Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 14 Mei 2018

PENILAIAN OTENTIK DALAM KURIKULUM 2013


Penilaian otentik dalam implementasi kurikulum 2013 mengacu kepada standar penilaian yang terdiri dari: (1) Penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal, (2) Pengetahuan melalui tes tulis, tes, lisan, dan penugasan. (3) Keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio
Dalam kurikulum 2013 mempertegas adanya pergeseran dalam melakukan penilaian, yaitu dari penilaian tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil kerja saja), menuju penilaian otentik (mengukur kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil). Dalam penelitian otentik peserta didik diminta untuk menerakan konsep atau teori pada dunia nyata. Otentik berarti keadaan sebenarnya , yaitu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki peserta didik dalam kehidupan sehari-hari atau dunia nyata. Penilaian otentik mengacu pada Penilaian Acuan Patokan (PAP), yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal). Dengan demikian, pencapain kompetensi peserta didik tidak dalam konteks dibandingkan dengan peserta didik lainnya, tetapi dibandingkan dengan standar atau kriteria tertentu, yakni Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dalam penilaian otentik, guru melakukan penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga komptensi inti dan SKL.
Berikut ini tabel yang menggambarkan elemen perubahan dalam penilaian pada kurikulum 2013.
Tabel 1.1
Elemen Perubahan dalam Penilaian Kurikulum 2013


Sumber : kemendikbud, 2013

PENGERTIAN PENILAIAN OTENTIK / PENILAIAN AUTENTIK

Penilaian otentik merupakan  :“a form of assessment in which students are asked to perform real-world tasks that demonstrate meaningful application of essential knowledge and skill (Jon Mueller, 2006:1)[1].  (suatu bentuk penilaian yang para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna).
Authentic Assessment is engaging and worthy problems or questions of importance in which students  must use knowledge to fashion performances effectively. The tasks are either replicas of or analogous to the kind of problems faced by adult citizens and consumers or professionals in the field” (Grant Wiggins, 1990:70)[2]. (Menekankan hal yang lebih unik lagi. Beliau menekankan perlunya kinerja ditampilkan secara efektif dan kreatif. Selain itu tugas yang diberikan dapat berupa pengulangan tugas atau masalah yang analog dengan masalah yang dihadapi orang dewasa (warganegara, konsumen, professional) di bidangnya).
Penilaian otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh dosen/guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan peserta didik  melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kompetensi telah benar-benar dikuasai dan dicapai (Majid,2015: 186)[3]
Penilaian otentik adalah kegiatan menilai apa yang seharusnya dinilai. Penilaian otentik merupakan prosedur penilaian pada pembelajaran  yang  berbasis kontekstual (Nurhadi, Yasin dan Senduk , 2004:52)[4].
Penilaian otentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi.  Sedangkan istilah otentik merupakan sinonim dari  asli, nyata, valid, atau reliabel.
Secara konseptual penilaian otentik lebih bermakna secara signifikan  dibandingkan dengan  tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan penilaian otentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, pendidik menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar pembelajaran.
Penilaian otentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.  Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Penilaian otentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih otentik.
Penilaian otentik merupakan suatu bentuk tugas yang menghendaki peserta didik untuk menunjukkan kinerja di dunia nyata secara bermakna, yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Penilaian otentik juga menekankan kemampuan peserta didik untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki secara nyata dan bermakna. Kegiatan penilaian tidak sekedar menanyakan atau menyadap pengetahuan, melainkan kinerja secara nyata dari pengetahuan yang telah dikuasai sehingga penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input)proses,dan keluaran (output) pembelajaran.
Penilaian otentik bertujuan untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Misalnya, penugasan kepada peserta didik untuk menulis topik-topik tertentu sebagaimana halnya di kehidupan nyata, dan berpartisipasi konkret dalam diskusi atau bedah buku, menulis untuk jurnal, surat, atau mengedit tulisan sampai siap cetak. Jadi, penilaian model ini menekankan pada pengukuran kinerja, doing something, melakukan sesuatu yang merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan yang telah dikuasai secara teoretis.
Jadi penilaian otentik adalah menilai kemampuan peseta didik apa adanya sesuai dengan apa yang dilakukan, sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran aktif dan inovatif serta berpusat pada peseta didik (student center). Penilaian otentik lebih menuntut pembelajar mendemonstrasikan pengetahuan, keterampilan, dan strategi dengan mengkreasikan jawaban atau produk. Peserta didik tidak sekedar diminta merespon jawaban seperti dalam tes tradisional, melainkan dituntut untuk mampu mengkreasikan dan menghasilkan jawaban yang dilatarbelakangi oleh pengetahuan teoretis.



[1] Mueller, J. (2006). Authentic Assessment. North Central College. Tersedia: http://jonatan.muller.faculty.noctrl.edu/toolbox/whatisist.htm
[2] Wiggins, G. (1990). The Case for Authentic Assessment. ERIC Digest ED238611 (online). Available: http://www.ed.gov/databases/ERIC_Digests/ed238611.html
[3] Madjid, Abdul. (2015). Penilaian Autentik : Proses dan Hasil Belajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
[4] Nurhadi, Yasan dan Senduk. Pembelajaran Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang

Minggu, 13 Mei 2018

PENGERTIAN KECERDASAN EMOSIONAL


Emosi adalah perasaan yang ada dalam diri kita, dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atau buruk. Dalam World Book Dictionary (1994: 690) emosi didefinisikan sebagai “berbagai perasaan yang kuat”, seperti perasaan benci, takut, marah, cinta, senang, dan kesedihan. Macam macam perasaan tersebut adalah gambaran dari emosi. Goleman (1995:411)[1] menyatakan bahwa “emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak”.
Syamsuddin (2000:69)[2] mengemukakan bahwa “emosi merupakan suatu suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (stid up state) yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya suatu perilaku”. Berdasarkan definisi tersebut kita dapat memahami bahwa emosi merupakan suatu keadaan yang kompleks, dapat berupa perasaan ataupun getaran jiwa yang ditandai oleh perubahan biologis yang muncul menyertai terjadinya suatu perilaku.
Kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai himpunanbagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilahmilah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu, peranan lingkungan terutama orangtua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional (Bahtiar,2009).
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage our emotional life with intelligence), menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan ketarampilan sosial.
Sedangkan kecerdasan emosi anak usia dini adalah kemampuan untuk mengenali, mengolah, dan mengontrol emosi agar anak mampu merespon secara positif setiap kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi. Dengan mengajari anak-anak keterampilan emosi anak-anak akan lebih mampu mengatasi berbagai masalah yang timbul selama proses perkembangannya menuju manusia dewasa. Dari beberapa penelitian dalam bidang psikologi anak telah membuktikan bahwa anak-anak yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi adalah anak-anak yang bahagia, percaya diri, populer, dan lebih sukses di sekolah (Mashar, 2011).


[1] Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia.
[2] Syamsuddin, A. (2000). Psikologi Pendidikan (Edisi Revisi). Bandung: Remaja Rosda Karya

Jumat, 11 Mei 2018

ISU DAN ETIKA DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN

Isu etika sering ditimbulkan dan dibincangkan dalam seminar penelitian, terutama dalam bidang sosial dan tingkah laku adalah kerana kebebasan yang dilakukan biasanya menggunakan manusia yang ada perasaan dan pengalaman. Kaedah pengumpulan data dalam penelitian juga ada yang bersifat rahasia, hak, hal pribadi dan kebenaran subjek kajian. Oleh karena data yang dikumpul dari responden mungkin merupakan bersifat rahasia atau sesuatu yang sulit, yang tidak bisa diketahui.
Menurut Setiawan,[1] etika adalah konsep yang mengarah pada perilaku yang baik dan pantas berdasarkan nilai-nilai norma, moralitas, pranata, baik kemanusiaan maupun agama.
Etika mengandung tiga pengertian[2] yaitu : 1) Kata etika dapat dipakai dalam arti nilai-nilai atau norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. 2) Etika berarti kumpulan asas atau nilai moral. Misalnya kode etik. 3) Etika merupakan ilmu tentang yang baik atau yang buruk yang diterima dalam suatu masyarakat. 
Etika berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos, dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, antara lain tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah adat kebiasaan. Etika adalah ilmu tentang apa yang bisa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Kata yang cukup dekat dengan etika adalah moral. Moral berasal dari kata latin mos dalam bentuk tunggal, jamaknya mores yang berarti kebiasaan, adat. Etimologi kata etika sama dengan etimologi kata moral karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan. Hanya saja bahasa asalnya yang berbeda. Istilah etika atau moral dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kesusilaan. Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia, perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas. Sedangkan objek formal etika yaitu kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.[3]
Penelitian adalah kegiatan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip (baik kegiatan untuk penemuan, pengujian atau pengembangan) dari suatu pengetahuan dengan cara mengumpulkan, mencatat dan menganalisa data yang dikerjakan secara sistematis berdasarkan ilmu pengetahuan (metode ilmiah).[4]
Jadi dapat disimpulkan bahwa, etika penelitian adalah suatu ukuran dari tingkah laku dan perbuatan yang harus dilakukan/diikuti oleh seorang peneliti dalam memperoleh data-data penelitiannya yang disesuaikan dengan adat istiadat serta kebiasaan masyarakat ditempat ia meneliti.
Mengapa kita perlu belajar tentang etika penelitian ?
Martinson, Anderson & de Vries, Nature 435, 737 (9 Juni 2005) jajak pendapat dari 3.247 ilmuan yang didanai oleh NIH Persentase ilmuwan yang mengakui yang terlibat dalam perilaku yan tercantum dalam 3 tahun sebelumnya (pilihan) :
Tabel 2.1
Persetase pelanggaran Etik Menurut Martinson, Anderson dan Vries

No.
Persentase
Pelanggaran Etik
1
0.3 %
Memalsukan atau hanya "mengolah" data penelitian
2
1.4%
Menggunakan ide-ide orang lain tanpa izin atau pemberian pengakuan
3
1.7%
Penyalahgunaan bahan rahasia untuk penelitian sendiri
4
6%
Gagal untuk  menyajikan data yang bertentangan dengan penelitian sebelumnya
5
12.5%
Menghadapipenggunaan data cacat /interpretasinya dipertanyakan
6
4.7%
mempublikasi data yang sama atau hasil diberbagai publikasi
7
10%
Kurang tepat menetapkan contributor karya ilmiah
8
10.8 %
Pemenggalan rincian metodologi dalam makalah atau proposal
9
13.5%
Menggunakan rancangan penelitian tidak memadai atau tidak patut
10
15.3%
Menjatuhkan pengamatan atau titik data melalui firasat/ perasaan
11
27.5%
Pencatatan yang tidak memadai terkait dengan proyek-proyek penelitian.



[1] Setiawan, N., Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah, Bahan TOT Penulisan Karya Ilmiah, 2011. Hal. 13.
[2] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 29.
[3]Dirgantara Wicaksono,  Etika dalam Ilmu dan Penulisan Ilmiah, dalam situs: http://dirgantarawicaksono. blogspot.com/diunggah hari Selasa tanggal 25 Maret 2014.

Selasa, 08 Mei 2018

PAGI

Oleh : Bayu Pradikto

Nanga Pinoh, 04 Mei 2018

Pagi adalah waktu yang tepat menuai rindu
Pagi adalah ketika kabut bercampur merdu kicau burung
Iya,.. Pagi yang didambakan
kala hati disirami embun

Aku marah dengan pagi ini
Pagi ini mau mencoba merebutmu dari ingatanku
Pagi ini mencoba mengalihkan perhatianmu
yang datang bermalam di mimpiku

Tapi tak mengapa,
Besok kita akan berjumpa lagi
Berjumpa di harapan yang tetap sama
Berjumpa di jalan yang masih sama
Iya,.. antara Kau dan Aku.
 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!