Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 24 Februari 2017

REVIEW BUKU MEWUJUDKAN MASYARAKAT PEMBELAJAR

Judul Buku : Mewujudkan Masyarakat Pembelajar : Konsep, Kebijakan Implementasi
Pengarang : Ace Suryadi
Penerbit : Widya Aksara Press (Bandung)
Tahun Terbit : 2009
Telp/email : (022) 2019800 / widsara@yahoo.com
Jumah Halaman : viii + 163 halaman
Harga  : Rp 52.000,00



Perkembangan masyarakat secara umum dapat dibagi menjadi atas : (a) masyarakat petani (agriculture society), (b) masyarakat industri (industry society), (c) masyarakat pembelajar (learning society). Perkembangan masyarakat ini berdampak pula pada proses pembelajaran. Melihat alurnya, nampaknya kini zaman sudah mulai beralih ke era masyarakat pembelajar. Tidak ada pilihan bahwa untuk mewujudkan manusia unggul, harus dilakukan perubahan sikap dan prilaku budaya dari masyarakat yang gemar belajar menuju masyarakat gemar belajar (learning society). (hlm.13-14)
Mewujudkan masyarakat pembelajar adalah juga sebuah proses pemberdayaan yang harus  terus menerus dilakukan. Proses pemberdayaan tersebut mencakup proses merubah sikap dan prilaku budaya masyarakat yang tidak gemar belajar menjadi masyarakat yang gemar belajar. Belajar merupakan proses interaksi terus menerus antara pembelajar dengan sumber belajar pada suatu lingkaran belajar. Pembelajar yang berhasil, dapat dikatakan bahwa ia telah sukses memberdayakan dirinya menjadi lebih unggul dibanding sebelumnya. (hlm. 24)



Konsep pemberdayaan dalam kaitannya dengan mewujudkan masyarakat pembelajar merupakan konsep yang terkandung pula nilai-nilai sosial di samping nilai ekonomi. Konsep pemberdayaan ini lebih luas dari sekedar memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut, yang pemikirannya belakangan ini banyak dikembangkan sebagai upaya mencari alternatif terhadap konsep pertumbuhan ekonomi pada masa lalu. Konsep pemberdayaan bertitik tolak dari pandangan bahwa dengan pemerataan terciptanya landasan yang lebih luas untuk pertumbuhan dan berkelanjutan. Pemberdayaan melalui perwujudan masyarakat pembelajar secara otomatis menumbuhkan daya keunggulan seorang pembelajar melalui pengetahuan yang diserapnya selama proses pembelajaran (hlm. 25).

Buku ini mengandung sepuluh bagian atau sepuluh BAB. BAB I (Pendahuluan), BAB II (Memberlajarkan Masyarakat melalui Pendidikan Non Formal), BAB III (Memulai dengan memaksimalkan Golden Age), BAB IV (Menjangkau yang Belum Terlayani dengan Kesetaraan), BAB V (Menjejak Nusantara Melek Aksara), BAB VI (Mengembangkan Kursus, Menembus Pasar Kerja, BAB VII (Menikmati Hidup, Kuasai Kecakapan Hidup), BAB VIII (Gender sebagai Arus Pengutamaan Pembelajaran), BAB IX (Membangun Reading Interest), BAB IX (Penutup).

Buku Mewujudkan Masyarakat Pembelajar karangan Ace Suryadi ini sangat direkomendasikan bagi pegiat pendidikan non formal dan informal, LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan mahasiswa-mahasiswa. Pemaparan buku ini tidak berbelit-belit dan runtut berdasarkan kajian, kebijakan, analisis dan pemikiran penulis (Ace Suryadi) terkait mewujudkan masyarakat pembelajar. Selain dilengkapi dengan konsep, implementasi, buku ini juga dilengkapi dengan contoh kebijakan-kebijakan pendidikan khususnya pendidikan non formal dan informal baik nasional maupun internasional yang berkaitan dengan BAB dan Sub BAB yang dibahas. Selain itu, setiap tulisan dilengkapi dengan kerangka pikir yang memudahkan pembaca untuk mengerti alur pikir terkait dengan tulisan tersebut dan dilengkapi juga dengan beberapa gambar yang memperlihatkan keadaan situasi yang sesuai dengan tulisannya sehingga memudahkan pembaca untuk mengerti. Jika melihat dari daftar pustaka, tulisan ini berlandaskan beberapa jurnal-jurnal internasional dan kebijakan-kebijakan pemerintah sehingga membuat buku ini menjadi sangat cocok untuk kalangan akademisi.

Walaupun buku ini terkesan tanpa celah, namun buku ini juga masih memiliki beberapa kekurangan. Karena penulis (Ace Suryadi) memberikan beberapa contoh kebijakan pemeritah dalam bidang pendidikan pada saat buku ini terbit, maka kebijakan tersebut bisa saja sudah berubah mengikuti perkembangan zaman dan perubahan kebijakan, sehingga beberapa kebijakan menjadi tidak berlaku lagi pada tahun-tahun berikutnya. Contoh, mengenai sasaran dan target resentra Pendidikan Non Formal 2005-2009, data-data BPS dikutip pada tahun 2009 ke bawah. Sehingga bagi pembaca yang mengingikan data update tahun-tahun yang masih hangat tidak akan disajikan dalam buku ini. Namun hal itu bukan menjadi masalah, sebab bisa kita cari sendiri di internet dengan landasan atau kerangka yang dituliskan dalam buku ini.

Buku Mewujudkan Masyarakat Pembelajar, menawarkan teori yang berasal dari kajian ilmiah dan kebijakan-kebijakan terkait dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu juga ada kerangka pikir yang memudahkan pembaca memahami gagasan dan pemikiran penulis buku, hal ini cocok bagi yang akan menyusun skripsi, tesis atau disertasi yang masih mencari kerangka berfikir terkait dengan judul, bab dan subbab yang ada di buku ini. Selain itu, pada era masyarakat pembelajar (learning society) memungkinkan masyarakat atau warga belajar dapat belajar segala ilmu pengetahuan kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. (*)

(*) pereview : Bayu Pradikto. 
Yang mau di Review boleh email : bayupradikto(et)gmail(dot)com

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!