Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 13 Oktober 2016

KONSEP DASAR KELUARGA



A.   Pengertian Keluarga
Banyak ahli mengemukakan bahwa keluarga memiliki definisi yang sangat komplek. Pemahaman terhadap konsep keluarga tersebut lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat di setiap negara. Sebab di negara-negara Barat khususnya, pasangan gay atau lesbi yang terikat dalam jalinan pernikahan hidup  secara bersama disebut pula keluarga. Sedangakan di Indonesia, pasangan tersebut meskipun hidup dalam satu rumah tidak dapat dikatakan sebagai keluarga.
Secara etimologis keluarga dalam istilah jawa terdiri dari dua kata yakni kawula dan warga. Kawula berarti abdi dan warga adalah anggota. Artinya kumpulan individu yang memiliki rasa pengabdian tanpa pamrih demi kepentingan seluruh individu yang bernaung didalamnya. Keluarga adalah suatu kelompok sosial yang ditandai oleh tempat tinggal bersama, kerjasama ekonomi, dan reproduksi yang dipersatukan oleh pertalian perkawinan atau adopsi yang di setujuai secara sosial, yang saling berinteraksi sesuai dengan peran-peran sosialnya.[1]
Secara normatif, keluarga adalah kumpulan bebrapa orang yang karena terikat oleh suatu ikatan perkawinan, lalu mengerti dan mersa berdiri sebagai suatu gabungan yang khas dan bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kebahagian, kesejahteraan, dan ketentraman semua anggota yang ada di dalam keluarga tersebut.[2]
Secara detinitif, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas suami istri, suami istri dan anak-anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.[3] Definisi tersebut pada hakikatnya lebih menekankan pada komposisi jumlah anggota keluarga. Adapun pengertian lain sebgaimana dikemukakan Pitts dalam Sunarti,[4] keluarga adalah struktur yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis anggotanya, serta untuk memelihara masyarakat yang lebih luas.
Makna keluarga dapat ditinjau dari dimensi hubungan darah dan hubungan sosial. Keluarga dalam dimensi hubungan darah, merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat oleh hubungan darah antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan dimensi hubungan sosial, keluarga merupakan satu kesatuan sosial yang diikat oleh adanya saling hubungan, atau interaksi dan saling mempengaruhi antara satu denga yang lainnya. Walaupun diantara mereka tidak ada hubungan darah.[5]
Dalam pengertian lain, Keluarga juga dapat dipahami sebagai sebuah sistem yang saling berhubungann dan saling ketergantungan saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Menurut Megawangi dalam Sochib, keluarga sebagai sistem diartikan sebagai unit sosial dimana individu terlibat secara intim didalamnya, dibatasi oleh aturan keluarga, terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara anggota keluarga setiap waktu.[6]
Dalam konsep islam, sebagaimana dikemukakan Achmad Hufad,[7] kata keluarga dipersentasikan melalui kata ahl. Kata ini terdapat dalam Al-quran dengan mempunyai arti yang bermacam-macam. Misalnya dalam QS. Al-Baqarah: 126, kata keluarga diartikan sebagai penduduk suatu negeri. Dalam QS. An-Nisa: 58 mengartikan keluarga sebgai orang yang berhak menerima sesuatu. Selebihnya kara ahl dalam al-Qur’an ditunjukan pada arti kumpulan laki-laki dan perempuan yang diikat oleh tali pernikahan dan di dalamnya terdapat orang yang menjadi tanggungannya, seperti anak.
Dari beberapa pendapat di atas, pengertian keluarga secara realitas adalah suatu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai satu kesatuan atau unit yang diikat dalam tali pernikahan dan hidup dalam satu atap/rumah. Di dalamnya ada aturan yang harus ditaati oleh penghuni rumah tersebut.

B.    Fungsi Keluarga
Dilihat dari sisi fungsi, setiap keluarga pada hakikatnya memiliki berbagai macam fungsi secara ekonomi, sosial, pendidikan, psikologis, hukum, reproduksi dan fungsi-fungsi lainnya. Fungsi ekonomi berarti keluarga menjadi tulang punggung memperoleh sekaligus mengelola kegiatan ekonomi secara professional. Antara penghasilan dan pengeluaran dapat tersusun dan terencana secara tepat sehingga tidak besar pasak dari pada tiang.
Selain beberapa fungsi di atas, Helmawati[8] juga menambahkan bahwa fungsi keluarga mencakup: pertama, fungsi agama. Fungsi ini dilaksanakan melalui penanaman nilai-nilai keyakinan berupa iman dan takwa. Fungsi agama dalam istilah lain disebut fungsi religious berhubungan dengan perintah untuk senantiasa menjalankan perintah diri secara optimal. Kedua, fungsi biologis sebagai fungsi pemenuhan kebutuhan agar keberlangsungan hidupnya tetap terjaga. Ketiga, fungsi ekonomi yaitu berhubungan dengan pengaturan penghasilan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga. Keempat, fungsi kasih sayang yakni bagaimana setiap anggota keluarga harus menyayangi satu sama lain. Kelima, fungsi perlindungan yaitu setiap anggota keluarga berhak mendapatkan perlindungan dari anggota lainnya. Sehingga kepala keluarga harus mampu memberikan keamanan dan kenyamanan dalam keluarga sehingga tidak sepantasnya terjadi sikap saling menyakiti satu sama lain. Keenam, fungsi rekreasi adalah penyegaran pikiran, menenangkan jiwa dalam bentuk rekreasi guna mengakrabkan tali kekeluargaan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara substantive keluarga memiliki fungsi yang saling terkait antara fungsi satu dengan fungsi yang lainnya. Keterkaitan itu pada prinsipnya sebagai wahana untuk mengembangkan seluruh potensi anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya dimasyarakat dengan baik serta memberikan kepuasan dan lingkungan sosial yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera.




[1] Achmad Hufad, “keluarga dan pendidikan anak: Tinjauan Sosiologi Agama Terhadap Proses Pendidikan Anak dalam Keluarga”, Makalah, hal.2.
[2] Maulana M. Ali, Islamologi (Din al-Islam) terj. Kaelani dan Bahrun (Jakarta: Ikhtiar Baru, 1980), hal.406.
[3] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 Bab I, Pasal I Ayat 6 Tentang Perkembangan  Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
[4] Euis Sunarti, “Fungsi dan Peran Keluarga”, Makalah, hal.5.
[5] Muhammad Sochib, Pola Asuh Orang Tua dalam Membentuk Anak Mengembangkan Disiplin Diri (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 17.
[6] Ibid., hal. 5.
[7] Achmad Hufad, “Keluarga dan Pendidikan Anak: Tinjauan Sosiologi Agama Terhadap Proses Pendidikan Anak dalam Keluarga”, Makalah, hal. 3.
[8] Helmawati, Pendidikan dalam Keluarga., hal. 45.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!