Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 29 April 2017

MUSEUM MUSIK INDONESIA

Selamat pagi yang cerah di hari minggu…
Museum Musik Indonesia (MMI). Mungkin sebagian orang baru mendengar atau hanya mendengar tapi tidak tahu apa saja yang ada disana dan dimana alamatnya. Baiklah, saya akan sedikit membahas mengenai pengalaman saya salama mengunjungi Kota Malang khususnya tentang museum music Indonesia. Cekidot ……!!!

foto salah satu wallpaper MMI

MUSEUM MUSIK INDONESIA beralamat di Jalan Nusakambangan No.19, Kasin, Klojen, Kasin, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65117. Museum ini dibuka mulai pukul 08.00-17.00 (Waktu Malang) dan dibuka setiap hari, kecuali hari libur Hari raya itu sih menurut salah seorang yang jaga di museum tersebut. Kalau kamu menggunakan google maps, langsung aja ketik Museum Musik Indonesia pasti langsung ditunjukkan ke alamat tersebut. Bagi anda yang ingin menaiki angkutan umum, kayaknya jarang deh lewat angkot disana yang langsung berhenti di depan gedungnya. Pada saat itu, saya dari penginapan di daerah Jalan Merbabu sekitar pukul 15.15 WIB, dengan menggunakan ojek online kira-kira 10 menit sudah tiba di lokasi dengan tarif ojek online Rp5.000,-
Sesampainya di lokasi, gedungnya terlihat seperti gedung serbaguna gitu. Ada tulisan Gedung Kesenian Gajayana. Adapun ruangannya terletak di lantai 2. Sesampai di ruangan, saya mengucapkan salam dan menanyakan, “Apakah masih buka museum musiknya?” Dengan semangat dan menyambut dengan hangat mereka mempersilahkan masuk dengan kontribusi tiket masuk Rp5.000,- (Lima Ribu Rupiah) sudah mendapatkan stiker keren museum musik Indonesia. Saya pun disapa dengan hangat oleh para pengurus museum, yang pada saat itu lagi ada sesi wawancara (kayaknya dengan radio sih). Sambil mengisi buku tamu, saya ditanya oleh yang kemudian namanya saya ketahui mbak Ciciel, “Berasal dari mana mas?” Dengan spontan saya menjawab, “Dari Sumatera Mbak, Bengkulu.” Kemudian beliau menjawab,” Wah jauh juga ya…” kemudian saya dikenalkan/dipromosian ke yang sedang berbincang-bincang yang kemudian saya ketahui namanya Bapak Hengki Herwanto (Salah satu Pendiri Musium music indonesia), “Ini ada wisatawan dari Bengkulu, jauh-jauh datang kesini”. Sambil senyum-senyum saya menjawab, “Iya dari Bengkulu”.
Setelah selesai saya mengisi buku tamu, saya melanjutkan melihat dan mendokumentasikan dengan ponsel beberapa foto koleksi museum music Indonesia. Banyak koleksi yang terdapat disini, terutama koleksi-koleksi lawas baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Ada koleksi CD, ada koleksi kaset, piringan hitam, majalah, Koran, foto-foto musisi, Itulah yang terdapat pada sisi ruangan pertama. Dengan tersusun rapih dan teleh teridentifikasi berdasarkan jenis dan asalnya. Disini sangat bersih dan terawat, bahkan tidak ada debu yang saya temui di koleksi-koleksi tersebut. Beberapa wallpaper dinding bergambar tulisan museum music Indonesia yang biasa menjadi tempat berfoto para wisatawan disini. 

 foto koleksi MMI (1)

 foto koleksi MMI (2)

foto koleksi MMI (3)

Di bagian dinding lainnya, ada wallpaper legend yang saya kenal yaitu Alm. Chrisye lengkap dengan nama albumnya dan tahun meluncurkan albumnya terpampang di dinding. Tidak hanya itu saja, menurut informasi, ada koleksi terbaru dari Iwan Fals (Pasti tahu donk musisi yang satu ini). Koleksinya tersusun rapi di lemari kaca yang berisi buku, kaset, CD, poster, topi menjadi sumbangan langsung dari Iwan Fals.
 foto di wallpaper dinding Chrisye


foto di lemari kaca Iwan Fals

Masuk ke ruangan berikutnya, ada banner tentang cara mendengaran music yang telah didigitalisasi yang bisa didengarkan disitus wifi MMI dan hanya bisa didengrakan di ruangan museum. Di ruangan ini ada yang langsung menyedot perhatian saya, yaitu ada empat buat gitar dan bass bermotif BATIK yang terpampang di dinding. Selain itu juga ada beberapa pakaian dari beberapa musisi pada saat tampil manggung dan juga ada alat music tradisional. Koleksi berikutnya adalah alat-alat pemutar music lawas yang menjadi koleksi yang cukup hits untuk difoto.

 foto koleksi museum (Bass Motif Batik)

 foto koleksi alat-alat untuk mendengarkan musik (jadul)

foto dengan salah satu gitar motif batik 

gambar beberapa foto musisi terpajang di dinding

Setalah puas menikmati semua koleksi di Museum Musik Indonesia, saya berpamitan akan melanjutkan perjalanan, sambil ngobrol-ngbrol santai dengan Bapak Hengki dan Mbak Ciciel, beliau menanyakan tentang daerah Bengkulu kepada saya. Ada beberapa pertanyaan yang Pak Hengki tanyakan, antara lain, “Siapa saja musisi-musisi daerah Bengkulu?” Jujur saya kurang begitu memahami siapa saja musisi dari Bengkulu, sepengatahuan saya hanya musisi daerah yang membawakan lagu-lagu daerah sih… kemudian beliau menyakana dari Bengkulu kenapa bisa tahu ada Musium Musik Indonesia? Saya menjawab, “saya tahu dari google pak, mencari lokasi-lokasi wisata di Kota Malang, dan salah satu rekomendasinya adalah di Museum Musik Indonesia.” Beliau cukup senang, ternyata sudah ada di google ulasan mengenai museum music Indonesia. Terakhir, beliau juga berpesan kepada bahwa museum music Indonesia sangat mengharapkan apabila ada masyarakat atau musisi yang mau menyumbangkan koleksinya ke sini agar tetap lestari dan bisa menjadi warisan kekayaan music di Indonesia. Khusus untuk musisi di Bengkulu, boleh juga apabila ingin menyumbangkan koleksi atau karya musiknya baik music daerah atau karya music lainnya. Tak lupa beliau memberikan kartu nama untuk membantu mempromosikan atau menambah koleksi di museum ini.
foto kartu identitas MMI

Pokoknya kerenlah museum musiknya walaupun belum begitu lama didirikan, tapi langkah dan cara tekad beliau sangat patut di apresiasi. Lokasi bersih dan nyaman. Mungkin itu sedikit ulasan dari saya mengenai Museum Musik Indonesia, pengen suatu saat nanti datang lagi kesini dengan koleksi yang semakin banyak dan bervariasi.  Barangkali band-band (Peterpan / Noah, Slank, Gigi, God Bless, dll) yang masih eksis hingga saat ini mau menyumbangkan karyanya, jadi makin gress, dan kekinian. 


Sabtu, 01 April 2017

Pandangan Knowless tentang Belajar

Belajar dipandang sama dengan ‘’living, and living it self is a process of problem finding and problem solving’’. We must learn from everything we do, we must exploit every experience as a learning experience. Every instution in our community government on nongovernment agencies, stores, recreational places, organizations chures, mosque, fields, factories, cooperative, associations, and the like becomes resources for learning, as does every person we access to parent, child, friend, service, provider, docter, teacher, fellow worker, supervisor, minister store clerk and so on and on, learning means making use every resourcesin or out of education institutions for our personal growth and development. Even the word is regarded as a classroom. Demikianlah salah satu pandangan makro yang dikemukakan oleh konwless. 
Sebagai pakar Pendidikan Luar Sekolah, tanggapan dan analisis penulis terkait pandangan Knowless tentang belajar, bahwa kegiatan belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dari sumber mana saja, dan dapat diperoleh dari pengalaman. Pendidikan harus dipandang sebagai proses pemahaman dan penemuan masalah serta pemecahan masalah baik yang berhubungan dengan masalah yang saat ini dihadapi maupun masalah kehidupan di masa depan. Sejalan dengan konsep sepanjang hayat, bahwa dimana pun dan kapanpun seseorang mengalami proses belajar, baik disadari maupun tidak disadari, hendaknya didasarkan atas kebutuhan peserta didik. Kondisi tersebut yang berkaitan dengan upaya menghubungkan pendidikan dan kehidupan nyata peserta didik dan perkembangan lingkungannya, lebih banyak terjadi dalam pendidikan luar sekolah. Belajar tidak terbatas oleh pendidikan yang ada dipersekolahan, namun harus dapat diperluas sesuai dengan kebutuhan dan kondisi perkembangan masyarakat. Artinya belajara dapat dilaksanakan dimana saja, dan oleh siapa saja tanpa adanya batasan umur.
Karakteristik masyarakat yang ingin dibangun melalui pandangan knowless tersebut, kemudian bandingkan dalam bentuk table dengan pandangan anda terkait dengan kondisi masyarakat Indonesia pada saat ini.
Tabel 1. Perbandingan Karakter Masyarakat 
Pandangan Knowless dan kondisi Masyarakat Indonesia

No
Karakteristik yang ingin di bangun knowless
Karakteristik masyarakat Indonesia pada saat ini
1.
Masyarakat yang gemar belajar
Masyarakat Indonesia berada pada masa bermimpi (dreaming society) masih menuju pada masyarakat pembelajar (learning society).
2.
Berkarakter
Karakteristik manusia yang belum berkarakter
3.
Peran pengalaman
Masyarakat Indonesia belum menerapkan pembelajaran berdasarkan pengalaman
4.
Belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
walaupun dengan adanya kebijakan pemerintah tentang tiga jenis pendidikan, namun masyarakat indonesia beranggapan/ masih menjadikan sekolah sebagai tempat utama belajar,
5.
Masyarakat menjadikan apa yang mereka lakukan sebagai proses belajar.
Masyarakat menjadikan apa yang mereka lakukan sebagai proses belajar




 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!