula karena ditindas oleh masyarakat  lain.
c.      Sikap masyarakat yang tradisional
Adanya suatu sikap yang membanggakan dan mempertahankan tradisi-tradisi lama dari suatu masyarakat akan berpengaruh pada terjadinya proses  perubahan. Karena adanya anggapan bahwa perubahan  yang  akan terjadi belum tentu lebih baik dari  yang sudah ada.
d.      Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interest
Organisasi social  yang telah mengenal system lapisan dapat dipastikan akan ada sekelompok individu yang memanfaatkan kedudukan dalam proses perubahan tersebut. Contoh, dalam masyarakat feudal dan juga pada masyarakat yang sedang mengalami transisi. Pada masyarakat yang mengalami transisi, tentunya ada golongan-golongan dalam masyarakat yang dianggap sebagai pelopor proses transisi. Karena selalu mengidentifikasi diri dengan usaha-usaha dan jasa-jasanya, sulit bagi mereka untuk melepaskan kedudukannya di dalam suatu proses perubahan.
e.       Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi budaya
Adanya perasaan takut akan terjadi kerusakan pada kebudayaan mereka, ketika kebudayaan mereka terintegrasi kebudayaan lain.
f.       Prasangka terhadap hal-hal yang baru/asing
Anggapan seperti ini biasanya terjadi pada masyarakat yang pernah mengalami hal yang pahit dari suatu masyarakat yang lain. Jadi bila hal-hal yang baru dan berasal dari masyarakat-masyarakat yang pernah membuat suatu masyarakat tersebut menderita, maka masyarakat itu akan memiliki prasangka buruk terhadap hal yang baru tersebut.Karena adanya kekhawatiran kalau hal yang baru tersebut diikuti dapat menimbulkan kepahitan atau penderitaan lagi.
g.      Hambatan ideologis
Hambatan ini biasanya terjadi pada adanya usaha-usaha untuk merubah unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Karena akan diartikan sebagai usaha yang  bertentangan dengan ideology masyarakat yang telah menjadi dasar yang kokoh bagi masyarakat tersebut.
h.      Kebiasaan
Biasanya pola perilaku yang sudah menjadi adat bagi suatu masyarakat akan selalu dipatuhi dan dijalankan dengan baik. Dan apabila pola perilaku yang sudah menjadi adat tersebut sudah tidak dapat lagi digunakan, maka akan sulit untuk merubahnya, karena masyarakat tersebut akan mempertahankan alat, yang dianggapnya telah membawa sesuatu  yang baik bagi pendahulu-pendahulunya.

6.      Bentuk-bentuk perubahan sosial
Dilihat dari segi bentuk-bentuk kejadiannya, maka perubahan sosial dapat dibahas dalam tiga dimensi atau bentuk, yaitu: Perubahan sosial menurut kecepatan prosesnya, ada yang berlangsung lambat (evolusi) dan ada yang cepat (revolusi). Perubahan sosial menurut skala atau besar pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan, ada yang pengaruhnya luas dan dalam, serta ada yang pengaruhnya relatif kecil terhadap kehidupan masyarakat. Yang ketiga, adalah perubahan sosial menurut proses terjadinya, ada yang direncanakan (planned) atau dikehendaki, serta ada yang tidak direncanakan (unplanned).
Menurut kecepatan prosesnya, perubahan sosial dapat terjadi setelah melalui proses perkembangan masyarakat yang panjang dan lama, atau disebut juga dengan proses evolusi. Tetapi ada juga perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat yang disebut revolusi.
Adapun menurut skala pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat, ada perubahan sosial yang terjadi dan sekaligus memberikan pengaruh yang luas dan dalam terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Namun sebaliknya ada pula perubahan sosial yang berskala kecil dalam arti pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan relatif kecil dan terbatas.
Sementara itu menurut proses terjadinya, ada perubahan sosial yang memang dari semula direncanakan atau dikehendaki. Misalnya dalam bentuk program-program pembangunan sosial. Namun ada pula yang tidak dikehendaki terjadinya atau tidak direncanakan.


TEORI MODERNISASI

Pendekatan modernisasi yang dipelopori oleh Wilbert More, Marion Levy, dan Neil Smelser, pada dasarnya merupakan pengembangan dari pikiranpikiran Talcott Parsons, dengan menitikberatkan pandangannya pada kemajuan teknologi yang mendorong modernisasi dan industrialisasi dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Hal ini mendorong terjadinya perubahan-perubahan yang besar dan nyata dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk perubahan dalam organisasi atau kelembagaan masyarakat. Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam masyarakat. Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi interaksi antarmanusia dan antarmasyarakat. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti perubahan dalam unsurunsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Adapun teori-teori yang menjelaskan mengenai perubahan sosial adalah sebagai berikut.
A.  Teori Modernisasi ( Neil Smelser)
Neil Smelser menggunakan dimensi-dimensi kompleksitas dan diferensiasi untuk membedakan antara masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Suatu masyarakat maju serta struktur budaya yang kompleks dan terdiferensiasi, serta proses diferensiasi yang menciptakan suatu pola dan urutan-urutan. Smelser telah mengembangkan pendekatan sistemnya yang ada di dalam kerangka teori aksi secara umum yang mencakup analisis fungsional sistem sosial dengan unit-unit dasarnya.
Neil Smelser juga dengan teori diferensiasi strukturalnya. Smelser beranggapan dengan proses modernisasi, ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan berbagai berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus.
Neil Smelser melukiskan modernisasi sebagai transisi multidimensional yang meliputi enam bidang. Modernisasi di bidang ekonomi berarti: (a) mengakarnya teknologi dalam ilmu pengetahuan; (b) bergerak dari pertanian substensi ke pertanian komersial; (c) penggantian tenaga binatang dan manusia oleh energy benda mati dan produksi mesin; (d) berkembangnya bentuk pemukiman urban dan konsentrasi tenaga kerja di tempat tertentu. Di bidang politik ditandai dengan transisi dari kekuasaan suku ke sistem hak pilih, perwakilan, partai politik, dan kekuasaan demokratis. Di bidang pendidikan modernisasi meliputi penurunan angka buta huruf dan peningkatan perhatian pada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan. Di bidang agama ditandai oleh sekulerisasi. Di bidang kehidupan keluarga ditandai oleh berkurangnya peran ikatan kekeluargaan dan makin besarnya spesialisasi fungsional keluarga. Di bidang stratifikasi sosial, moderisasi berarti penekanan pada mobilitas dan prestasi individual ketimbang prestatsi yang dimiliki (Stompka, 2008).

B.  Teori Modernisasi ( Marion Levy, Jr )
Marion Levy, Jr telah menyajikan suatu pendekatan holistik terhadap modernisasi yang mendekati keseluruhan hal yang berhubungan dengan struktur dan prasyarat fungsional yang membedakan antar masyarakat yang relatif modern dan masyarakat yang relatif belum modern.
Levy membedakan antara struktur-struktur masyarakat yang relatif modern dan masyarakat yang non modern dilihat dari enam atribut sistematik :
1.         Spesialisasi unit-unit
2.         Swasembada unit
3.         Etika Universalitik
4.         Kombinasi Sentralisasi dan desentralisasi
5.         Aspek-aspek hubungan
6.         Media pertukaran dan pasar yang terpusat
Marion Levi memiliki 4 kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpulan manusia bisa dikatakan atau disebut masyarakat:
1.      Ada sistem tindakan utama
2.      Saling setia pada sistem tindakan utama
3.      Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota
4.      Sebagian atau seluruh anggota baru didapat dari kelahiran atau reproduksi manusia
C.  Teori Modernisasi ( Wibert Moore )
Wilbert Moore mendefinisikan modernisasi sebagai transformasi total masyarakat tradisional atau pra-modern ke tipe masyarakat teknologi dan organisasi sosial yang menyerupai kemajuan dunia barat yang ekonominya makmur dan situasi politiknya stabil. Menurut Moore (2000), perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya.
 Wilbert Moore dan Kingsley Davis , Perubahan-perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan-perubahan kebudyaan. Kerubahan-perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian kebudayaan, termasuk di dalamnya kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan segala wujud budaya. Misalnya, Kingsley Davis mengemukakan perubahan kogat bahasa yang terjadi pada bahasa-bahasa orang Aria setelah terjadi terpisah dari induknya. Perubahan-perubahan tersebut tidak memngaruhi organisasi sosial dari masyarakat-masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Perubahan-perubahan tersebut lebih merupakan perubahan kebudayaan daripada perubahan sosial.Perubahan-perubahan dalam kebudayaan memiliki ruang lingkup yang lebih luas. Sudah tentu, ada unsur-unsur kebudayaan yang dapat dipisahkan dari masyarakat, tetapi perubahan dalam kebudayaan tidak perlu memengaruhi sistem sosial.

Di dalam proses modernisasi tercakup suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam artian teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri negara-negara barat yang stabil.
Syarat-syarat modernisasi
a.       cara berikir yang ilmiah
b.      sistem administrasi negara yang baik
c.       adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur
d.      penciptaan iklim yang favorable dari masyarakat
e.       tingkat organisasi yang tinggi
f.       sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan social plannin


TEORI DEPENDENSI (KETERGANTUNGAN)

a.   Dasar Teori
Teori dependensi menolak  premis dan asumsi-asumsi yang diajukan oleh teori modernisasi. Teori dependensi dilandasi oleh strukturalisme yang beranggapan bahwa kemiskinan yang terdapat di negara-negara Dunia Ketiga yang mengkhususkan diri pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur perekonomian dunia yang bersifat eksploitatif, dimana yang kuat (Raul Prebisch: Negara Pusat) melakukan eksploitasi terhadap yang lemah (negara-negara Pinggiran). Maka, surplus dari negara-negara Dunia Ketiga (negara pinggiran) beralih kenegara-negara industri maju (negara Pusat).
Teori struktural sendiri berpangkal pada filsafat materialisme Marx, namun sekaligus teori ketergantungan membantah tesis Marx yang menyatakan bahwa kapitalisme akan menjadi cara produksi tunggal, dan menciptakan proses maupun struktur masyarakat yang sama disemua negara yang ada didunia ini. Prebisch yang pemikirannya dilanjutkan oleh Baran, berpendapat bahwa kapitalisme yang berkembang di negara-negara yang menjadi morban imperialisme, tidak sama dengan perkembangan kapitalisme dari negara-negara kapitalisme yang menyentuhnya. Kapitalisme di negara-negara pinggiran merupakan kapitalisme yang sakit, yang sulit berkembang dan memiliki dinamika yang berlainan. Oleh karena itu, perlu dipelajari secara terpisah sebagai sesuatu yang unik, jika hanya menerapkan konsep-konsep dan teori-teori yang berlaku di negara-negara kapitalis pusat, tidak akan pernah diperoleh pemahaman yang benar tentang dinamika dan proses kapitalisme pinggiran.

b.   Ciri Pokok:
  1. Yang menjadi hambatan dari pembangunan bukanlah ketiadaan modal, melainkan pembagian kerja internasional yang terjadi. Dengan demikian, faktor-faktor yang menyebabkan keterbelakangan merupakan faktor eksternal;
  2. Pembagian kerja internasional ini diuraikan menjadi hubungan antara dua kawasan, yakni pusat dan pinggiran. Terjadi pengalihan surplus dari negara pinggiran ke pusat.
  3. Akibat pengalihan surplus ini, negara-negara pinggiran kehilangan sumber utamanya yang dibutuhkan untuk membangun negerinya. Surplus ini dipindahkan ke negara-negara pusat. Maka, pembangunan dan keterbelakangan merupakan dua aspek dari sebuah proses global yang sama. Proses global ini adalah proses kapitalisme dunia. Dikawasan yang satu, proses itu melahirkan pembangunan, dikawasan lainnya keterbelakangan.
  4. Sebagai terapinya, Teori ketergantungan menganjurkan pemutusan hubungan dengan kapitalisme dunia, dan mulai mengarahkan dirinya pada pembangunan yang mandiri. Untuk ini, dibutuhkan sebuah perubahan politik yang revolusioner, yang bisa melakukan perubahan politik yang radikal. Setelah faktor eksternal ini disingkirkan, diperkirakan pembangunan akan terjadi melalui proses alamiah yang memang ada di dalam masyarakat negara pinggiran.

CIRI-CIRI MASYARAKAT TRADISIONAL, TRANSISI DAN MODERN
Pada kegiatan belajar ini diuraikan tiga karakteristik masyarakat, yakni masyarakat tradisional, transisi, dan masyarakat modem. Perbedaan karakteristik ini dikaji melalui empat aspek utama, yakni aspek ekonomi, sosial, budaya dan aspek politik. Pada setiap klasifikasi masyarakat tersebut, memiliki perbedaan satu sama lain. Sebagai misal, dari aspek ekonomi, pada masyarakat yang tradisional, lebih banyak masyarakatnya yang aktif dalam kegiatan ekonomi terserap pada kegiatan pertanian agraris, sedangkan pada masyarakat transisi, telah kelihatan adanya pergeseran tenaga kerja dari pertanian, dan mulai masuk ke sektor industri. Pada masyarakat modern, sebagian besar tenaga kerja yang ada lebih banyak terserap ke sektor lainnya (terutama ke sektor jasa).
Karakteristik dari aspek sosial, antara lain ditandai dengan tingkat pendidikan yang rendah pada masyarakat tradisional, dan sebaliknya pendidikan yang tinggi pada masyarakat modern. Sedangkan aspek yang berkaitan dengan budaya, antara lain diwarnai adanya sifat yang tertutup dari ide-ide pembaharuan pada masyarakat tradisional, sedangkan pada masyarakat modern adalah sebaliknya, yakni menerima ide pembaharuan tersebut dengan daya kritis yang tinggi. Masyarakat transisi, dapat dipahami dengan pengertian bahwa semua karakteristik masyarakat tersebut, berada antara masyarakat tradisional dan masyarakat modern, menurut empat aspek utama tersebut.

1.             Sikap Masyarakat dan Proses Modernisasi
Salah satu masalah yang mempengaruhi proses modernisasi adalah sikap hidup masyarakat. Sikap hidup masyarakat terutama pada masyarakat tradisional, banyak dipengaruhi oleh faktor adat istiadat dan kebiasaan beragama. Selain itu, hambatan lainnya karena masih adanya sikap hidup konsumtif yang tidak/kurang rasional. Meskipun demikian, tingkah laku dan sikap hidup masyarakat dapat berubah menurut perkembangan waktu dan keadaan akibat dari berbagai pengaruh ekstern. Akan tetapi, kalau hal itu berjalan dengan sendirinya, maka perkembangan dan perubahan ke arah yang positif hanya akan berlangsung lambat.
Hal ini pada satu pihak adalah berkaitan dengan perkembangan tingkat hidup, ilmu pengetahuan dan daya absorsi dari masyarakat sendiri. Pada lain pihak peningkatannya dapat dilakukan dengan cara perluasan komunikasi pada masyarakat melalui berbagai media massa serta penyuluhan dan bimbingan secara langsung.
Dalam hubungan dengan penyebaran ide-ide bare dan inovasi kepada masyarakat serta menanamkan sikap hidup yang development-oriented di kalangan masyarakat, maka segala aparat dan daya yang mungkin digunakan agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini selain melalui media massa serta penyuluhan/bimbingan tersebut, disamping unsur-unsur tenaga kepemimpinan dari kalangan pemerintah, perlu manfaatkan tenaga-tenaga teknokrat dan para pemuka berpengaruh yang berasal dari kalangan masyarakat sendiri. Oleh karena perubahan sikap hidup masyarakat itu ke arah modemisasi adalah sukar untuk tercipta secara cepat dan sekaligus, maka seyogyanyalah unsur-unsur kepemimpinan dan tenaga-tenaga penyuluh pada masyarakat itu perlu bersifat tabah, tekun, kreatif dan berjiwa dharma (mission) dalam menciptakan modernisasi bagi kehidupan masyarakat.

2.             Sikap Golongan-golongan Masyarakat Terhadap Pembaharuan
Dalam proses pembaharuan diperlukan adanya kerjasama antara beberapa golongan elit dalam masyarakat. Golongan elit ini terdiri atas: Pertama, elit politik yaitu mereka yang termasuk dalam kelompok yang mengesahkan kehendak politik bangsa. Kedua, elit administratif, yaitu kelompok yang tugasnya untuk menterjemahkan keinginan-keinginan politik, dan dapat pula memberikan input di dalam perumusan kehendak politik. Ketiga, elit cendekiawan, yaitu kelompok pemikir yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap usaha pembaharuan. Keempat, elit bisnis, yaitu kelompok usahawan yang mempunyai modal dan dapat mendukung proses pembaharuan. Kelima, elit militer, yaitu kelompok yang peranannya secara lebih efektif terlihat dalam pemberian otoritas pelaksanaan kebijaksanaan atau program, serta stabilitas dan kontinuitas usaha pembaharuan. Namun sering kali kurang respektif dan kurang terbuka. Keenam, informed observer, yaitu kelompok yang tugas sehari-harinya menjadi penyalur informasi dan pembentuk pendapat masyarakat.
Selain golongan-golongan elit tersebut terdapat tiga golongan besar dalam masyarakat luas. Pertama, golongan tradisionalis, yaitu golongan yang karena pandangan, nilai-nilai atau kepentingan tertentu, enggan menerima pembaharuan. Kedua, golongan modernis, yaitu mereka yang berorientasi kepada masa depan, bersedia menerima unsur-unsur kultural dari luar yang dianggap sesuai dan mendorong usaha pembaharuan. Ketiga, golongan ambivalen, yaitu mereka yang hanya mengikuti arus, dan pada hakekatnya enggan terhadap perubahan-perubahan karena selalu mengandung risiko.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!