Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 19 Juli 2016

Peran Pendidikan Non Formal dalam Out of School Children Initiative (Program UNICEF) di Indonesia



Deskripsi Lembaga UNICEF
UNICEF awalnya merupakan singkatan dari United Nations International Childrens Emergency Fund (1946). Awal terbentuknya UNICEF dimulai ketika Perang Dunia II berakhir, PBB mulai mempromosikan perdamaian dunia. Hal tersebut karena banyak pemimpin PBB dari seluruh dunia khawatir tentang anak-anak di Eropa. Para delegasi untuk PBB menyiapkan dana sementara yang disebut Dana Darurat  PBB Internasional Anak. Dana UNICEF tersebut telah digunakan untuk mengatasi kendala kemiskinan, kekerasan, penyakit dan diskriminasi terjadi terhadap anak diseluruh dunia. Tantangan terbesar UNICEF pada saat itu adalah membantu anak-anak yang hidupnya telah hancur akibat perang dunia II. Selama ini UNICEF telah menjadi kekuatan untuk seluruh anak diseluruh dunia. UNICEF memiliki otoritas global untuk mempengaruhi para pengambil keputusan. Pada tahun 1953, organisasi ini mengganti nama menjadi United Nationals Children’s Fund.[1]
Atas dasar rasa kemanusiaan dan peduli terhadap anak-anak secara global, Unicef mengembangkan pergerakannya keseluruh belahan dunia seperti Afrika, Amerika, Timur Tengah dan Asia . Secara umum Unicef merupakan organisasi yang membantu anak-anak dalam mendapatkan perhatian dan perawatan yang dibutuhkan ketika mereka kecil karena tanpa didasari perhatian dan kasih sayang, seseorang anak dapat mengalami keterbelakangan mental dan moral.
1.        Fungsi UNICEF
Sebagai salah satu organisasi kemanusiaan yang berada di bawah naungan PBB yang peduli terhadap masalah anak-anak.UNICEF menjalankan fungsi-fungsi antara lain[2] :
a.   Memberi arahan dan alternatif pemecahan bagi negara-negara yang menghadapi masalah tentang anak-anak.
b.     Memberi advice dan bantuan bagi rencana dan penerapan usaha- usaha kesejahteraan anak.
c.      Mendukung latihan-latihan bagi para pekerja sosial Unicef di seluruh negara.
d.  Mengkoordinasi proyek-proyek bantuan dalam skala kecil untuk melakukan metode yang lebih baik.
e.      Mengorganisasikan proyek-proyek yang lebih luas.
f.   Bekerjasama dengan partner internasional untuk memberi bantuan eksternal bagi negara yang membutuhkan.
2.        Misi UNICEF
Adapun misi dari organisasi UNICEF, antara lain[3]:
a.      Mempertahankan hak-hak anak dan menuntut adanya kesetaraan gender serta etika dimata dunia.
b.  Menegaskan bahwa kelangsungan hidup, perlindungan dan perkembangan anak adalah tujuan pembangunan universal yang berguna untuk memajukan hidup dari insan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, Unicef banyak memberikan perhatian terhadap permasalahan pendidikan anak didunia sekalipun.
c.     Memobilisasi sumber daya antara kemauan pemerintah dan negara, khususnya kemauan dari negara berkembang.
d.  Memberikan komitmen penuh untuk memastikan perlindungan khusus bagi    anak-anak yang dirugikan oleh peperangan, kemiskinan, cacat, korban bencana alam, dan segala bentuk kekerasan serta eksploitasi terhadap anak-anak.
e.  Melalui konvensi hak anak juga menegaskan hak-hak anak sebagai prinsip etik dan standar internasional terhadap prilaku anak-anak, UNICEF juga menegaskan bahwa kelangsungan hidup, perlindungan dan perkembangan anak-anak merupakan pembangunan individu yang menjadi bagian integral dari kemampuan manusia itu sendiri.
3.        Tujuan UNICEF
Sebagai organisasi bentukan PBB setelah Perang Dunia II, UNICEF memiliki tujuan utama yaitu untuk memberikan perawatan kesehatan yang layak dan makanan untuk anak-anak dan perempuan di dunia. Dari tujuan utama tersebut Unicef memiliki fungsi yaitu penyediaan Infrastruktur pendidikan dasar untuk dunia, meningkatkan tingkat anak hidup di negara berkembang, kesetaraan jender melalui pendidikan bagi anak perempuan, perlindungan anak-anak dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan, melindungi dan advokasi hak anak Imunisasi bayi dari berbagai penyakit. Penyediaan gizi yang memadai dan air minum yang aman untuk anak-anak.
Secara lebih detail, UNICEF merumuskan tujuannya, yaitu[4]:
a.  Menjunjung tinggi tingkat kesejahteraan anak diseluruh dunia yaitu kondisi dimana setiap anak memperoleh hak-hak mereka seperti yang sudah dijelaskan dalam Deklarasi Hak Anak pada tahun 1959 dan mereka berhak untuk mendapatkan segala sesuatu yang mereka butuhkan demi pembangunan nasional di tiap-tiap negara.
b. Memberikan perhatian pada perkembangan anak terutama di negara berkembang, dimana menekankan kepada pemerintah negara berkembang harus memiliki kebijakan jangka panjang bagi anak-anak dan kaum muda di negaranya untuk meningkatkan kondisi anak-anak yang harus didukung dengan strategi pembangunan internasional.
c.    Memberikan perhatian yang lebih besar pada kebutuhan- kebutuhan dasar anak agar mereka dapat mencapai potensi yang maksimal terutama pada anak-anak yang berada dalam kondisi sosial ekonomi yang kurang memadai, bencana alam, atau korban dari kebijakan domestik yang diberlakukan, serta bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik dan mental.
d.  Pengalaman UNICEF dalam menyusun kebijakan dan program-programm yang terkait dengan anak-anak dapat berguna dalam proses penyusunan target dan prinsip global bidang ekonomi dan sosial, serta dalam menyiapkan strategi-strategi pembangunan.
e.    Dapat merealisasikan hak anak dan perempuan didunia sebagaimana tercantum dalam Convention of the Rights of Children (CRC) dan Convention on Elimination of all forms of Discriminations Against Women (CEDAW).

1.        Out of School Children Initiative (OOSCI)
A.       Kajian Program yang Dikembangkan
Merupakan suatu program yang inisiatif melibatkan kemitraan antara UNICEF dan institut UNESCO untuk mendukung kemitraan pendidikan secara global. Ini telah berlangsung lebih di 50 negara untuk memastikan bahwa anak-anak memiliki akses pendidikan yang baik dan mampu menyelesaikan pendidikan dasar. Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk mengurangi jumlah anak yang tidak sekolah di seluruh dunia dengan cara :
·     Mengembangkan profil rinci dari anak-anak sekolah, anak-anak di sekolah yang beresiko putus sekolah dan anak-anak yang tidak sekolah.
·     Menilai hambatan yang mendasari yang menyebabkan anak-anak tidak mengenyam pendidikan dasar
·     Memberikan saran kebijakan yang inovatif dan strategis yang dapat membawa  ke sekolah dan memelihara mereka disana.
OOSCI bertujuan untuk mendukung negara-negera dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan dan menganalisis anak yang tidak sekolah dan anak-anak yang beresiko putus sekolah dengan menggunakan metode statistik inovatif untuk mengembangkan profil dan data yang komprehensif. Dalam  hal ini, UNESCO dan UNICEF percaya bahwa untuk menyediakan pendidikan dasar bagi setiap anak, kebijakan yang lahir harus sebagian besar fokus pada anak-anak terpinggirkan sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas dan akses pendidikan.  Untuk melakukan hal ini, pemerintah disetiap negara memerlukan informasi yang kuat terkait anak-anak yang putus sekolah dan tidak berpendidikan dasar, dimana mereka hidup, apakah mereka pernah sekolah dan bagaimana masa depan mereka menjadi lebih baik.
Sejak tahun 2000, sebuah kemajuan yang dibuat untuk mengakses pendidikan dasar merupakan hak asasi menusia yang paling mendasar. Hal ini tertuang dalam tujuan pembangunan milenium dan pendidikan untuk semua (Education for all). Tujuannya sangat jelas, yaitu untuk memperluas sistem pendidikan, dengan jalan membangun sekolah lebih banyak dan pemerataan penempatan guru, dihapuskannya biaya sekolah yang memberatkan yang semuanya untuk memastikan semua anak-anak menyelesaikan pendidikan dasar.
Menurut studi yang dilakukan oleh UNICEF terkait dengan Out Of School Children Initiative menganalisa data dan memberikan rekomendasi terkait hambatan-hambatan untuk pendidikan di semua negara, ternyata yang paling sesuai adalah dengan pendekatan konteks lokal[5]. Dengan berbekal data dan bukti yang akurat, maka pendekatan dapat memfokuskan diri pada ekuitas yang memungkinkan pemerintah untuk membuat perubahan yang ditargetkan dalam kebijakan dan strategi untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam meningkatkan jumlah anak yang mendapatkan pendidikan dasar di sekolah. Selain itu, dari hasil studi yang ada diperkuat oleh kemitraan, instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi-organisasi internasional seperti United Kingdom Departement for International Development (DFID)/Departemen Pembangunan Internasional Inggris dan bank dunia.
OOSCI membagi kelompok-kelompok anak yang termasuk pada kajiannya dalam lima dimensi, yaitu :
1)        Anak-anak usia pra sekolah dasar yang tidak pada pra sekolah dasar
2)        Anak-anak usia sekolah dasar yang tidak sekolah di sekolah menengah dan sekolah dasar
3)     Anak-anak usia sekolah menengah pertama yang tidakada di sekolah dasar dan sekolah menengah
4)        Anak-anak di sekolah dasar tetapi beresiko putus sekolah
5)        Anak-anak di sekolah menengah pertama tetapi beresiko putus sekolah.
Gambar 1
The Five Dimensions of Exclusion (5DE)