Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 16 Mei 2017

BERTEMU DENGAN TOKOH PENDIDIKAN "LINK AND MATCH" WARDIMAN DJOJONEGORO

Buku Wardiman Djojonegoro

Mungkin cerita ini saya mulai dari salah satu ruang sempit yang ada disalah satu sudut Kota Bandung, ya mungkin supaya agak didramatisir begitu... Benar, kostan saya yang ada di Gegerkalong Kota Bandung. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang berharap segera menyesaikan studinya, namun masih memiliki tanggung jawab akademik yang harus diselesaikan apabila ingin wisuda. Salah satu syaratnya adalah, harus menjadi pemakalah pada seminar Internasional dan telah menulis jurnal yang harus terbit. Mulailah pada malam hari saya mencari informasi tentang beberapa kegiatan-kegiatan kampus yang akan mengadakan seminar atau conference dalam waktu dekat ini. Pilihan saya jatuh kepada dua pamflet yang memberikan pengumuman bahwa akan mengadakan seminar intenasional dan seminar yang memuat jurnal. Pertama, di salah satu kampus di Ponorogo dan kedua di salah satu kampus di Malang. Mengapa saya memilih kampus tersebut, selain karena posisi mereka yang sama-sama di Jawa Timur dan biaya dalam mengikuti kegiatan tersebut masih terjangkau untuk kelas mahasiswa seperti saya. Bahkan untuk mengikuti seminar nasional dan terbit jurnal, itu gratis! Namun harus mengirimkan tulisan paper dan diseleksi sehingga bisa ikut dengan gratis.
Selama kurang lebih dua minggu saya mempersiapkan paper untuk bisa ikut pada kegiatan tersebut. Papar yang saya akan bahas itu tidak jauh dari keilmuan saya atau kuliah yang sedang saya tempuh saat ini di Universitas Pendidikan Indonesia. Sebenarnya dulu saya pernah membuat paper pada saat mata kuliah dan telah dibimbing oleh salah satu dosen di kampus, sehingga saya tidak begitu kesulitan dalam membuat paper dalam waktu singkat. Ya singkat cerita, kedua paper tersebut selesai hanya dalam waktu dua minggu setelah mengetahui pamflet seminar tersebut. Sebenarnya sih bisa saya menyelesaikannya dalam waktu lebih singkat, namun karena kesibukan saya menemui dosen pembimbing dan dosen pembimbing akademik (maklum, mahasiswa tingkat akhir) ditambah lagi rada-rada malas sedikit, sehingga kurang lebih dua minggu baru bisa selesai. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, tidak banyak mengalami masalah dalam penulisan paper, namun yang menjadi masalah adalah ketika mengubah dari Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Inggris. Hal ini mungkin karena Bahasa Inggris saya pas-pasan. Namun dengan telaten dan dibantu dengan salah satu situs di internet yang memiliki kemampuan untuk menterjemahkan secara langsung, akhirnya saya menyelesaikan full paper dalam Bahasa Inggris. Setelah semua siap, akhirnya saya kirimkan full paper ke panitia penyelenggara yang ada di Ponorogo dan di Malang.
Setelah mendapat balasan dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo, bahwa paper saya diterima dan harap mempersiapkan diri. Akirnya saya bersiap-siap mencari tiket kereta dengan harga yang paling murah. Sebelumnya saya sudah menelpon teman satu kostan dan teman satu jurusan dengan saya yang kebetulan lagi di Madiun dan sekalian menjadi penulis kedua dalam paper yang akan ditampilkan pada seminar internasional di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Asep, begitu sapaan akrabnya. Beliau sudah mengajak ke Madiun untuk menginap terlebih dahulu di kediamannya di Madiun.
Sore sekitar jam 15.15 WIB saya sudah bersiap-siap dan telah memesan ojek online untuk mengantarkan saya ke stasiun Kiara Condong. Cuaca baru saja hujan dan angin kencang di Kota Bandung. Sehingga suasana cukup dingin dan kendaraan banyak yang berjalan merayap. Banar saja, macet terjadi di Kota Bandung. Berangkat dari Gegerkalong sekitar pukul 15.20 WIB, sampai di Stasiun Kiara Condong jam 17.40 WIB. Untungnya saya tidak terlambat, dengan kereta keberangkatan 18.10 WIB.
jangan baper ya!!

Setelah dalam kereta cukup banyak yang hal-hal yang terjadi, mulai dari bertemu ibu yang bersama anaknya baru pertama kali naik kereta sehingga salah tempat posisi duduk. Yang awalnya duduk di bangku tempat saya, setelah saya klarifikasi dengan tiket, akhirnya si ibu dan anaknya pindah ke kursi didepan saya. Tak sampai disana, ternyata setelah ada pemuda sepasang (laki-laki dan perempuan) mengkrarifikasi bahwa itu kursi yang mereka harusnya duduki sesuai dengan tertera ditiket. Ternyata benar saja, setelah si Ibu memperlihatkan tiketnya, barulah beliau sadar bahwa dia duduk diseberang kursi saya. Saya duduk sendirian pada pada baris kursi yang harusnya diduduki dua orang, yang ternyata kemudian saya ketahui bahwa penumpang diselah saya nanti akan naik dari stasiun Tasikmalaya. Belum sampai disana cerita di Kereta, tepat di depan saya ada sepasang (laki-laki dan perempuan) yang kelihatannya masih kuliah sekitar semestar 4 atau 6 yang kemudian saya ketahui bahwa akan turun di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Sepanjang perjalanan mereka hanya asik dengan dunia mereka sendiri, mungkin seolah dunia milik mereka berdua. Saling rangkul, saling sandaran bahu, pel*kan, nyanyi-nyanyi engga jelas... Masha Allah. Saya yang jadi tidak enak (bukan baper ya...hahahhahahaaa). Suatu waktu yang laki-lakinya menelpon ibunya dan meminta kirimkan pulsa dan kuota dengan bahasa dan suara yang manja. Ya Allah, saya jadi berpikir.... ini masih minta sama orang tua, tapi ..... Ah,, sudahlah!!
Setelah kurang lebih pukul enam pagi, saya tiba di Stasiun Madiun yang tak berapa lama sudah dijemput oleh Asep. Setelah diajak sarapan, saya langsung menuju rumah kediaman Asep. Karena cukup lelah diperjalanan, saya langsung istirahat dikediaman beliau. Selama kurang lebih 3 hari saya berada di Madiun bersama Asep, dan diajak keliling-keliling Madiun dan sekitarnya. Bertemu dengan keluarga Asep, Bude, Pak De, calon mertuanya Asep, “Guru spiritualnya” dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Pokoke joss lah.... Mangan wae.... (Emang banyak diajak makan kalo disana).
Tepat pada hari Sabtu, kita bersiap-siap ke Ponorogo yang jarak tempuhnya kurang lebih 45 menit dari Madiun. Tujuan kita adalah Universitas Muhammadiyah Ponorogo untuk mengikuti International Seminar on Islamic Education (ISIE2017). Di seminar nasional ini, pematerinya adalah Prof. Dato, Dr. Abdul Halim Tamuri Halim (Rektor Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor Malaysia) dan Prof. Dr. Ahmad Tafsir, MA (Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung). Saya tidak akan banyak membahas mengenai Seminar ini, karena mungkin akan saya ulas pada tulisan berikutnya.
Setelah selesai mengikuti seminar tersebut, saya diajak Asep dan Ninda (Calon Istrinya Asep) ke  Kabupaten Magetan Jawa Timur. Ya sekalian jalan-jalan begitu. Setelah menikmati daerah pegunungan, singkat cerita kami tiba di Madiun dan dikediaman Asep sekitar pukul 19.00 WIB. Pada malam harinya saya harus bersiap-siap karena besok sekitar jam 02.50 dini hari harus segera melanjutkan perjalanan ke Malang.
Dari Madiun saya tidak langsung ke Malang, tapi saya menuju Kepanjen dulu. Ya benar saja, saya akan menyaksikan pertandingan Arema FC terlebih dahulu. Tepat pukul 07.30 WIB saya sampai di Stadiun Kepanjen dan menginap satu malam di Kepanjen. Sebanarnya saya sedikit nekat ke Malang, karena belum ada balasan dari universitas yang saya akan ikuti seminat nasionalnya, apakah paper saya diterima atau tidak. Akhirnya pagi itu, saya memutuskan untuk menghubungi admin universitas tersebut yang menyelenggarakan seminar. Dengan santun, admin dari Univeritas Wisnuwardhana Malang membalas pesan singkat saya bahwa akan menanyakan terlebih dahulu kepada tim review jurnal dan akan dikabarkan secepatnya. Dalam pikiran saya ya, paling tidak saya jalan-jalan saja ke Malang dan menyaksikan pertandingan bola saja apabila paper saya tidak diterima. Pada siang harinya, saya mendapat kabar dari adminnya, bahwa berita sebenarnya sudah dikabarkan ke email masing-masing, namun karena lagi ada masalah (gangguan teknis) dengan sistem email, maka beritanya terlambat di kabarkan. Setelah kurang lebih 30 menit setelah kabar tersebut, sebuah satu sms (short message service) masuk ke ponsel saya, yang menyatakan bahwa pesan ini dari tim review jurnal Universitas Wisnuwardhana, bahwa paper saya diterima dan harap bisa hadir pada hari Selasa, 25 April 2017 di Aula Lantai 2 Universitas Wisnuwardhana.
Senin, 24 April 2017 Pukul 11.00 WIB saya berangkat dari Kepanjen menuju Kota Malang dengan menggunakan angkutan umum. Untuk sampai ke Kota Malang, saya haru menaiki dua kali angkutan umum. Setelah sampai di Kota Malang, saya tepat berhenti di dekat Universitas Negeri Malang (UM) pada sebuah warung makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Setelah makan, saya berjalan sedikit menuju Jalan Merbabu untuk memesan penginapan yang cukup murah, bersih dan full wifi. Rekomendasi deh, namanya KAVIE HOSTEL. Cari aja di geogle map, pasti ada kok, pas di depan Taman Merbabu dan dekat dengan Hutan Kota. Hari Senin ini saya habiskan untuk jalan-jalan sekitaran Kota Malang dengan jasa ojek online. Beberapa yang saya singgahi antara lain : museum musik indonesia, Candi Badut, Alun-alun Kota Malang, alun-alun tugu, Masjid Agung Jami’ Malang (Sekalian sholat Magrib dan Isya di sana).
Keesokan harinya, Selasa, 25 April 2017 tepat pukul 11.00 WIB saya sudah bersiap-siap untuk menuju kampus Wisnuwardhana Malang. Dengan menaiki ojek online, saya mempuh dan 30 menit kemudian sampai di lokasi. Selepas Sholat Dzuhur dan makan siang, para pemateri seminar nasional dengan Keynote Speaker : Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro (Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tahun 1993-1998).  Pemateri : 1) Ir. Abdul Aziz Hoesein, Dipl. HE., M.EngSC. (Mantan Direktur Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah dan Mantan Deputi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. 2) Dr. Imam Ropi’i, SH, MH. (Ka.Prodi Magister Ilmu Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang). Dan tak lupa sambutan hangat dari Rektor Universitas Wisnuwardhana Malang.

Foto Rektor Univ.Wisnuwardhana, Keynote Speaker, dan pemateri Seminar

Dalam kegiatan seminar ini memang banyak membahas mengenai buah pikiran Prof. Wardiman Djojonegoro dan pengalaman masing-masing pemateri tentang keadaan pendidikan sekarang dan masa zaman Prof. Wardiman. Seminar berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Diakhir acara, peserta bisa mendapatkan buku karya Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro yang berjudul “SEPANJANG JALAN KENANGAN : Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar” dengan diskon khusus dan gratis bagi pemakalah. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk memiliki buku beliau.
Dalam bukunya dan saat dipaparkan dalam seminar, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro yang pernah bekerja bersama tiga tokoh besar Indonesia, yaitu : Ali Sadikin, Suharto dan BJ. Habibie, memiliki beberapa gagasan yang pada masa kepemiminan beliau sangat konsen untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Antara lain, kebijakan link and match (Keterkaitan dan kesepadanan). Dari perspektif ini, link menunjukkan proses, yang berarti bahwa pendidikan selayaknya sesuai dengan kebutuhan pembangunan, sehingga hasilnya pun cocok (match) dengan kebutuhan tersebut. Baik dari segi jumlah, mutu, jenis, kualifikasi, maupun waktunya. Kebijakan ini dikembangkan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan umumnya dan denga kebutuhan dunia kerja, dunia usaha dan dunia industri khususnya. Jadi, esensi dari relevansi adalah upaya menciptakan keterkaitan dan kesepadanan antara pendidikan dengan pembangunan (hal.288).
Sebenarnya, jika kita telaah pada masa itu saja, konsep seperti ini sudah terpikirkan bahwa sangat pentingnya link and match. Hingga saat ini pun konsep ini Masih  sangat berlaku pada semua jalur pendidikan, baik itu pada pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Pada pendidikan formal, misalnya SMK harus mampu eksis dan bersaing setelah menyelesaikan studinya, karena memang idealnya SMK itu diharapkan siap bekerja setelah selesai studi. Pada pendidikan nonformal, bermunculannya lembaga kurus dan pelatihan (LKP atau LPK) tentunya diharapkan mempu menjawab kebutuhan masyarakat akan meningkatkan life skill akan keahlian tertentu. Misalnya kursus menjahit, diharapkan setelah selesai kursus mampu membuka usaha sendiri atau bisa bekerja pada perusahaan-perusahaan garment yang sesuai dengan kebutuhan pasar pada saat ini. Pada pendidikan informal, karena ini merupakan pendidikan keluarga, maka keahlian-keahlian yang yang berasal dari keluarga dan diajarkan berdasarkan kekeluargaan, misalnya seorang ayah bekerja sebagai sedain grafis, sang ayah secara otodidak mengajarkan kepada anaknya tentang desain grafis sehingga anaknya mampu menguasai kemampuan desain dengan baik dan terus berkembang.
Selain link and match, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro juga memiliki kebijakan yang antara lain agar IKIP diperluas menjadi Universitas. Ya, mungkin salah satunya adalah kampus saya saat ini. Yang dahulunya bernama IKIP Bandung, sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Selain itu juga, ada pengelolaan wajib belajar sembilan tahun, memperluas museum nasional, meningkatkan kompetensi SMK, kepedulian kepada nasib dan martabat guru serta mengeluarkan kebijakan mendirikan sekolah unggulan di seluruh Indonesia dan beberapa kebijakan lainnya.
Dalam buku beliau ada sebuah cerita yang membuat beliau ingin menulis bukunya. Awalnya, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro tidak mau menulis buku atau biografi karena beliau tahu bahwa minat baca di Indonesia sangat rendah, sehingga buku-buku atau biografi hanya akan menjadi penghias di perpustakaan saja. Bahkan sudah banyak orang yang menyarankan kepada beliau untuk menuangkan pengalaman dan buah pikiran beliau dalam bentuk tulisan, namun belum disambut oleh beliau. Hingga pada suatu hari beliau mendapat berita duka. Seorang mantan rektor sebuah universitas negeri yang besar, bahkan kemudian menjadi Direktur Jenderal serta Sekretaris Jenderal Depdikbud meninggal dunia (2014). Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro berkemas berangkat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Almarhum dan menyampaikan rasa duka kepada keluarga yang ditinggalkan. Ketika di pemakamana betapa kaget beliau sekaligus prihatin, karena selain kerabat dan keluarga, beliau tidak melihat seorangpun pejabat dan mantan pejabat Depdikbud yang hadir. Orang yang beliau nilai telah mengabdi untuk pendidikan di Indonesia ternyata luput dari perhatian dalam hirup pikuk kesibukan dunia modern. Mungkin karena kelurga tidak memiliki catatan alamat para pejabat Depdikbud dan tidak memberitahukan lewat sms.
Selepas pulang melayat, beliau langsung berpesan kepada sekertarisnya bahwa meminta dicatat semua alamat dan kontak teman-teman beliau dan kelak bilamana beliau di panggil menghadap yang Kuasa, buka catatan itu dan kabarkan kepada teman. Hal ini jugalah yang semakin menguatkan keinginan beliau untuk menuangkan, berbagi dan menuliskan episode perjalanan beliau dalam sebuah buku. Karena supaya apa yang telah beliau lalui dan lakukan tidak hilang ditelan zaman dan dapat menginspirasi yang mambacanya.
Lanjut ke acara seminar tadi. Setelah selesai acara seminar, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro tidak sungkan memberikan tanda tangan di buku yang beliau tulis dan berfoto dengan yang ingin mengabadikan moment dengan beliau. Saya pun tidak melewatkan kesempatan ini. Sambil menunggu antrian, saya berbaris rapi di antara barisan lurus orang yang akan meminta tanda tangan dan berfoto dengan beliau. Dari barisan tengah, saya melihat beliau dengan hangat sambil menyapa dan mengobrol ringan dengan orang-orang yang meminta tanda tangan dan berfoto dengan beliau.
Buku yang ditanda tangan langsung penulisnya

Tiba saatnya giliran saya maju. Sambil menunjukkan nama dan asal saya pada selembar kertas, agar bisa beliau tulis saya menghampirinya. Dengan disambut dengan salaman, saya menyerahkan kertas yang telah ditulis tadi. Betapa cukup kagetnya beliau mengetahui saya berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Jawa Barat. Langsung beliau menatap saya dan berkata, “Mau ngapain kok jauh-jauh kemari?” sambil senyum. Saya pun menjawab, “Iya Prof. Sebelumnya ada acara di Ponorogo, jadi sekalian ke Malang”. Beliau pun langsung membuka obrolan dengan saya, “Oh.. Iya Kan kemarin Rektor UPI meninggal dunia kan ya?” Saya pun juga menjawab dengan sepengetahuan saya. Memang beliau masih terus memantau dan mengikuti perkembangan dunia pendidikan di Indonesia, sehingga beliau masih tidak pernah ketinggalan informasi. Tak lupa beliau sedikit menceritakan kepada saya bahwa dulu UPI itu IKIP Bandung dan berkembang menjadi Universitas. Dan pertemuan kami ditutup dengan titipan salam beliau kepada dosen-dosen di UPI Bandung.
Setelah bertemu beliau, saya sangat beruntung sekali bisa bertatapan langsung bahkan bisa berbincang-bincang singkat dengan beliau. Orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang hebat dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Sepanjang perjalanan pulang melalui kereta Malang – Bandung, tak lupa saya membaca buku Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro untuk mengisi waktu-waktu perjalanan saya. Betapa hebat pemikiran dan pengalaman beliau yang telah lakukan. Dengan membaca bukunya, saya seperti merasakan dan terlibat didalamnya. Hal ini jugalah yang membuat saya termotivasi, suatu saat nanti juga akan menulis buku. Semoga saja apa yang telah Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro lakukan dan dedikasikan untuk pendidikan di Indonesia dapat bermanfaat dan berguna bagi pembangunan Bangsa dan tanah air Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!