Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 30 Juni 2017

MUSEUM, CANDI, MUSIK DAN SEPAK BOLA

Selamat pagi Jumat Barokah!
Masih dalam suasana Idul Fitri 1438 H, Saya mengucapkan selamat hari Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Mungkin di Indonesia identik dengan istilah “mudik”. Seperti itulah yang saya rasakan ketika harus menjalani mudik dari Kota Kembang ke Bumi Rafflesia[1]. Berkumpul dengan keluarga di Hari Raya memanglah sangat dirindukan bagi semua orang khususnya yang beragama Islam. Selain bersilaturahmi, bermaaf-maafan, banyak makanan, keluarga berkumpul, petasan, takbiran, wisata dan lain-lainnya menjadi suasana yang khas di Hari Raya Idul Fitri. O iya, ada satu lagi... yaitu tiket transportasi yang mahal untuk mudik. Benar saja, tiket pesawat dari Jakarta menuju Bengkulu (seminggu sebelum lebaran) harganya bisa 2-3 kali lipat dari harga biasanya. Yang biasa hanya 400 ribuan – 500 ribuan untuk ekonomi pada hari biasa, ditanggal itu harganya menembus 1,5 juta dan itupun sudah SOLD OUT. Begitupun jalur darat, tiket Bus Bandung-Bengkulu yang biasanya 375 ribu menjelang hari raya menembus 500 ribu. Ah... sudahlah saya tidak akan membahas itu.
Setelah hari raya, identik dengan jalan-jalan baik bersama keluarga, teman-teman atau orang-orang yang di cintai. Alhasil tempat-tempat wisata dibanjiri pengunjung yang akan berwisata bersama keluarga. Baik dari desa, dari kota, luar kota, luar provinsi, luar negeri, luar sekolah (*eh... yg terakhir kayaknya engga termasuk) semua melakukan hal yang sama. Tak heran macet di jalan bisa sampai mengular hingga jalan ditutup atau polisi yang sibuk mengatur arus lalu lintas.
Banyak orang membagikan momen mereka liburan di sosial media, ada yang ke Pantai (Mantai), ada yang ke Gunung, ke Mall, dan banyak lagi objek wisata lainnya. Ya.. mungkin itulah salah satu yang membuat lebaran dirindukan. Ada teman yang bertanya, lebaran libur kemana? Lebaran wisata kemana? Ya saya jawab engga kemana-kamana, di rumah saja. Terus dibilang anak rumahan. Ya engga apa-apalah jadi anak rumahan, walaupun rumah belum punya, masih nebeng sama orang tua. Hahahahahaa (senyumin aja). Bahkan saudara mengajak ke Mall pun saya agak malas dan menolak, malah saya lebih memilih mengotak-atik, bongkar pasang TAB yang sedang rusak untuk diperbaiki. Ah ntahlah, kayak ada kurang greget atau mungkin selera yang berbeda.
Yaaa... mungkin selera yang berbeda. Lantas selera macam apa yang agak berbeda itu? Memang kalo bicara selera, bisa dibilang sedikit berbeda dengan teman-teman, baik itu teman S1 dulu atau S2 sekarang.
Mengunjungi Museum
Museum Brawijaya Malang
Mungkin tidak banyak orang memilih museum untuk menghabiskan waktu libur mereka. Tapi entah kenapa dalam 2-3 tahun terakhir saya suka sekali datang ke museum. Memang sih bisa dibilang baru, ya karena di tempat tinggal saya museumnya sedikit, tapi setelah ke kota-kota lain di luar Bengkulu, kok jadi enak ke museum... Beda museum, beda juga koleksinya, beda juga ceritanya, beda juga sejarahnya. Mungkin salah satu faktor inilah yang membuat saya suka ke museum. Musium Bengkulu, Museum Geologi Bandung, Museum Brawijaya Malang, Museum Musik Indonesia Malang, Museum Pendidikan Bandung. Ya mungkin masih sedikit, tapi saya masih berkeinginan mengunjungi museum-museum lainnya. Tergantung Kota yang dikunjungi dan Budget kantong. Hahahhaha...

Mengunjungi Candi dan Bangunan Bersejarah Lainnya
Situs Megalitikum Gunung Padang
Hampir sama dengan museum, saya juga lagi suka megunjungi candi dan tempat-tempat bersejarah gitu. Ya mungkin masih sedikit yang baru dikunjungi, Candi Badut Malang, Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur, Fort Malborough Bengkulu, dan lain-lainlah. Saya memang tertarik dengan kisah-kisah zaman dahulu yang dapat diambil hikmahnya. Saya juga kurang begitu faham mengapa selalu antusias jika mendengar orang bercerita tentang sejarah-sejarah zaman dahulu. Memang waktu kecil saya dan saudara saya suka mendengarkan cerita dari Kakek mengenai pengalaman beliau sewaktu menjadi ABRI (Angkatan Bersejata Republik Indonesia)[2]. Kakek memang memiliki banyak cerita yang pada waktu itu seolah-olah tak habis untuk diceritakan kepada cucunya. Mulai dari cerita kerajaan, cerita perang, cerita mistis, cerita kampung halaman, cerita saudara-saudara leluhur dan masih banyak lagi. Hampir setiap malam pasti selalu ditunggu cerita-ceritanya. Iya, Kakek selalu mengisi cerita-cerita mulai dari saya belum sekolah, kemudian sekolah TK, hingga sampai tamat SD ceritanya selalu enak untuk ditunggu.
Candi Badut Malang
Mungkin itulah salah satu penyebab saya tertarik dengan candi dan tempat-tempat bersejarah lainnya, melihat dan kemudian membaca sumber mengenai hal-hal yang dikunjungi atau mendengar cerita. Ya memang kita memiliki cara yang sedikit berbeda dalam menikmati keindahan alam ini.
Saya pernah dari Kota Bandung ke Situs Megalitikum Gunung Padang (Cianjur) dengan menggunakan sepeda motor dan tanpa tahu arah, hanya melihat google maps. Sampai salah jalan, masuk ke peternakan ayam, jalan berbatu, sudah dilalui. Bahkan mungkin orang yang saat itu berangkat bersama saya kapok jalan-jalan naik motor dengan saya.
MUSIK
Konser /rif
Siapa sih yang tidak suka musik? Barangkali semua orang suka dengan musik, entah itu sebagai pekerjaan, hobi bahkan pendengar saja. Musik memiliki banyak aliran dan memiliki penggemarnya masing-masing. Ya benar saja, saja juga penikmat musik. Jika ditanya bisa atau tidak bermain musik, saya susah menjawabnya.... Gitar? Saya hanya bisa petik dengan kunci-kunci dasar saja. Keyboard? Pernah pencet-pencet saja tapi suaranya kacau balau. Drum? Sampai saat ini baru 1 kali menggebuk drum, dan itupun terdengar kurang enak dan langsung diganti oleh pemain lain saat menyewa studio band. Bas? Ya sama.. ini nya mah tidak bisa. Nyanyi? Saya hanya nyanyi di acara nikahan saja dan lagunya pun hanya punya 2 lagu andalan. Hahahahahha.. jadi bisa nilai sendirilah.
Terlepas dari itu, saya tetap menjadi penikmat musik. Menyukai musik dan kenal beberapa Band-Band Indonesia dari sejak SD. Siapa penyebar virusnya? Jawabannya Om saya! Ketika itu beliau cukup banyak koleksi kaset tape dari band-band Indonesia. Slank, Boomerang, Padi, Sheila on 7, Jamrud, Base Jam dan masih banyak. Namun hanya band yang saya sebutkan tadi yang familiar di telinga saya saat itu. Berlanjut waktu SMP, saya memiliki tape radio sendiri yang ditaruh di kamar tidur dan ruang belajar. Alhasil saya menjadi anak radio, suka mendengar radio dan kadang-kadang kirim-kirim salam di Radio. Hal ini berlangsung hingga SMA. Entah pada waktu itu radio menjadi trand bagi saya karena selalu mendapat update berita-berita lagu-lagu baru, sebelum teman-teman saya tahu. Itulah hebatnya radio..
Konser Kotak
Beranjak SMA, saya dan teman-taman yang sekolahnya.. ya... bisa dibilang sekolah di kampung memiliki keinginan sama yaitu menonton konser apabila ada band yang manggung di Kota Bengkulu. Terdengar oleh kami band yang saat itu lagi naik daun akan menggelar konsernya di Bengkulu. SAMSONS (vokalisnya saat itu masih Bams), UNGU, KOIL dan Kangen Band. Mereka manggung dalam satu hari. Dengan uang jajan yang pas-pasan kami ber empat nekat ke Kota Bengkulu yang jaraknya 1,5 jam bila ditempuh menggunakan mobil angkutan umum. Karena menghemat ongkos, kami menggunakan seragam sekolah, sehingga ongkos angkutan umum, menyesuaikan dengan anak sekolah. Hanya Rp. 3000,- untuk sekali berangkat. Sampai di lokasi kami langsung mengganti seragam sekolah dengan pakaian bebas, supaya orang tidak aneh lihat pakaian batik sekolah kami yang sangat berbeda dengan pakaian batik dari sekolah-sekolah yang ada di Kota Bengkulu. Karena selesai konsernya sudah sangat sore, akhirnya kami kemalaman dan nyaris tidak ada kendaraan umum yang menuju Bengkulu Utara. Alhamdulillah, ada 1 mobil yang isinya barang-barang untuk dijual yang menuju Bengkulu Utara, ya akhirnya pulang dengan mobil tersebut.
Memang sih, sensasinya berbeda ketika kita menyaksikan langsung konser. Bisa jingkrak, loncat-loncat, dan lain-lain. Hingga saat ini sudah ada beberapa band yang saya tonton langsung, antara lain : Samsons, Ungu, Koil, Kangen Band. Radja, Ratu, Repvblik, Kotak, TRIAD/The Rock, Irfan (Vokalis Seventeen), Wali, Roket Rocket, Tipe X, Slank, /Rif, Pass Band, Dygta, dan lain-lain (banyak yang lupa karena sekarang bandnya gak muncul lagi).

SEPAK BOLA
Kalau yang ini... jangan ditanya lagi. Sudah keracunaan sama yang namanya sepak bola. Banyak cerita yang ingin saya ceritakan tentang hal yang satu ini, tapi mungkin dilain waktu.
Keracunan bola, mulai dari kelas 3 SD. Muncul karena saat itu setiap jam olahraga di sekolah hanya olahraga yang itu-itu saja. Barangkali saat itu tidak ada bolanya. Sehingga olahraga di SD hanya lomba lari, lompat jauh dan main kasti. Setelah saya kelas 3 SD, Sepak bola mulai sering dimainkan oleh orang-orang dewasa. Di SD pun hanya boleh dimainkan oleh kelas 4, 5 dan 6. Walau kelas 3, saya tetap nekat main sepak bola dan sempat mengalahkan kelas 5, walaupun saat itu kelas 5 berdalih bahwa mereka tidak bermain dengan tim inti. Hahahhaah.. bahasanya agak tinggi, padahal main-main biasa saja.
Stadion Patriot Bekasi
Singkat cerita, sempat menjadi pemain bola tingkat Kabupaten dan terpilih pemain Bengkulu U-15, namun karir disepak bola ya hanya sampai di situ saja. Praktis setalah tamat SMA, dan beranjak kuliah, impian menjadi pemain bola pun perlahan menghilang. Tapi keciantaan saya kepada olahraga ini tidak bisa diragukan lagi. Olahraga ini seperti sudah mendarah daging dihidup saya. Untuk melampiaskannya, saya menjadi suporter. Mendukung tim kesayangan lewat layar kaca dan datang ke stadion.
Stadion Kanjuruhan Malang
Datang ke stadion itu rasanya sangat berbeda, anda tidak akan melihat replay, anda tidak akan mendengar langsung yel-yel dan masih banyak lagi. Yang jelas, adrenalin mendukung tim kesayangan langsung ke stadion itu seperti anda bertempur melawan penjajah (mungkin terdengar agak lebay). Ya kurang lebih seperti itulah.



[1] Bumi Rafflesia adalah julukan untuk Provinsi Bengkulu, karena di Provinsi ini banyak terdapat bunga Rafflesia.
[2] Sekarang bernama TNI
 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!