Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 30 Oktober 2016

PENDIDIKAN SEKS BERDASARKAN USIA


Dalam memberikan pendidikan seks apabila ditanyakan kapan waktu yang tepat untuk mulai memberikannya, maka jawabannya adalah tidak ada batasan yang pasti. Orang tua bisa mengajarkan pendidikan seks untuk anaknya tepat pada saat anak mulai mengajukan pertanyaan. Jawaban yang kita berikan nantinya pun harus mengacu pada usia anak sehingga pemberian jawaban dapat dilakukan secara proporsional.
Ada lima tahap perkembangan seks manusia yaitu tahap oral, anal, phallic, talency dan genital Sigmund Freud dalam Hana (2009 : 70). Dimana tahap perkembangan seks ini yang secara signifikan terinci selama masa awal kehidupannya, dan dalam setiap perkembangan ini manusia akan selalu berusaha untuk memuaskan naluri seksualnya melalui eksplorasi anggota-anggota tubuhnya.
Tahap pertama atau tahap oral adalah tahapan paling awal kegiatan seks manusia yang dimulai sejak lahir hingga akhir tahun pertama kehidupannya. Masa ini ditandai dengan kepuasan yang diperoleh anak melalui daerah oral atau mulut. Pada tahap ini anak memperoleh informasi seksual melalui aktivitas mulutnya seperti menghisap (susu, jari dan lain-lain). Pada usia 0-1 tahun, bayi mendapatkan perasaan nikmat ketika menyusui melalui puting ibunya. Sedangkan pada usia 1-2 tahun, anak terlihat cenderung antusias memasukkan apa saja yang dilihat ke dalam mulutnya.
Tahap kedua disebut juga dengan masa anal. Tahap ini adalah tahap dimana manusia akan mendapat kesenangan seksual di daerah sekitar dubur atau anusnya. Rasa nikmat dirasakan melaui aktivitas yang menyangkut proses pembuangan. Mereka cenderung berlama-lama di kamar mandi. Anak usia 2-4 tahun juga sering menahan kencing atau buang air besar.
Tahap ketiga atau tahap phallic yaitu tahap dimana seorang anak yang sudah bisa mengidentifikasi kelaminnya. Tahap ini berlangsung antara umur 3-6 tahun. Pada tahap ini anak mulai menunjukkan keinginan yang lebih besar terhadap perbedaan yang ada di antara laki-laki dan perempuan
Tahap keempat disebut juga tahap talency yaitu tahap yang dicapai begitu anak memasuki usia remaja. Sering disebut juga dengan masa laten karena anak cenderung menekan seluruh keinginan erotisnya hinggga nanti mencapai usia pubertas. Pada tahap talency ketertarikan anak pada seksualitas biasanya akan dikalahkan dengan keingintahuannya yang lebih tinggi tentang hal-hal lain yang bersifat ilmiah dan sains. Namun demikian, ada juga anak-anak yang menunjukkan kenaikan rasa tertarik pada seks, yang ditandai dengan munculnya aktivitas rutin semacam masturbasi ataupun manipulasi genital. Anak akan merasakan nikmat ketika alat kelaminnya disentuh atau diraba. Pada masa ini anak pun mulai membandingkan alat kelamin miliknya dengan temannya yang lain. Pada masa ini anak mulai mengeksplorasi bagian-bagian tubuhnya secara menyeluruh. Namun orang tua atau pendidik sebaiknya mengalihkan perhatian anak ke hal lain untuk mencari sensasi yang lebih positif. Misalnya  dengan olah raga atau mengembangkan minat seninya.
Tahap kelima atau tahap genital yaitu tahap akhir dari keseluruhan proses perkembangan seksual seorang anak. Masa ini menandai puncak perkembangan dan kematangan seksual anak dimana seluruh kesenangan seksual akan terpusat di daerah genetil atau kelamin. Masa ini dikenal dengan dengan istilah pubertas yang menandai terjadinya perubahan fisiologi dan hormonal tubuh anak secara revolusioner.
Untuk memulai pendidikan seks di rumah hendaknya jangan menyamakan persepsi orang dewasa dengan anak. Jika anak bertanya mengenai seks, bukan berarti berfikir jorok. Tetapi mereka mananyakan hal-hal yang dia amati.
Pendidikan seks berdasarkan usia yaitu pada usia 0-2 tahun anak mulai mengenal dunianya; usia 3-6 tahun anak mulai merasa, meraba dan belajar; usia 7-11 tahun anak mulai memberikan pertanyaan yang semakin membingungkan (Alya Andika, 2010 : 50-70). Adapun secara rinci dijelaskan sebagai berikut :
1.                     Usia 0-2 Tahun (Anak Mulai Mengenali Dunianya)
Bagi orang tua yang memiliki bayi atau yang sedang belajar berjalan, pasti berpendapat bahwa perkembangan seksual anak masih lama. Tapi sebenarnya perkembangan seksualnya telah dimulai sejak awal tahun pertama. Bayi, batita, pra-sekolah dan anak usia sekolah mengalami perkembangan emosi dan fisik serta seksual yang bervariasi. Seperti halnya mereka mengenali orang tuanya, lingkungan dan benda sekitar. Begitu pula halnya mereka mengenali diri sendiri baik fisik maupun emosi.
Pengenalan yang baik diawal tahun-tahun pertamanya menjadi dasar yang kuat. Ikatan emosional paling awal pada bayi dibentuk bersama orang tua yaitu melalui kontak fisik untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang mereka. Melalui sentuhan fisik positif lainnya yang melambangkan cinta. Keunikan bentuk keintiman fisik dan emosi antara orang tua dan bayi dapat menjadi pijakan awal bagi kematangan bentuk keintiman fisik dan kasih sayang yang kelak berkembang menjadi bagian seksualitas dewasa.
Di usia 2 atau 3 tahun, anak mulai tertarik akan kelamin. Kepedulian ini dikenal sebagai identitas kelamin. Anak mulai memahami perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta dapat mengidentifikasikan dirinya dan orang lain. Hal ini sebagai kombinasi pembelajaran yang didapat secara biologis dan lingkungan. Diusia ini pula anak mulai menghubungkan perilaku tertentu dengan jenis kelamin yang disebut aturan kelamin. Seperti sifat maskulin dan feminin.
Pendidikan seks mulai diberikan pada anak usia bawah dua tahun, ketika anak sudah bisa berjalan, kita sudah bisa mengajarkan cara membuang air, cebok apabila sudah membuang air, memakai baju dan berperilaku yang selayaknya anak laki-laki dan perempuan.
2.                     Usia 3-6 Tahun (Anak Mulai Merasa, Meraba, dan Belajar Berbeda)
Memasuki usia 3 tahun, rasa keingintahuan anak menjadi bertambah besar. Diusia ini anak sudah mampu menunjukkan emosi yang bermacam-macam dan mengalami perkembangan pesat pada kemampuan kognitifnya. Pada usia ini anak berada pada masa pra-operasional sehingga bisa diajak memahami sesuatu lewat stimulus, imajinasi serta mampu mengelompokkan warna, benda maupun ukuran. Untuk itu sebagai pendidik dan orang tua perlu memahami apa saja yang bisa dicerna dan ditangkap anak anda untuk memberikan pendidikan yang benar sesuai perkembangan emosi dan mentalnya.
a.    Tahap Simbolik
Untuk belajar memahami sesuatu, pada tahap usia ini anak terbiasa menggunakan simbol. Poin pentingnya yaitu masukan atau stimulus yang diberikan haruslah konkret, bisa dilihat, dipegang, dilakukan dan dialami secara langsung. Hal yang sama bisa kita terapkan untuk pendidikan seks pada anak.
b.    Berimajinasi
Pada tahap ini anak sering melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati perilaku orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu pengalaman-pengalaman tersebut anak terapkan dalam kegiatan bermain khayal. Tak heran jika anak diusia ini sering mempraktikkan apa yang dilihatnya di televisi. Tetapi pada hakekatnya anak tidak mengerti apa yang tengah ia lakukan, tetapi hanya rasa tertarik dengan apa yang dilihatnya. Selain itu diusia ini anak tidak hanya tertarik pada tubuhnya tetapi juga tubuh orang lain.
c.    Mengelompokkan Benda
Kemampuan lainnya yang berkembang adalah anak mulai mampu mengelompokkan benda, warna, bentuk, maupun ukuran. Anakpun terlatih untuk bisa berfikir secara logis. Bukan hanya benda tetapi pada usia ini anak juga bisa diajarkan untuk mengelompokkan fungsi tubuhnya. Pada anak yang telah berusia 5 tahun sudah bisa dikenalkan perbedaan tubuh anak-anak dengan tubuh dewasa. Tentu saja pengenalan dilakukan oleh ibu dengan anak perempuannya dan begitu juga untuk anak laki-laki.
Pada usia ini, kebanyakan anak-anak sudah lebih memahami dan melanjutkan eksplorasi tubuh mereka untuk tujuan tertentu. Biasanya anak menemukan sensasi kenikmatan lewat eksplorasi tersebut.
3.           Usia 7-11 Tahun (Anak Mulai Bertanya yang Semakin Membingungkan)
Usia 7-11 tahun merupakan masa dimana anak-anak mulai meninggalkan sikap egosentrisnya. Anak-anak tidak lagi bersikap pelit terhadap apa yang dimilikinya akan tetapi mereka mulai bermain bersama secara berkelompok dan mudah untuk menjalin kerja sama.
Pada usia ini, anak memperoleh lingkungan baru yakni sekolah. Teman-teman sekolah menjadi penting. Dari sini arah pergaulannya pun mulai menentukan sikapnya. Anak juga tidak lagi merasa puas dengan jawaban yang sederhana akan tetapi mereka sudah mulai membangun kesimpulan dengan banyak arah. Disisi lain, anak mulai berkenalan dengan segala tuntutan dan tanggung jawab. Fase ini merupakan saat yang tepat untuk memberikan pendidikan seks dan reproduksi dalam istilah yang lebih rumit. Tak hanya sekedar mengenal dan mengetahui fungsi organ reproduksi yang tampak, anak sudah mulai bisa mempelajari tentang apa yang ada didalam tubuhnya.
Selain itu keingintahuan tentang aspek seksual mulai muncul. Sering ada pertanyaan yang berkaitan dengan organ reproduksinya dan membandingkan dengan orang lain. Selain mengantisipasi perubahan fisik ada baiknya jika mulai lebih menekankan nilai-nilai dalam masyarakat. Diusia ini anak telah mengerti aturan main yang berlaku serta merupakan masa dimana mereka mampu membedakan baik dan buruk dan mengenali hubungan sebab akibat. Masa yang tepat untuk pengenalan secara mendalam identitas diri terutama organ biologis terhadap lingkungannya. Mulailah mengajarkan penjagaan privasi diri dan lainnya.
Kita sebagai orang tua bisa memanfaatkan golden moment (peristiwa emas) untuk lebih memberikan pemahaman tentang seks. Seiring pertumbuhannya, anak terus melanjutkan pemahaman dan pengalaman tentang tubuh mereka dan perubahan fisik sebagai bagian dari perkembangannya.
REFERENSI :
Andika, Alya. 2010. Bicara Seks Bersama Anak. Yogyakarta : Pustaka Anggrek
Yasmira, Hana. 2009. Ayo Ajarkan Anak Seks. Jakarta : PT Elex Media Komputindo

Senin, 24 Oktober 2016

BANGGA DENGAN PRODUK LUAR NEGERI, TIDAK BANGGA DENGAN PRODUK DALAM NEGERI




Masyarakat Indonesia cenderung dan bangga terhadap teknologi yang diproduksi oleh negara lain dan ada kecenderungan tidak bangga menggunakan produk dalam negeri. Pada kesempatan ini, saya akan melihat dari teori antropologi terkait berbagai faktor yang diduga menjadikan masyarakat Indonesia memiliki mental seperti yang disebutkan sebelumnya.
Antropologi merupakan studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Keanekaragaman bentuk budaya menentukan dasar-dasar perbedaan dan kesamaan manusia, sifat manusia, dan kelembagaannya. Antropologi mengkaji tentang tingkah laku manusia pada umumnya dengan mempelajari beragam suku bangsa di seluruh dunia.
Dalam perkembangannya di Indonesia, Antropologi juga telah menghasilkan beragam teori kebudayaan. Misalnya, pada dekade 1970an mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistsem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Disiplin antropologi mengkaji manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya dari dua sisi holistik. Hal inilah yang membedakan antropologi dari disiplin ilmu social lainnya yang menekankan pada perbandingan budaya antar manusia. Tujuan antropologi adalah memajukan pengetahuan kita tentang siapa kita dan bagaimana kita datang dengan cara ini.
Terkait dengan adanya cenderung pada masyarakat Indonesia yang gandrung dan bangga terhadap teknologi yang diproduksi negara lain dan cenderung tidak bangga terhadap produk dalam negeri, sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi bila dilihat dari teori-teori ilmu antroologi, antara lain :
1)        Orintasi nilai dan budaya
Menurut teori tersebut soal- soal yang paling tinggi nilainya dalam hidup manusia dalam tiap kebudayaan minimalnya ada lima hal, yaitu; (1) Human Nature atau soal makna hidup manusia. Dalam hal ini, kebanyakan masyarakat Indonesia tidak mau dan cenderung acuh dengan kebudayaan sendiri dan tidak mau ambil bagian dalam kebudayaan itu, sehingga  udah terpengaruh akan budaya luar (2) Man Nature, atau soal makna dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Kebanyakan juga manusia menjalin hubungan interaksi antara satu dengan yang lain, melalui proses itu terjadi proses imitasi kebiasaan yang dianggap modern dan nilainya lebih tingi (3) Time; yaitu persepsi manusia mengenai waktu. Masyarakat sekarng lebih menyukai proses yang instan, sehingga merubah pola pikir akan suatu hal secara singkat. Misalnya ingin dipandang sebagai orang yang kaya maka menggunakan produk-prodk mahal dari luar negeri (4) Activity; yaitu masalah makna dari pekerjaan, karya dan amal dari perbuatan manusia; (5) Relational, yaitu soal hubungan manusia dengan sesama manusia. Orang Indonesia terlalu menganggap lebih orang luar sehingga apa yang dilakukan dan digunakan oleh orang luar akan menjadi hebat dimata orang kita.
2)        Evolusi sosiokultural
Merupakan gagasan bahwa bentuk-bentuk kehidupan yang berkembang dari satu bentuk ke bentuk lain melalui mata rantai transformasi dan modifikasi yang tak pernah putus semakin kompleksnya kebutuhan manusia maka semakin banyak keinginannya. Hal ini tidak didukung oleh kemampuan atau ketersediaan barang yang ada didalam negeri, sehingga orang akan otomatis membeli produk luar negeri.
3)        Evolusi kebudayaan
Masuknya budaya-budaya asing ke Indonesia mengakibatkan banyaknya kebudayaan asli Indonesai yang semakin kurang diminati oleh generasi muda. Sehingga trend-trend pada zaman sekarang yang tersebar begitu cepat melalui media dan sehingga produk-produk asing cepat dikenal masyarakat.
4)        Evolusi keluarga
Semakin berkembangnya zaman, maka pola kehidupan dalam keluarga pun menjadi berubah, bahkan lingkungan  pun berubah. Orang tua yang juga tidak mencintai produk dalam negeri dalam kehidupan sehari-hari juga secara tidak langsung mengajarkan kepada anak untuk tidak mencintai produk dalam negeri. Sehari-hari menggunakan produk luar negeri maka jangan salahkan apabila anak nanti merasa canggung kalau harus memakai produk dalam negeri.

TEORI KONFLIK DAN UPAYA PEMECAHANNYA



Indonesia memang merupakan negara yang tingkat heterogenitasnya tinggi, maka sangat rentan muncul gesekan-gesekan atau konflik. Dalam kesempatan kali ini saya akan sedikit menjabarkan terlebih dahulu yang dimaksud dengan konflik vertikal dan horizontal. 1) konflik vertikal adalah gesekan yang terjadi antar tingkat kelas, golongan atau strata yang berbeda, baik itu antara golongan yang rendah dengan golongan yang lebih tinggi posisinya. Contohnya konflik antara kaum buruh dengan pengupah (mandor/manager) akibat sistem upah yang tidak sesuai, regulasi kerja yang tidak sesuai dan lain-lain. 2) konflik horizontal adalah konflik yang terjadi antar individu atau kelompok yang sekelas atau sederajat. Contohnya konflik antar supporter sepak bola, yang mana sering terjadi bentrokan antar supporter akibat saling mengejek dan menganggap tim yang mereka dukung paling benar sehingga memicu kerusuhan yang menyebabkan kekerasan.
Ada tiga teori konflik yang saya anggap pandangannya cukup bagus dalam melihat kondisi heterogenitas yang terjadi pada manusia, antara lain:
1)        Ibn Khaldun
Beliau adalah seorang tokoh yang lahir di Tunisia dan hidup dipenghujung abad pertengahan zaman renaissance yaitu pada abad ke-14 Masehi. Menurut beliau, watak psikologis manusia merupakan suatu faktor yang penting untuk diperhitungkan. Manusia pada dasarnya mempunyai sifat agresif di dalam dirinya. Potensi ini muncul karena adanya pengaruh animal power dalam dirinya. Karena potensi inilah manusia juga dikenal sebagai rational animal. Potensi lain yang ada didalam diri manusia adalah potensi akan cinta dengan kelompoknya. Ketika manusia hidup bersama-sama dalam suatu kelompok maka fitrah ini mendorong terbentuknya rasa cinta terhadap kelompok (ashobiyah). Kelompok ashobiyah berbasis ada identitas golongan, etnis, maupun tribal. Kelompok sosial dalam struktur sosial manapun dalam masyarakat dunia memeberi kontribusi terhadap berbagai konflik [1] .
Ashobiyah merupakan faktor pendukung yang sangat mempengaruhi terjadinya konflik yang terbagi atas lima jenis[2], yaitu : 1) Ashobiyah kekerabatan dan keturunan, adalah Ashobiyah yang paling kuat. 2) Ashobiyah pesekutuan, terjadi karena keluarnya seseorang dari garis keturunanya yang semula ke garis keturunan yang lain. 3) Ashobiyah kesetiaan yang terjadi karena peralihan seseorang dari garis keturunan dan kekerabatan ke keturunan yang lain akibat kondisi-kondisi sosial. Dalam kasus yang demikian, Ashobiyah timbul dari persahabatan dan pergaulan yang tumbuh dari ketergantungan seseorang pada garis keturunan yang baru. 4) Ashobiyah penggabungan, yaitu Ashobiyah yang terjadi karena larinya seseorang dari keluarga dan kaumnya dan bergabung pada keluarga dan kaum lain. 5) Ashobiyah perbudakan yang timbul dari hubungan antara para budak dengan tuan-tuan mereka.
Dalam hal ini, Ibn Khaldun sudah memperkirakan bahwa pada masa yang akan datang akan muncul konflik-konflik yang terjadi di masyarakat. Mulai dari yang berhubungan dengan urbanisasi, nepotisme dan loyalitas yang salah, kontestasi antar suku dalam rangka merebut dan mempertahankan kekuasaan, keadaan sosiopolitik masyarakat, aspek ekonomi, politik kekuasaan, dan rusaknya solidaritas.

2)        George Simmel
Beliau dikenal dengan bapak sosiologi konflik, seperti dalam artikelnya The Sociology of conflict mengungkapkan bahwa individu menjalani proses sosialisasi, mereka pada dasarnya pasti mengalami konflik. Ketika terjadi sosialisasi terdapat dua hal yang mungkin terjadi, yaitu sosialisasi yang menciptakan asosiasi (individu berkumpul sebagai kesatuan kelompok) dan disosiasi (individu saling bermusuhan dalam satu kelompok). Simmel menyatakan bahwa unsur-unsur yang sesungguhnya dari disosiasi adalah sebab-sebab konflik.
Simmel dalam Novri Susan (2009:48) berargumen ketika konflik menjadi bagian dari interaksi sosial, maka konflik menciptakan batas-batas antara kelompok dengan memperkuat kesadaran internal. Permusuhan timbal balik tersebut mengakibatkan terbentuk stratifikasi dan divisi-divisi sosial, yang pada akhirnya akan menyelamatkan dan memelihara sistem sosial.
Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat Struktur sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup pelbagai proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah-pisahkan, namun dapat dibedakan dalam analisa. Menurut Simmel konflik tunduk pada perubahan. Kemudian Coser mengembangkan proposisi dan memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi- kondisi di mana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka masyarakat.
Beberapa upaya yang disampaikan oleh George Simmel untuk memecahkan konflik pada masyarakat multikultural yaitu :  a) Kemenangan di satu pihak atas pihak lainnya. Contoh ketika pemilihan kepala daaerah, sering terjadi sengketa antara yang pihak mengklaim menang dan pihak yang mengklaim dicurangi, setelah masalah tersebut diseleaikan di Mahkamah Konstitusi, maka konflik telah berakhir sudah. b) Kompromi atau perundingan diantara pihak-pihak yang sedang bersengketa atau sedang bertikai, sehingga nantinya diharapkan tidak ada pihak yang sepenuhnya menang dan tidak ada pihak yang merasa kalah, c) Rekonsiliasi antara pihak-pihak yang bertikai, hal ini akan mengembalikan suasana persahabatan dan saling percaya diantara pihak-pihak yang bertikai tersebut. Contoh kasus yang diselesaikan dengan cara ini adalah ketika penyelesaian konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia terkait dengan klaim kepulauan Ligitan dan Sipadan. d) Saling memaafkan atau kedua belah pihak dengan sikap ksatria mau memaafkan satu sama lain. e) Membuat kesepakatan untuk tidak berkonflik lagi. Contoh kasus dalam dunia sepak bola, antara supporter Persib Bandung dengan supporter Persija Jakarta yang dikenal dengan sering terjadi gesekan. Namun beberapa tahun belakangan ini telah terjadi kesepakatan antara presiden kedua supporter untuk berdamai dan tidak berkonflik, sehingga diharapkan nantinya apabila Persib bermain di Jakarta akan aman-aman saja begitupun sebaliknya.

3)        Ralf Dahrendorf
Beliau adalah seorang profesor di Hamburg Jerman yang terkenal dengan karyanya The Modern Sociel Conflict Society. Ralf berasumsi bahwa setiap masyarakat pasti akan tunduk pada proses perubahan, dan pertikaian serta konflik ada dalam sistem sosial juga berbagai elemen kemasyarakatan memberikan kontribusi bagi disintegrasi dan perubahan. Suatu bentuk keteraturan dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang memiliki kekuasaan, sehingga ia menekankan tentang peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.
Selain itu, Ralf Dahrendorf juga menyatakan bahwa masyarakat memiliki dua wajah berbeda. Wajah masyarakat menurutnya tidak selalu dalam kondisi terintegrasi, harmonis, dan saling memenuhi, tetapi ada wajah lain yang memperlihatkan konflik dan perubahan. Lalu beliau beranggapan bahwa konflik hanya muncul melalui relasi-relasi sosial dalam sistem. Setiap individu atau kelompok yang tidak terhubung dalam sistem tak akan mungkin terlibat dalam konflik. Inilah yang Dahrendorf sebut dengan “integrated into a common frame of reference”. Analisis yang dipakainya adalah pengaruh konflik yang kemudian menciptakan perubahan-perubahan pola interaksi dalam sebuah sistem. Berlawanan dengan tradisi fungsionalisme struktural yang menganalisis berdasarkan konsensus yang disepakati oleh para anggota sistem sosial.

Dari ketiga tokoh yang mengemukakan teori konflik tersebut diatas, maka dapat saya asumsikan gagasan saya terkait solusi yang dapat ditempuh sebagai upaya dalam pemecahan masalah, yaitu 1) Model penyelesaian masalah harus berdasarkan langsung pada konfliknya, maksudnya kita mengetahui dulu sumber-sumber konflik berdasarakan data dan fakta, relasi, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kepentingan dan strukturalnya. 2) Manawarkan metode untuk mengakhiri konflik tersebut yang tidak menguntungkan satu pihak dan tidak juga merugikan pihak lain. 3) Memberikan pencerahan terkait adanya pluralisme budaya yang ada di Indonesia bahwa NKRI ini kaya karena terdiri banyak kebudayaan, perbedaan maka menyartu menjadi bangsa yang kuat. 4) penyelesaian menggunakan perantara pihak ketiga bisa dengan kompromi dan rekonsiliasi.


[1] Dikutip dari buku (Susan, Novri. 2009. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-isu Kontemporer. Jakarta : Kencana)
[2] Menurut Abdul Raziq al-Mukhi, dikutip dari (http://sumber-ilmu-islam.blogspot.com/2015/06/teori-teori-konflik-ibnu-khaldun.html) pada tanggal 30 Desember 2015
 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!