Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 30 Oktober 2016

PENDIDIKAN SEKS BERDASARKAN USIA


Dalam memberikan pendidikan seks apabila ditanyakan kapan waktu yang tepat untuk mulai memberikannya, maka jawabannya adalah tidak ada batasan yang pasti. Orang tua bisa mengajarkan pendidikan seks untuk anaknya tepat pada saat anak mulai mengajukan pertanyaan. Jawaban yang kita berikan nantinya pun harus mengacu pada usia anak sehingga pemberian jawaban dapat dilakukan secara proporsional.
Ada lima tahap perkembangan seks manusia yaitu tahap oral, anal, phallic, talency dan genital Sigmund Freud dalam Hana (2009 : 70). Dimana tahap perkembangan seks ini yang secara signifikan terinci selama masa awal kehidupannya, dan dalam setiap perkembangan ini manusia akan selalu berusaha untuk memuaskan naluri seksualnya melalui eksplorasi anggota-anggota tubuhnya.
Tahap pertama atau tahap oral adalah tahapan paling awal kegiatan seks manusia yang dimulai sejak lahir hingga akhir tahun pertama kehidupannya. Masa ini ditandai dengan kepuasan yang diperoleh anak melalui daerah oral atau mulut. Pada tahap ini anak memperoleh informasi seksual melalui aktivitas mulutnya seperti menghisap (susu, jari dan lain-lain). Pada usia 0-1 tahun, bayi mendapatkan perasaan nikmat ketika menyusui melalui puting ibunya. Sedangkan pada usia 1-2 tahun, anak terlihat cenderung antusias memasukkan apa saja yang dilihat ke dalam mulutnya.
Tahap kedua disebut juga dengan masa anal. Tahap ini adalah tahap dimana manusia akan mendapat kesenangan seksual di daerah sekitar dubur atau anusnya. Rasa nikmat dirasakan melaui aktivitas yang menyangkut proses pembuangan. Mereka cenderung berlama-lama di kamar mandi. Anak usia 2-4 tahun juga sering menahan kencing atau buang air besar.
Tahap ketiga atau tahap phallic yaitu tahap dimana seorang anak yang sudah bisa mengidentifikasi kelaminnya. Tahap ini berlangsung antara umur 3-6 tahun. Pada tahap ini anak mulai menunjukkan keinginan yang lebih besar terhadap perbedaan yang ada di antara laki-laki dan perempuan
Tahap keempat disebut juga tahap talency yaitu tahap yang dicapai begitu anak memasuki usia remaja. Sering disebut juga dengan masa laten karena anak cenderung menekan seluruh keinginan erotisnya hinggga nanti mencapai usia pubertas. Pada tahap talency ketertarikan anak pada seksualitas biasanya akan dikalahkan dengan keingintahuannya yang lebih tinggi tentang hal-hal lain yang bersifat ilmiah dan sains. Namun demikian, ada juga anak-anak yang menunjukkan kenaikan rasa tertarik pada seks, yang ditandai dengan munculnya aktivitas rutin semacam masturbasi ataupun manipulasi genital. Anak akan merasakan nikmat ketika alat kelaminnya disentuh atau diraba. Pada masa ini anak pun mulai membandingkan alat kelamin miliknya dengan temannya yang lain. Pada masa ini anak mulai mengeksplorasi bagian-bagian tubuhnya secara menyeluruh. Namun orang tua atau pendidik sebaiknya mengalihkan perhatian anak ke hal lain untuk mencari sensasi yang lebih positif. Misalnya  dengan olah raga atau mengembangkan minat seninya.
Tahap kelima atau tahap genital yaitu tahap akhir dari keseluruhan proses perkembangan seksual seorang anak. Masa ini menandai puncak perkembangan dan kematangan seksual anak dimana seluruh kesenangan seksual akan terpusat di daerah genetil atau kelamin. Masa ini dikenal dengan dengan istilah pubertas yang menandai terjadinya perubahan fisiologi dan hormonal tubuh anak secara revolusioner.
Untuk memulai pendidikan seks di rumah hendaknya jangan menyamakan persepsi orang dewasa dengan anak. Jika anak bertanya mengenai seks, bukan berarti berfikir jorok. Tetapi mereka mananyakan hal-hal yang dia amati.
Pendidikan seks berdasarkan usia yaitu pada usia 0-2 tahun anak mulai mengenal dunianya; usia 3-6 tahun anak mulai merasa, meraba dan belajar; usia 7-11 tahun anak mulai memberikan pertanyaan yang semakin membingungkan (Alya Andika, 2010 : 50-70). Adapun secara rinci dijelaskan sebagai berikut :
1.                     Usia 0-2 Tahun (Anak Mulai Mengenali Dunianya)
Bagi orang tua yang memiliki bayi atau yang sedang belajar berjalan, pasti berpendapat bahwa perkembangan seksual anak masih lama. Tapi sebenarnya perkembangan seksualnya telah dimulai sejak awal tahun pertama. Bayi, batita, pra-sekolah dan anak usia sekolah mengalami perkembangan emosi dan fisik serta seksual yang bervariasi. Seperti halnya mereka mengenali orang tuanya, lingkungan dan benda sekitar. Begitu pula halnya mereka mengenali diri sendiri baik fisik maupun emosi.
Pengenalan yang baik diawal tahun-tahun pertamanya menjadi dasar yang kuat. Ikatan emosional paling awal pada bayi dibentuk bersama orang tua yaitu melalui kontak fisik untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang mereka. Melalui sentuhan fisik positif lainnya yang melambangkan cinta. Keunikan bentuk keintiman fisik dan emosi antara orang tua dan bayi dapat menjadi pijakan awal bagi kematangan bentuk keintiman fisik dan kasih sayang yang kelak berkembang menjadi bagian seksualitas dewasa.
Di usia 2 atau 3 tahun, anak mulai tertarik akan kelamin. Kepedulian ini dikenal sebagai identitas kelamin. Anak mulai memahami perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta dapat mengidentifikasikan dirinya dan orang lain. Hal ini sebagai kombinasi pembelajaran yang didapat secara biologis dan lingkungan. Diusia ini pula anak mulai menghubungkan perilaku tertentu dengan jenis kelamin yang disebut aturan kelamin. Seperti sifat maskulin dan feminin.
Pendidikan seks mulai diberikan pada anak usia bawah dua tahun, ketika anak sudah bisa berjalan, kita sudah bisa mengajarkan cara membuang air, cebok apabila sudah membuang air, memakai baju dan berperilaku yang selayaknya anak laki-laki dan perempuan.
2.                     Usia 3-6 Tahun (Anak Mulai Merasa, Meraba, dan Belajar Berbeda)
Memasuki usia 3 tahun, rasa keingintahuan anak menjadi bertambah besar. Diusia ini anak sudah mampu menunjukkan emosi yang bermacam-macam dan mengalami perkembangan pesat pada kemampuan kognitifnya. Pada usia ini anak berada pada masa pra-operasional sehingga bisa diajak memahami sesuatu lewat stimulus, imajinasi serta mampu mengelompokkan warna, benda maupun ukuran. Untuk itu sebagai pendidik dan orang tua perlu memahami apa saja yang bisa dicerna dan ditangkap anak anda untuk memberikan pendidikan yang benar sesuai perkembangan emosi dan mentalnya.
a.    Tahap Simbolik
Untuk belajar memahami sesuatu, pada tahap usia ini anak terbiasa menggunakan simbol. Poin pentingnya yaitu masukan atau stimulus yang diberikan haruslah konkret, bisa dilihat, dipegang, dilakukan dan dialami secara langsung. Hal yang sama bisa kita terapkan untuk pendidikan seks pada anak.
b.    Berimajinasi
Pada tahap ini anak sering melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati perilaku orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu pengalaman-pengalaman tersebut anak terapkan dalam kegiatan bermain khayal. Tak heran jika anak diusia ini sering mempraktikkan apa yang dilihatnya di televisi. Tetapi pada hakekatnya anak tidak mengerti apa yang tengah ia lakukan, tetapi hanya rasa tertarik dengan apa yang dilihatnya. Selain itu diusia ini anak tidak hanya tertarik pada tubuhnya tetapi juga tubuh orang lain.
c.    Mengelompokkan Benda
Kemampuan lainnya yang berkembang adalah anak mulai mampu mengelompokkan benda, warna, bentuk, maupun ukuran. Anakpun terlatih untuk bisa berfikir secara logis. Bukan hanya benda tetapi pada usia ini anak juga bisa diajarkan untuk mengelompokkan fungsi tubuhnya. Pada anak yang telah berusia 5 tahun sudah bisa dikenalkan perbedaan tubuh anak-anak dengan tubuh dewasa. Tentu saja pengenalan dilakukan oleh ibu dengan anak perempuannya dan begitu juga untuk anak laki-laki.
Pada usia ini, kebanyakan anak-anak sudah lebih memahami dan melanjutkan eksplorasi tubuh mereka untuk tujuan tertentu. Biasanya anak menemukan sensasi kenikmatan lewat eksplorasi tersebut.
3.           Usia 7-11 Tahun (Anak Mulai Bertanya yang Semakin Membingungkan)
Usia 7-11 tahun merupakan masa dimana anak-anak mulai meninggalkan sikap egosentrisnya. Anak-anak tidak lagi bersikap pelit terhadap apa yang dimilikinya akan tetapi mereka mulai bermain bersama secara berkelompok dan mudah untuk menjalin kerja sama.
Pada usia ini, anak memperoleh lingkungan baru yakni sekolah. Teman-teman sekolah menjadi penting. Dari sini arah pergaulannya pun mulai menentukan sikapnya. Anak juga tidak lagi merasa puas dengan jawaban yang sederhana akan tetapi mereka sudah mulai membangun kesimpulan dengan banyak arah. Disisi lain, anak mulai berkenalan dengan segala tuntutan dan tanggung jawab. Fase ini merupakan saat yang tepat untuk memberikan pendidikan seks dan reproduksi dalam istilah yang lebih rumit. Tak hanya sekedar mengenal dan mengetahui fungsi organ reproduksi yang tampak, anak sudah mulai bisa mempelajari tentang apa yang ada didalam tubuhnya.
Selain itu keingintahuan tentang aspek seksual mulai muncul. Sering ada pertanyaan yang berkaitan dengan organ reproduksinya dan membandingkan dengan orang lain. Selain mengantisipasi perubahan fisik ada baiknya jika mulai lebih menekankan nilai-nilai dalam masyarakat. Diusia ini anak telah mengerti aturan main yang berlaku serta merupakan masa dimana mereka mampu membedakan baik dan buruk dan mengenali hubungan sebab akibat. Masa yang tepat untuk pengenalan secara mendalam identitas diri terutama organ biologis terhadap lingkungannya. Mulailah mengajarkan penjagaan privasi diri dan lainnya.
Kita sebagai orang tua bisa memanfaatkan golden moment (peristiwa emas) untuk lebih memberikan pemahaman tentang seks. Seiring pertumbuhannya, anak terus melanjutkan pemahaman dan pengalaman tentang tubuh mereka dan perubahan fisik sebagai bagian dari perkembangannya.
REFERENSI :
Andika, Alya. 2010. Bicara Seks Bersama Anak. Yogyakarta : Pustaka Anggrek
Yasmira, Hana. 2009. Ayo Ajarkan Anak Seks. Jakarta : PT Elex Media Komputindo

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!