Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 14 November 2016

KONSEP DASAR PELATIHAN




1.         Pengertian Pelatihan
Istilah pelatihan merupakan terjemahan dari kata “training” dalam bahasa inggris. Secara harfiah akar kata “training” adalah “train” yang berarti : 1. memberikan pelajaran dan praktek (give teaching and practice), 2. menjadikan berkembang dalam arah yang dikehendaki (cause to grow in a required direction), 3. persiapan (preparation), dan  4. Praktek (practice).
Menurut Michael J. Jucius (1972) dalam Mustafa kamil (2010 :3)[1] mengemukakan “training is the act here to indicate any process by which the aptitudes, skill” ( istilah latihan yang dugunakan disini adalah untuk menunjukan setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan).
Berdasarkan pendapat diatas menunjukkan pelatihan adalah suatu proses untuk mengembangkan suatu bakat dan keterampilan melalui pemberian materi pelajaran dan praktek yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.   
Sikula dalam Sumantri (2000:2)[2] mengartikan pelatihan sebagai: “proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisir. Para peserta pelatihan akan mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang sifatnya praktis untuk tujuan tertentu”. Sedangkan Michael J. Jucius dalam Moekijat (1991 : 2)[3] menjelaskan istilah latihan untuk menunjukkan setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan dan kemampuan pegawai guna menyelesaikan pekerjaan-­pekerjaan tertentu.   
Hadari Nawawi (1997)[4] menyatakan bahwa pelatihan pada dasarnya adalah proses memberikan bantuan bagi para pekerja untuk menguasai keterampilan khusus atau membantu untuk memperbaiki kekurangannya dalam melaksanakan pekerjaan. Fokus kegiatannya adalah untuk meningkatkan kemampuan kerja dalam memenuhi kebutuhan tuntutan cara bekerja yang paling efektif pada masa sekarang.
Pengertian-pengertian di atas mengarahkan kepada penulis untuk menyimpulkan bahwa yang dimaksud pelatihan dalam hal ini adalah proses pendidikan yang di dalamnya ada proses pembelajaran dilaksanakan dalam jangka pendek, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan, sehingga mampu meningkatkan kompetensi individu untuk menghadapi pekerjaan di dalam organisasi sehingga tujuan organisasi dapat tercapai baik di masa yang sekarang ini maupun yang akan datang.  
2.         Tujuan Pelatihan
Moekijat (1991) mengatakan bahwa tujuan umum pelatihan adalah:
a.              Untuk mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif
b.             Untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional
c.              Untuk mengembangkan sikap, sehingga dapat menimbulkan kemauan untuk bekerja sama
Dapat disimpulkan bahwa tujuan dari suatu pelatihan  adalah untuk mengembangkan sikap, pengetahuan dan keahlian seseorang.
3.         Prinsip-Prinsip Pelatihan
Karena pelatihan merupakan bagian dari proses pembelajaran, maka prinsip-prinsip pelatihan pun dikembangkan dari prinsip-prinsup pembelajaran. Prinsip umum agar pelatihan berhasil adalah sebagai berikut:
a.              prinsip perbedaan individu
          perbedaan-perbedaan individu dalam latar belakang sosial, pendidikan, pengalaman, minat, bakat, dan kepribadian harus diperlihatkan dalam menyelenggarakan pelatihan.
b.             Prinsip motivasi
          Agar peserta pelatihan belajar dengan giat perlu ada motivasi. Motivasi dapat berupa pekerjaan atau kesempatan kerja atau usaha, penghasilan, kenaikan pangkat atau jabatan, dan peningkatan kesejahteraan serta kualitas hidup. Dengan begitu, pelatihan dirasakan bermakna oleh peserta pelatihan.
c.              Prinsip pemilihan dan pelatihan para pelatih
          Efektivitas program pelatihan antara lain bergantung pada para pelatih yang mempunyai minat dan kemampuan melatih, anggapan bahwa seseorang yang dapat mengerjakan sesuatu dengan baik akan dapat melatihnya dengan baik pula tidak sepenuhnya benar, karena itu perlu ada pelatihan bagi para pelatih. Selain itu pemilihan dan pelatihan para pelatih dapat menjadi motivasi tambahan bagi peserta pelatihan.
d.             Prinsip  Belajar
Belajar harus dimulai yang mudah menuju yang sulit, atau yang sudah diketahui kepada yang belum diketahui.
e.              Prinsip Partisifasi Aktif
Partisifasi aktif dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta pelatihan
f.              Prinsip Fokus Pada Batasan Materi
Pelatihan dilakukan hanya untuk mengusai materi tertentu, yaitu melatih keterampilan dan tidak dilakukan terhadap pengertian, pemahaman, sikap dan penghargaan
g.             Prinsip Diagnosis Dan Koreksi
Pelatihan berfungsi sebagai diognosis melalui usaha yang berulang-ulang mengadakan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang timbul.
h.             Prinsif Pembagian Waktu
Pelatihan dibagi menjadi kurun waktu yang singkat.
i.               Prinsip Keseriusan
Pelatihan jangan dianggap sebagai usaha sambilan yang bisa dilakukan seenaknya.
j.               Prinsip Kerjasama
Pelatihan dapat berhasil dengan baik melalui kerja sama yang apik antar semua komponen yang terlibat dalam pelatihan.
k.             Prinsip Metode Pelatihan
Terdapat berbagai metode pelatihan, dan tidak ada satu pun metode pelatihan yang dapat digunakan untuk semua jenis pelatihan. Untuk itu perlu dicarikan metode pelatihan yang cocok untuk suatu pelatihan.
l.               Prinsip hubungan pelatihan dengan pekerjaan dan kehidupan nyata
Pekerjaan, jabatan, atau kehidupan nyata dalam organisasi atau dalam masyarakat dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan, keterampilan, dan sikap apa yang dibutuhkan, sehingga perlu diselenggarakan pelatihan.
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa pelatihan pada dasarnya memiliki duabelas prinsip yang saling berkaitan dan berpengaruh terhadap Pelatihan itu sendiri, baik itu dari segi input,proses, output maupun outcome.
4.         Landasan-Landasan Pelatihan
Terdapat beberapa landasan yang mengukuhkan eksistensi pelatihan. Landasan-landasan yang dimaksud adalah :
a.              Landasan  Filosofis
Pelatihan merupakanwahana formal yang berperan sebagai instrument yang menunjang pembangunan dalam mencapai masyarakat yang maju, tangguh, mandiri, dan sejahtera berdasarkan nilai-nilai yang berlaku.
b.             Landasan  Humanistik
Pelatihan ini didasarkan pada pandangan yang menitik beratkan pada kebebasan, nilai-nilai, kebaikan, harga diri, dan kepribadian yang utuh.
c.              Landasan  Psikologis
Psikologis pelatihan  menitikberatkan pada analisis tugas dan rancangan penelitian yang mencakup berbagai komponen yang kompleks.
d.             Landasan Sosio-Demografis
Permasalahan peningkatan kesejateraan ekonomi dan sosialterkait dengan upaya penyediaan dan peningkatan kualitas tenaga kerja. Pelatihan yang terintegrasi diperlukan guna mempersiapkan tenaga-tenaga yang handal yang relevan dengan tuntutan lapangan kerja dan pembangunan.
e.              Landasan  Kultural
Pelatihan yang terintegrasi yang berfungsi mengembangkan sumber daya manusia merupakan bagian penting dari upaya membudayakan manusia.
                        Dari referensi diatas maka dapat disimpulkan bahwa untuk menjaga dan mengukuhkan eksistensi pelatihan maka dibutuhkan sekurang-kurangnya lima landasan pelatihan, dan hal tersebut satu landasan dengan landasan yang lainnya saling berhubungan dan berkaitan, semuanya memiliki peranan yang sangat penting terhadap berhasil atau tidaknya pelatihan tersebut.
5.         Jenis-Jenis Pelatihan
Menurut Dale Yoder (1958)[5] mengemukakan jenis-jenis pelatihan dengan memandang ke dalam lima sudut yaitu :
a.              Siapa yang dilatih (who geets trained), artinya pelatihan diberikan kepada siapa. Dari sudut ini maka pelatihan dapat diberikan kepada calon pegawai, pegawai remaja, pemuda orang lanjut usia dan lain-lain.
b.             Bagaimana ia dilatih ( how  gets trained), artinya dengan metode apa ia dilatih. Dapat dilaksanakan dengan pemagangan, permainan peran, pelatihan sensitivitas dan sebagainya.
c.              Dimana ia dilatih (where he gets trained), artinya dimana pelatihan mengambil tempat, misalnya tempat kerja, sekolah, tempat khusus atau tempat kursus.
d.             Bilamana ia dilatih (when he gets trained), artinya kapan pelatihan itu diberikan. Dapat dilaksanakan sebelum seseorang mendapat pekerjaan, setelah mendapat pekerjaan dan lain-lain.
e.              Apa yang dibelajarkan kepadanya (what he is taught), artinya materi pelatihan apa yang diberikan. Dapat berupa pelatihan kerja atau keterampilan, pelatihan hubungan manusia, pelatihan keamanan dan lain-lain.
Dari uraian terori diatas dapat disimpulkan bahwa dalam membedakan jenis-jenis pelatihan ada lima kriteria yang harus diperhatikan yaitu seperti tertera di atas.

6.         Manajemen Pelatihan
Pelatihan memang perlu diorganisasikan biasanya lebih dikenal dengan panitia pelatihan. Badan-badan pendidikan dan pelatihan, lembaga-lembaga kursus dan panitia-panitia yang dibentuk secara insidental, pada dasarnya adalah organizer pelatihan. Secara manajerial, fungsi-fungsi pelatihan adalah merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pelatihan. Sementara secara operasional, tugas-tugas pokok organizer pelatihan meliputi hal-hal berikut :
a.              mengurusi kebutuhan pelatihan pada umumnya
b.             mengembangkan kebijakan dan prosedur pelatihan
c.              mengelola anggaran pelatihan
d.             mengembangkan dan menerapkan administrasi pelatihan
e.              meneliti metode-metode pelatihan yang sesuai untuk diterapkan
f.              mempersiapkan materi, peralatan dan fasilitas pelatihan
g.             menganalisis dan memperbaiki sistem pelatihan
Sudjana (1996) mengembangkan sepuluh langkah pengelolaan pelatihan sebagai berikut :
a.              Rekrutmen peserta pelatihan
          Dalam rekritmen biasanya penyelenggara memiliki syarat-syarat yang telah ditetapkandan harus dipenuhi oleh peserta pelatihan. Biasanya dapat berupa faktor internal (kebutuhan, minat, pengalaman dan pendidikan) dan faktor eksternal (keluarga, status sosial, pergaulan dan status ekonomi)
b.             Identifikasi kebutuhan belajar, sumber belajar dan kemungkinan hambatan
Identifikasi kebutuhan belajar adalah keiatan mencari, menemukan , mencatat dan mengelola data tentang kebutuhan belajar yang ingin atau diharapkan oleh peserta pelatihan.
c.              Menentukan dan merumuskan tujuan pelatihan
Tujuan pelatihan yang dirumuskan akan menentukan penyelenggaraan pelatihan dari awal sampai akhir kegiatan, dari pembuatan rencana pembelajaran samapai evaluasi hasil belajar.
d.             Menyusun alat evaluasi awal dan evaluasi akhir
Evaluasi awal dimaksudkan untuk mengetahui ”entry behavioral level” peserta pelatihan. Evaluasi akhir dimaksudkan untuk mengukur tingkat penerimaan materi oleh peserta pelatihan
e.              Menyusun urutan kegiatan pelatihan
Pada tahap ini penyelenggara pelatihan menentukan bahan belajar, memilih dan menentukan metode dan teknik pembelajaran, serta menentukan media yang akan digunakan. Dalam menyusun urutan kegiatan ini faktor-faktor yang harus diperhatikan antara lain :
1.             Peserta pelatihan
2.             Sumber belajar (instruktur)
3.             Waktu
4.             Fasilitas yang tersedia
5.             Bentuk pelatihan
6.             Bahan pelatihan
f.              Pelatihan untuk pelatih
pelatih harus mengalami program pelatihan secara menyeluruh. Urutan kegiatan, ruang lingkup, materi pelatihan, metode yang digunakan dan media yang hendak dipakai.
g.             Melaksanakan evaluasi bagi peserta
Evaluasi awal biasanya melakukan pre test secara lisan maupun tulisan
h.             Mengimplementasikan pelatihan
Tahap ini merupakan inti dari kegiatan pelatihan, yaitu proses interaksi edukatif antara sumber belajar dan warga belajar dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
i.               Evaluasi akhir
Tahap ini dulakukan untuk mengetahui keberhasilan belajar
j.               Evaluasi program pelatihan
Evalusi program pelatihan merupakan kegiatan untuk menilai seluruh kegiatan pelatihan dari awal sampai akhir dan hasilnya menjadi masukan bagi pengembangan pelatihan selanjutnya.
Dari teori dan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pelatihan merupakan sebagai organizer dalam pengelolaan dan pelaksanaan pelatihan, dalam pengelolaan pelatihan ada sepuluh hal yang harus diperhatikan, sesuai dengan yang dijelaskan diatas.
7.         Pendekatan Sistem Untuk Pelatihan
Aktivitas pelatihan tidak berlangsung dalam ruang hampa, melainkan senantiasa terkait dengan keinginan-keinginan atau rencana-rencana individu, organisasi atau masyarakat. Dalam kaitan ini, para ahli melihat pelatihan sebagai suatu sistem yang paling tidak mencakup tiga tahapan pokok, penilaian kebutuhan pelatihan, pelaksanaan pelatihan dan evaluasi.
Penilaian kebutuhan (need assessment) pelatihan merupakan tahap yanng paling penting dalam penyelenggaraan pelatihan. Tahap ini berguna sebagai dasar bagi keseluruhan upaya pelatihan. Dari tahap inilah seluruh proses pelatihan akan mengalir.baik tahap pelaksanaan maupun tahap evalusi sangat bergantung pada tahap ini jika penentuan kebutuhan pelatihan tidak akurat, maka arah pelatihan akan menyimpang.
Kebutuhan - kebutuhan bagi pelatihan harus diperiksa, demikian pula sumber daya yang tersedia untuk pelatihan baik yang dari lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Pertimbangan mengenai siapa yang harus dilatih, jenis pelatihan apa, dan bagaimana pelatihan seperti itu akan menguntungkan harus menjadi masukan dalam penilaian. Sasaran-sasaran pelatihan berasal dari penilaian. Selanjutnya sasaran-sasaran tersebut sangat menentukan pengembangan program  melalui evaluasi pelatihan.
Pelaksanaan pelatihan adalah berupa implementasi program pelatihan untuk memenuhi kebutuhan peserta pelatihan. Pada tahap ini, program pelatihan dirancang dan disajikan. Program pelatihan ini harus berisi aktivitas-aktivitas dan pengalaman belajar yang dapat memenuhi sasaran-sasaran pelatihan yang telah ditetapkan pada tahap penilaian kebutuhan pelatihan.
Akhirnya evaluasi pelatihan dilakukan untuk mengetahui dampak program pelatihan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan. Langkah pertama dalam evaluasi ini adalah menetapkan kriteria keberhasilan. Setelah kriteria itu dibuat, evaluasi dapat dilakukan baik terhadap peserta maupun terhadap keseluruhan komponen program pelatihan. Lebih dari itu evaluasi juga harus menilai apakah proses dan hasil belajar dapat ditransfer ke situasi kerja atau kedunia kehidupan nyata.
Secara lebih komprehensif, dengan melihat pelatiihan sebagai suatu sistem, Sudjana mengemukakan komponen-komponen pelatihan sebagi berikut :
a.              Masukan sarana (instrument input), yang meliputi keseluruhan sumber danfasilitas yang menunjang kegiatan belajar. Masukan sarana dalam pelatihan ini mencakup kurikulum, tujuan pelatihan, sumber belajar, fasilitas belajar, biaya yang dibutuhkan, dan pengelola pelatihan.
b.             Masukan mentah (raw input), yaitu peserta pelatihan dengan berbagai  karakteristiknya, seperti pengetahuan, keterampilan, dan keahlian, jenis kelamin, pendidikan, kebutuhan belajar, latar belakang sosial budaya, latar belakang ekonomi, dan kebiasaan belajar.
c.              Masukan lingkungan (environment input), yaitu faktor lingkungan yang menunjang pelaksanaan kegiatan pelatihan, seperti lokasi pelatihan.
d.             Proses (process), merupakan kegiatan interaksi edukatif yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan antara sumber belajar dengan warga belajar peserta pelatihan.
e.              Keluaran (out put)yaitu lulusan yang telah mengalami proses pembelajaran pelatihan.
f.              Masukan lain (other input), yaitu daya dukung pelaksanaan pelatihan, seperti pemasaran, lapangan kerja, informasi, dan situasi sosial-budaya yang berkembang.
g.             Pengaruh (impact), yaitu yang berhubungan dengan hasil belajar yang dicapai oleh peserta pelatihan, yang meliputi peningkatan taraf hidup, kegiatan membelajarkan orang lain lebih lanjut, dan peningkatan partisipasi dalam kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat.



[1] Kamil, Mustafa. 2010. Model Pendidikan dan Pelatihan (Konsep dan Aplikasi). Bandung : Alfabeta
[2] Sumantri, S. 2000. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung, Fakultas Psikologi Unpad.
[3] Moekijat. 1990. Pengembangan dan Motivasi, Bandung : Pionir Jaya.
[4] Nawawi, H, (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta, Gajah Mada Universitas Press.
[5] Yoder, D, (1958), Personel Principles and Policies, Prentice Hall Inc, Maruzen Company Ltd, Second Edition.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!