Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 24 Oktober 2016

TEORI KONFLIK DAN UPAYA PEMECAHANNYA



Indonesia memang merupakan negara yang tingkat heterogenitasnya tinggi, maka sangat rentan muncul gesekan-gesekan atau konflik. Dalam kesempatan kali ini saya akan sedikit menjabarkan terlebih dahulu yang dimaksud dengan konflik vertikal dan horizontal. 1) konflik vertikal adalah gesekan yang terjadi antar tingkat kelas, golongan atau strata yang berbeda, baik itu antara golongan yang rendah dengan golongan yang lebih tinggi posisinya. Contohnya konflik antara kaum buruh dengan pengupah (mandor/manager) akibat sistem upah yang tidak sesuai, regulasi kerja yang tidak sesuai dan lain-lain. 2) konflik horizontal adalah konflik yang terjadi antar individu atau kelompok yang sekelas atau sederajat. Contohnya konflik antar supporter sepak bola, yang mana sering terjadi bentrokan antar supporter akibat saling mengejek dan menganggap tim yang mereka dukung paling benar sehingga memicu kerusuhan yang menyebabkan kekerasan.
Ada tiga teori konflik yang saya anggap pandangannya cukup bagus dalam melihat kondisi heterogenitas yang terjadi pada manusia, antara lain:
1)        Ibn Khaldun
Beliau adalah seorang tokoh yang lahir di Tunisia dan hidup dipenghujung abad pertengahan zaman renaissance yaitu pada abad ke-14 Masehi. Menurut beliau, watak psikologis manusia merupakan suatu faktor yang penting untuk diperhitungkan. Manusia pada dasarnya mempunyai sifat agresif di dalam dirinya. Potensi ini muncul karena adanya pengaruh animal power dalam dirinya. Karena potensi inilah manusia juga dikenal sebagai rational animal. Potensi lain yang ada didalam diri manusia adalah potensi akan cinta dengan kelompoknya. Ketika manusia hidup bersama-sama dalam suatu kelompok maka fitrah ini mendorong terbentuknya rasa cinta terhadap kelompok (ashobiyah). Kelompok ashobiyah berbasis ada identitas golongan, etnis, maupun tribal. Kelompok sosial dalam struktur sosial manapun dalam masyarakat dunia memeberi kontribusi terhadap berbagai konflik [1] .
Ashobiyah merupakan faktor pendukung yang sangat mempengaruhi terjadinya konflik yang terbagi atas lima jenis[2], yaitu : 1) Ashobiyah kekerabatan dan keturunan, adalah Ashobiyah yang paling kuat. 2) Ashobiyah pesekutuan, terjadi karena keluarnya seseorang dari garis keturunanya yang semula ke garis keturunan yang lain. 3) Ashobiyah kesetiaan yang terjadi karena peralihan seseorang dari garis keturunan dan kekerabatan ke keturunan yang lain akibat kondisi-kondisi sosial. Dalam kasus yang demikian, Ashobiyah timbul dari persahabatan dan pergaulan yang tumbuh dari ketergantungan seseorang pada garis keturunan yang baru. 4) Ashobiyah penggabungan, yaitu Ashobiyah yang terjadi karena larinya seseorang dari keluarga dan kaumnya dan bergabung pada keluarga dan kaum lain. 5) Ashobiyah perbudakan yang timbul dari hubungan antara para budak dengan tuan-tuan mereka.
Dalam hal ini, Ibn Khaldun sudah memperkirakan bahwa pada masa yang akan datang akan muncul konflik-konflik yang terjadi di masyarakat. Mulai dari yang berhubungan dengan urbanisasi, nepotisme dan loyalitas yang salah, kontestasi antar suku dalam rangka merebut dan mempertahankan kekuasaan, keadaan sosiopolitik masyarakat, aspek ekonomi, politik kekuasaan, dan rusaknya solidaritas.

2)        George Simmel
Beliau dikenal dengan bapak sosiologi konflik, seperti dalam artikelnya The Sociology of conflict mengungkapkan bahwa individu menjalani proses sosialisasi, mereka pada dasarnya pasti mengalami konflik. Ketika terjadi sosialisasi terdapat dua hal yang mungkin terjadi, yaitu sosialisasi yang menciptakan asosiasi (individu berkumpul sebagai kesatuan kelompok) dan disosiasi (individu saling bermusuhan dalam satu kelompok). Simmel menyatakan bahwa unsur-unsur yang sesungguhnya dari disosiasi adalah sebab-sebab konflik.
Simmel dalam Novri Susan (2009:48) berargumen ketika konflik menjadi bagian dari interaksi sosial, maka konflik menciptakan batas-batas antara kelompok dengan memperkuat kesadaran internal. Permusuhan timbal balik tersebut mengakibatkan terbentuk stratifikasi dan divisi-divisi sosial, yang pada akhirnya akan menyelamatkan dan memelihara sistem sosial.
Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat Struktur sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup pelbagai proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah-pisahkan, namun dapat dibedakan dalam analisa. Menurut Simmel konflik tunduk pada perubahan. Kemudian Coser mengembangkan proposisi dan memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi- kondisi di mana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka masyarakat.
Beberapa upaya yang disampaikan oleh George Simmel untuk memecahkan konflik pada masyarakat multikultural yaitu :  a) Kemenangan di satu pihak atas pihak lainnya. Contoh ketika pemilihan kepala daaerah, sering terjadi sengketa antara yang pihak mengklaim menang dan pihak yang mengklaim dicurangi, setelah masalah tersebut diseleaikan di Mahkamah Konstitusi, maka konflik telah berakhir sudah. b) Kompromi atau perundingan diantara pihak-pihak yang sedang bersengketa atau sedang bertikai, sehingga nantinya diharapkan tidak ada pihak yang sepenuhnya menang dan tidak ada pihak yang merasa kalah, c) Rekonsiliasi antara pihak-pihak yang bertikai, hal ini akan mengembalikan suasana persahabatan dan saling percaya diantara pihak-pihak yang bertikai tersebut. Contoh kasus yang diselesaikan dengan cara ini adalah ketika penyelesaian konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia terkait dengan klaim kepulauan Ligitan dan Sipadan. d) Saling memaafkan atau kedua belah pihak dengan sikap ksatria mau memaafkan satu sama lain. e) Membuat kesepakatan untuk tidak berkonflik lagi. Contoh kasus dalam dunia sepak bola, antara supporter Persib Bandung dengan supporter Persija Jakarta yang dikenal dengan sering terjadi gesekan. Namun beberapa tahun belakangan ini telah terjadi kesepakatan antara presiden kedua supporter untuk berdamai dan tidak berkonflik, sehingga diharapkan nantinya apabila Persib bermain di Jakarta akan aman-aman saja begitupun sebaliknya.

3)        Ralf Dahrendorf
Beliau adalah seorang profesor di Hamburg Jerman yang terkenal dengan karyanya The Modern Sociel Conflict Society. Ralf berasumsi bahwa setiap masyarakat pasti akan tunduk pada proses perubahan, dan pertikaian serta konflik ada dalam sistem sosial juga berbagai elemen kemasyarakatan memberikan kontribusi bagi disintegrasi dan perubahan. Suatu bentuk keteraturan dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang memiliki kekuasaan, sehingga ia menekankan tentang peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.
Selain itu, Ralf Dahrendorf juga menyatakan bahwa masyarakat memiliki dua wajah berbeda. Wajah masyarakat menurutnya tidak selalu dalam kondisi terintegrasi, harmonis, dan saling memenuhi, tetapi ada wajah lain yang memperlihatkan konflik dan perubahan. Lalu beliau beranggapan bahwa konflik hanya muncul melalui relasi-relasi sosial dalam sistem. Setiap individu atau kelompok yang tidak terhubung dalam sistem tak akan mungkin terlibat dalam konflik. Inilah yang Dahrendorf sebut dengan “integrated into a common frame of reference”. Analisis yang dipakainya adalah pengaruh konflik yang kemudian menciptakan perubahan-perubahan pola interaksi dalam sebuah sistem. Berlawanan dengan tradisi fungsionalisme struktural yang menganalisis berdasarkan konsensus yang disepakati oleh para anggota sistem sosial.

Dari ketiga tokoh yang mengemukakan teori konflik tersebut diatas, maka dapat saya asumsikan gagasan saya terkait solusi yang dapat ditempuh sebagai upaya dalam pemecahan masalah, yaitu 1) Model penyelesaian masalah harus berdasarkan langsung pada konfliknya, maksudnya kita mengetahui dulu sumber-sumber konflik berdasarakan data dan fakta, relasi, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kepentingan dan strukturalnya. 2) Manawarkan metode untuk mengakhiri konflik tersebut yang tidak menguntungkan satu pihak dan tidak juga merugikan pihak lain. 3) Memberikan pencerahan terkait adanya pluralisme budaya yang ada di Indonesia bahwa NKRI ini kaya karena terdiri banyak kebudayaan, perbedaan maka menyartu menjadi bangsa yang kuat. 4) penyelesaian menggunakan perantara pihak ketiga bisa dengan kompromi dan rekonsiliasi.


[1] Dikutip dari buku (Susan, Novri. 2009. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-isu Kontemporer. Jakarta : Kencana)
[2] Menurut Abdul Raziq al-Mukhi, dikutip dari (http://sumber-ilmu-islam.blogspot.com/2015/06/teori-teori-konflik-ibnu-khaldun.html) pada tanggal 30 Desember 2015

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!