Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 02 Oktober 2016

ANALISIS GENDER DAN PENDIDIKAN KELUARGA


A.      Konsep Gender
1.         Pengertian Gender
Menurut WHO[1], gender Gender merujuk pada karakteristik sosial yang dibangun oleh perempuan dan laki-laki, seperti norma, peran dan hubungan dari dan antara kelompok-kelompok perempuan dan laki-laki. Ini bervariasi dari masyarakat untuk masyarakat dan dapat diubah. Sementara kebanyakan orang dilahirkan laki-laki atau perempuan, mereka diajarkan norma dan perilaku yang sesuai - termasuk bagaimana mereka harus berinteraksi dengan orang lain dari jenis kelamin yang sama atau berlawanan dalam rumah tangga, masyarakat dan tempat kerja. Ketika individu atau kelompok tidak "cocok" didirikan norma jender mereka sering menghadapi stigma, praktek diskriminasi atau pengucilan sosial - yang semuanya mempengaruhi kesehatan. Hal ini penting untuk peka terhadap identitas yang berbeda yang belum tentu cocok dengan laki-laki atau kategori jenis kelamin perempuan.
Menurut Deaux dalam (Stevenson, 1994)[2] istilah “gender” mengacu pada kondisi psikologis atau kategori sosial yang diasosiasikan dengan keadaan biologis seseorang. Hal senada juga disampaikan oleh Lips dalam (Stevenson, 1994) yang menyatakan bahwa gender adalah aspek non-fisiologis dari sex, harapan budaya terhadap femininitas dan maskulinitas.
Definisi gender menurut berbagai pustaka adalah sebagai berikut : 

    • Smith dalam Puspitawati (2012:2)[3] menyatakan bahwa, “Gender should be conseptualized as a set of relations, exixting in social institutions and reproduced in interpersonal interaction” (gender diartikan sebagai suatu set hubungan yang nyata di institusi sosial dan dihasilkan kembali dari interaksi antar personal). 
    • Ferree dalam Puspitawati (2012:2) menyatakan bahwa, “Gender is not a property of individuals but an ongoing interaction between actors and structures with tremendous variation across men‟s and women‟s lives “individually over the life course and structurally in the historical context of race and class”. (Gender bukan merupakan property individual namun merupakan interaksi yang sedang berlangsung antar aktor dan struktur dengan variasi yang sangat besar antara kehidupan laki-laki dan perempuan “secara individual‟ sepanjang siklus hidupnya dan secara struktural dalam sejarah ras dan kelas). 
    • West dan Zimmerman dalam Puspitawati (2012:2) menyatakan bahwa, “Gender is not a noun- a “being‟–but a “doing‟. Gender is created and reinforced discursively, through talk and behavior, where individuals claim a gender identity and reveal it to others”. (Gender bukan sebagai suatu kata benda - “menjadi seseorang”, namun suatu “perlakuan”. Gender diciptakan dan diperkuat melalui diskusi dan perilaku, dimana individu menyatakan suatu identitas gender dan mengumumkan pada yang lainnya). 
    • Nasarudin (2003:3)[4] mengatakan bahwa gender merupakan interpretasi dari budaya terhadap jenis kelamin, artinya gender murupakan efek yang timbul akibat adanya perbedaan anatomi biologi yang cukup jelas antara laki-laki dan perempuan. 
    • BKKBN[5] mendefinisikan gender perbedaan peran, fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gender memang terkait dengan sex, namun gender tidak sama dengan sex. Jika sex hanya sebatas fisiologi, maka gender lebih dari itu, melibatkan psikologi, culture, waktu dan lainnya. Secara umum, gender adalah sebuah konstruksi sosial yang bersifat relatif sesuai dengan masyarakat dan waktu tertentu, memiliki sistem kebudayaan tertentu yang berbeda dengan masyrakat lain dan waktu yang lain pula.

2.         Ciri-Ciri Gender
Jika kita berbicara masalah ciri, maka gender merupakan pengelompokan karakteristik yang tampak antara pria dan wanita berdasarkan perbedaan yang dilihat dari prilaku yang dimilikinya yang terbentuk secara alamiah dari proses sosial dan budaya. Menurut Bem (1981)[6] pada umumnya gender diklasifikasikan menjadi empat peran, yaitu maskulin, feminism, androgini dan tidak tergolongkan. Adapun pengertian masing-masing peran tersebut, yaitu :
a.         Tipe maskulin, yaitu manusia yang sifat kelaki-lakiannya diatas rata-rata, sifat kewanitaannya kurang dari rata-rata. Ciri-ciri yang berkaitan dengan gender yang lebih umum terdapat pada laki-laki, atua suatu peran atau trait maskulin yang dibentuk oleh budaya. Dengan demikian maskulin adalah sifat dipercaya dan bentuk oleh budaya sebagai ciri-ciri yang ideal bagi laki-laki.
b.        Tipe feminim, yaitu manusia yang sifat kewanitaannya diatas rata-rata, sifat kelelaki-lakiannya kurang dari rata-rata. Ciri-ciri atau trait yang umum terdapat pada perempuan daripada laki-laki. Ketika dikombinasikan dengan “stereotipikal”, maka ia mengacu ada trait yang diyakini lebih berkaitan pada perempuan daripada laki-laki secara kulturi pada budaya atau subkultur tertentu. Berarti, feminim merupakan ciri-ciri atau trait yang dipercaya dan dibentuk oleh budaya sebagai ideal bagi perempuan.
c.   Tipe androgini, yaitu manusia yang sifat kelaki-lakiannya maupun kewanitaannya diatas rata-rata. Selain pemikiran tentang maskulin dan feminitas sebagai berada dalam suatu garis kontinum, dimana lebih pada satu dimensi berarti kurang pada dimensi yang lain, ada yang menyatakan bahwa individu-individu dapat menunjukkan sikap ekspresif dan instrumental. Pemikiran ini memicu perkembangan konsep anrogini.
d.    Tipe tidak tergolongkan (undiferentiated), yaitu manusia yang sifat kelaki-lakiannya maupun kewanitaannya dibawah rata-rata. Tingginya kehadiran kerakteristik maskulin dan feminim yang diinginkan pada satu individu pada saat yang bersamaan (Santrok, 2003). Individu yang androgini adalah seorang laki-laki yang asertif (sifat maskulin) dan mengasihi (sifat feminim), atau seorang perempuan yang dominan (sifat maskulin) dan sensitif terdapat perasaan orang lain (sifat feminim). Beberapa penelitian menemukan bahwa androgini berhubungan dengan berbagai atribut yang sifatnya positif, seperti self-eksteem yang tinggi, kecemasan rendah, kreatifitas, kemampuan parenting yang efektif.

3.         Indikator Gender
Pada umumnya indikator didefinisikan sebagai alat ukur untuk menunjukkan suatu keadaan atau kecenderungan keadaan dari suatu hal yang menjadi pokok perhatian. Ini dapat menyangkut fenomena sosial, ekonomi, penelitian, proses suatu usaha peningkatan kualitas atau hal lainnya. Indikator dapat berupa informasi kuantitatif seperti ukuran dan angka, atau informasi kualitatif seperti atribut dan pendapat yang dapat menunjukkan kemungkinan perubahan. Indikator digunakan apabila fenomena yang akan dinilai perubahannya tidak langsung terlihat seperti halnya perubahan harga atau berat badan yang secara kuantitatif mudah diukur.[7]
a.         Indikator Kuantitatif
Pengelompokkan dapat dilakukan menurut berbagai kriteria, antara lain menurut tehapan kegiatan, dan menurut jumlah variabel yang dipakai.
1)        Menurut Tahapan Kegiatan
Rangkaian indikator menurut tahapan kegiatan ini biasa dikembangkan untuk evaluasi tingkat program dan proyek. Sebagai contoh untuk mengevaluasi suatu program pendidikan dapat disusun indikator sebagai berikut :
        • Indikator input : menunjukkan kontribusi awal seperti dana yang dialokasikan untuk gedung sekolah, misalnya 20% dari seluruh anggaran belanja negara untuk sektor pendidikan.
        • Indikator proses : menggambarkan aktivitas yang sedang berlangsung, seperti partisipasi sekolah anak usia 7-18 tahun adalah 79,35% 
        • Indikator output : pengukuran terhadap hasil kegiatan pendidikan, seperti tingkat melek huruf sebesar 92 %.
        • Indikator dampak : pengukuran hasil kegiatan proyek/program pendidikan secara menyeluruh dalam jangka panjang, seperti angka partisipasi angkatan kerja.
2)        Menurut Jumlah Variabel yang Dipakai
Indikator dapat menunjukkan suatu dimensi kejadian atau kehidupan atau multidimensi kejadian atau kehidupan yang digabungkan menjadi satu. Indikator yang pertama disebut indikator tunggal dan yang kedua disebut indikator komposit.[8]
Indikator tunggal sangat bermanfaat untuk menyusun rencana aksi dan intevensi. Indikator tunggal lebih mempunyai arti dan akan menjadi masukan bagi pembuat kebijakan suatu bidang secara lebih baik dari pada indikator komposit. Indikator komposit banyak digunakan dalam pemantauan dan evaluasi fenomena sosial karena seperti telah disebutkan didepan, fenomena sosial bersifat multidimensi. Cara penghitungan nilai indikator komposit ini secara sederhana dapat dilakukan dengan penjumlahan skor (menjadi indeks), namun cara ini banyak mendapat kritikan karena masalah pembobotan dan penjumlahan besaran yang berbeda. Para ahli sosiometrika telah banyak mengembangkan cara penghitungan indikator komposit seperti Skala Guttman dan Skala Liker.
b.        Indikator Kualitatif
Indikator kualitatif biasanya didefinisikan sebagai uraian mengenai pandangan dan penilaian sekelompok orang tentang suatu subyek yang spesifik. Berbeda dengan indikator kuantitatif yang sudah dikenal luas dan memperoleh legitimasi sebagai yang obyektif, banyak orang belum terbiasa dengan indikator kualitatif, yang memang relatif baru. Sebagian menganggap indikator kualitatif itu tidak ilmiah, tidakvalid, paling sedikit dianggap subyektif tidak dapat diukur sehingga tidak dapat dipercaya. Para perencana yang terbiasa dengan angka, sering kali tidak memberi perhatian pada indikator kualitatif yang dipandangnya hanya sebagai opini.
Sama halnya dengan indikator pada umumnya, indikator kualitatif. Juga dapat dikelompokkan menurut berbagai kriteria.Yang paling banyak dipakai adalah untuk mengukur kinerja sebuah kebijakan, program, proyek, kegiatan pembangunan melalui suatu rangkaian indikator kualitatif bersama-sama dengan indikator kuantitatif misalnya:
1)   Indikator input, yang mengukur beberapa vaniabel yang merupakan masukan atau kontribusi awal dalam suatu proyek. Misalnya : indikator kuantitatif yaitu 20% alakasi dana diperuntukkan bagi sektor pendidikan; dan indikator kualitatifnya adalah uraian permanfaatan dana tersebut. Untuk dapat menguraikan indikator pemanfaatan dana itu, rnaka sejumlah perranyaan-pertanyaan untuk indikator kualitatif perlu diajukan, antara lain bagaimana perincian alokasi dana tersebut (prioritas sekolah desa-kota; Jawa-luar Jawa; untuk rehabilitasi gedung; untuk seragam guru; untuk perpusatakaan, ruang bermain anak, ruang guru, dan seterusnya).
2)    Indikator proses, adalah indikator yang mengukur aktivitas yang sedang berlangsung. Misalnya : indikator kuantitatif yaitu 50,49% angka partisipasi sekolah anak laki-laki usia 16-18 tahun dan 48,03% angka partisipasi sekolah anak perempuan usia 16-18 tahun; dan indikator kualitatifnya adalah uraian mengapa angka partisipasi siswa perempuan menurun pada tingkat sekolah yang lebih tinggi dan bagaimana usaha menyetarakannya.
3)        Indikator output, adalah indikator yang mengukur hasil awal dari suatu kebijakan/program/proyek/kegiatan pembangunan. Misalnya : indikator kuantitatif yaitu 79% perempuan melek huruf (1990), meningkat menjadi 85%(1995), tetapi masih tertinggal dari laki-laki 90% (1990) dan 93% (1995). Indikator kualitatifnya adalah uraian mengapa kenaikan angka melek huruf perempuan lebih tinggi dari laki-laki dalam kurun waktu 5 tahun.
4)     Indikator dampak (adalah indikator yang mengukur hasil dari suatu intervensi (program, proyek) setelah kegiatan selesai (dalam jangka panjang). Misalnya: indikator kuantitatif adalah pola ketenagakerjaan diferensial yang terjadi karena pendidikan. Indikator kualitatifnya adalah uraian mengapa pola ketenagakerjaan berbeda antara propinsi A dan B meskipun tingkat pendidikan tidak terlalu berbeda jauh, mengapa pola ketenagakerjaan antara laki-laki dan perempuan berbeda meskipun jenis pendidikannya sama[9].

B.       Konsep Pendidikan Keluarga
1.         Pengertian Pendidikan Keluarga
Keluarga secara realitas merupakan lembaga pendidikan pertama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak dipersiapkan untuk mampu berbahasa, berpendapat, berkreasi, berimajinasi, hingga mampu memproduk sesuatu adalah berkat pendidikan pertama yang diterimanya dalam keluarga. Dengan kata lain, keluarga adalah pengantar atau bekal bagi setiap anak untuk memasuki pendewasaan secara berpikir, bersikap, bergerak hingga memutuskan suatu secara tepat.
Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang bersifat pembiasaan, spontanitas, unik dan mengesankan, materi pendidikannya berisi pengalaman kehidupan, media dan metodenya disesuaikan dengan keadaan atau kondisi setiap keluarga tanpa harus memerlukan biaya yang besar serta pengajar yang formal bahkan bisa dilakukan dalam waktu 24 jam.
Pendidikan adalah pengaruh yang dilaksanakan oleh orang dewasa atas generasi yang belum matang untuk penghidupan sosial (Emile Durkheim dalam Hufad, 2012:4). Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti, fikiran, dan tubuh anak, dalam pengertian tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu, supaya dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan alamnya dan masyarakatnya. Definisi pendidikan juga tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pedidikan Nasional, bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
D’Antonio (1983)[10] mendefinisikan keluarga sebagai suatu unit yang terdiri dari dua orang tua atau lebih, yang hidup bersama untuk suatu periode waktu, dan diantara mereka saling berbagi dalam suatu hal atau lebih, berkaitan dengan : pekerjaan, seks, kesejahteraan dan makanan anak-anak, kegiatan-kegiatan intelektual, spiritual dan rekreasi. Sedangkan Rollin dan Galligan dalam Sudiapermana (2012:12)[11] mendefinisikan keluarga sebagai suatu sistem interaksi semi tertutup diantara orang-orang yang bervariasi umur dan jenis kelaminnya, dimana interaksi tersebut terorganisasi dalam arti hubungan posisi sosial dengan norma dan peranan yang ditentukan, baik oleh individu yang berinteraksi maupun oleh masyarakat sebagai kekhasan dari sistem tersebut.
Pengertian pendidikan keluarga menurut Poggler dalam Hufad (1997:18-20)[12] menyatakan bahwa pendidikan keluarga bukanlah pendidikan yang diorganisasikan, tetapi pendidikan yang “organik” yang didasarkan pada “spontanitas”, intuisi, pembiasaan dan improvisasi. Ini berarti bahwa pendidikan keluarga adalah segala usaha yang dilakukan oleh orang tua dan pembiasaan dan improvisasi untuk membantu perkembangan pribadi anak. Sedangkan menurut Djamarah dalam Faidah (2013)[13] menyatakan bahwa pendidikan keluarga adalah pendidikan yang berlangsung di lingkungan keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga, atau proses transformasi perilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
2.         Ciri-Ciri Pendidikan Keluarga
Menurut Sanapiah Faisal (1981:50)[14] ciri-ciri pendidikan keluarga adalah :
    • Tidak pernah diselenggarakan secara khusus di sekolah 
    • Medan pendidikan yang bersangkutan tidak diadakan pertama-tama dengan maksud menyelenggarakan pendidikan
    • Pendidikan tidak terprogramkan
    • Tidak ada waktu belajar yang tertentu
    • Metode mengajarnya tidak formal 
    • Tidak ada evaluasi yang sistematis
    • Umumnya tidak diselenggarakan oleh pemerintah.
3.         Fungsi Keluarga dalam Pendidikan Anak
Dilihat dari sisi fungsi, setiap keluarga pada hakikatnya memiliki berbagai macam fungsi secara ekonomi, sosial, pendidikan, psikologis, hukum, reproduksi dan fungsi-fungsi lainnya. Fungsi ekonomi berarti keluarga menjadi tulang punggung memperoleh sekaligus mengelola kegiatan ekonomi secara professional. Antara penghasilan dan pengeluaran dapat tersusun dan terencana secara tepat sehingga tidak besar pasak dari pada tiang.
Selain beberapa fungsi di atas, Helmawati[15] juga menambahkan bahwa fungsi keluarga mencakup: pertama, fungsi agama. Fungsi ini dilaksanakan melalui penanaman nilai-nilai keyakinan berupa iman dan takwa. Fungsi agama dalam istilah lain disebut fungsi religious berhubungan dengan perintah untuk senantiasa menjalankan perintah diri secara optimal. Kedua, fungsi biologis sebagai fungsi pemenuhan kebutuhan agar keberlangsungan hidupnya tetap terjaga. Ketiga, fungsi ekonomi yaitu berhubungan dengan pengaturan penghasilan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga. Keempat, fungsi kasih sayang yakni bagaimana setiap anggota keluarga harus menyayangi satu sama lain. Kelima, fungsi perlindungan yaitu setiap anggota keluarga berhak mendapatkan perlindungan dari anggota lainnya. Sehingga kepala keluarga harus mampu memberikan keamanan dan kenyamanan dalam keluarga sehingga tidak sepantasnya terjadi sikap saling menyakiti satu sama lain. Keenam, fungsi rekreasi adalah penyegaran pikiran, menenangkan jiwa dalam bentuk rekreasi guna mengakrabkan tali kekeluargaan.
Mengacu pada makna keluarga dalam konteks sosiokultural Indonesia pada khususnya, diketahui bahwa keluarga memiliki fungsi-fungsi: (1) sebagai peresekutuan primer, yaitu hubungan antara anggota keluarga bersifat mendasar dan eksklusif karena faktor ikatan biologis, ikatan hukum dan karena adanya kebersamaan dalam mempertahankan kehidupan; (2) sebagai pemberi afeksi (kasih sayang) atas dasar ikatan biologis atau ikatan hukum yang didorong oleh rasa kewajiban dan tanggung jawab; (3) sebagai lembaga pembentukan yang disebabkan faktor anutan, keyakinan, agama, nilai budaya, nilai moral, baik bersumber dari dalam keluarga maupun dari luar; (4) sebagai lembaga pemenuhan kebutuhan, baik yang bersifat material maupun mental spiritual; (5) sebagai lembaga partisipasi dari kelompok masyarakatnya, yaitu berinteraksi dalam berbagai aktivitas, baik dengan keluarga lain, masyarakat banyak maupun dengan lingkungan alam sekitarnya.[16] 
Dari sejumlah fungsi di atas, dapat ditarik simpulan bahwa keluarga menanggungjawabi dalam pembentukan sumber daya insan kamil, karena memang disitulah untuk pertama kali seseorang mengawali kehidupan. Seseorang lahir, menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan selanjutnya melepaskan diri dari keluarganya guna membentuk keluarga baru. Karena itu, maka kepribadian seseorang banyak dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya.


[2] Stevenson, M. R. 1994. Gender Roles Through the Life Span. A Multidisciplinary Perspective. Muncie, Indiana : Ball State University.
[3] Puspitawati, Herien. 2012. Gender dan Keluarga : Konsep dan Realita di Indonesia. Bogor : PT. IPB Press.
[4] Nasaruddin, Umar. 2003. Pemahaman Islam dan Tantangan Keadilan Gender. Yogyakarta : Gama Media.
[5] BKKBN. 2007. Konsep dan Teori Gender.
[6] Dikutip dari repository.widyatama.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/.../Bab%202.pdf
[7] Bappenas. 2001. Indikator Gender untuk Perencanaan Pembangunan
[8] Ibid. Hal.. 28
[9] Indikator dampak dalam proyek, harus diperlakukan secara lebih hati-hati, karena banyaknya faktor yang ikut mempengaruhi, termasuk intervensi berbagai macam program yang serupa atau yang berkaitan dengannya.
[10] William V. D’Antonio. 1983. “Family Life, Religion, and Society Values and Structures”. Beverly Hills: Sage Publications. Pp. 81-108
[11] Sudiapermana, Elih. 2012. Pendidikan Keluarga : Sumberdaya Pendidikan Sepanjang Hayat. Bandung : Edukasia Press
[12] Hufad, Achmad. 1997. Pengaruh Pendidikan Keluarga terhadap Sosialisasi dan Perkembangan Kepribadian Anak. Pp. 18-20
[13] Dikutip dari digilib.uinsby.ac.id/2042/5/Bab%202.pdf
[14] Faisal, Sanapiah. 1981. Pendidikan Luar Sekolah. Surabaya : Usaha Nasional
[15] Helmawati, Pendidikan dalam Keluarga., hal. 45.
[16] Hufad, Acmad. 2012. Keluarga dan Pendidikan Anak (Tinajuan Sosiologi Agama terhadap proses Pendidikan Anak dalam Keluarga).

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!