Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 29 Juni 2018

MALANG DAN AREMA-NYA


Sebenarnya ini merupakan bagian dari cerita saya sebelumnya. Iya,... masih dalam rangkaian kegiatan perjalanan saya ke Jawa Timur. Sebelumnya saya ke Madiun (bertemu dengan teman dekat saya) dan ke Ponorogo (Universitas Muhammadiyah Ponorogo) dalam rangka menjadi pemakalah International Seminar on Islamic Education 2017. Namun, pada bagian ini saya akan mencoba menulis pengalaman saya pertama ke Malang.

Setelah dari Ponorogo, saya dan teman saya “Tian” (begitu keluarganya memanggilnya dengan hangat), kita kembali ke Madiun setelah seharian explore Ponorogo dan Plaosan Magetan.

Tujuan utama saya ke Malang adalah ke salah satu kampus di sana untuk menjadi pemakalah pada seminar nasional. Salah satu kampus yang cukup tua di Malang (yang saya dengar seperti itu), Universitas Wisnuwardhana Malang. Namun, dari Madiun saya tidak langsung ke Kota Malang, tapi saya menuju Kepanjen dulu. Ya, benar saja.... saya yang sedikit gila bola, akan menyaksikan terlebih dahulu pertadingan Gojek Traveloka Liga 1 antara tuan rumah Arema FC yang berhadapan dengan Bhayangkara FC di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen Kabupaten Malang. 

Tiket kereta Madiun - Kepanjen
Dari Stasiun Madiun saya berangkat pukul 02.54 WIB dan tiba di Stasiun Kepanjen pukul 07.18 WIB. Sesampainya di Stasiun Kepanjen, saya langsung menuju Stadion untuk melihat secara dengan kemegahan Stadion Kanjuruhan. Karena baru pertama kali ke Malang, saya mencoba menggunakan bantuan google maps untuk melihat jarak posisi saya saat ini dengan stadion Kanjuruhan. Ternyata cukup lumayan sih kalo jalan kaki. Namun udara pagi Kepanjen cukup bersahabat dan seolah membisikkan untuk berjalan kaki menikmatinya. Ya, hitung-hitung hemat untuk tidak keluar ongkos (anak kost banget ya!).

Dengan membawa satu tas ransel, saya berjalan kaki menuju Stadion Kanjuruhan. Jalanan saat itu cukup lengang, hanya ada beberapa orang mengayuh sepeda menikmati pagi Kepanjen dan satu dua hilir mudik kendaraan bermotor. Beberapa menit saya jalan kaki, muncullah seorang lelaki yang sekilas saya melihat pasti umurnya di bawah saya (saya kelihatan tua kali ya!!!) dengan sepeda motor dan t-shirt Singo Edannya terdengarlah suara ramah itu menanyakan kepada saya hendak kemana tujuan saya. Singkat obrolan, ternyata tujuan kita sama-sama mau ke Kanjuruhan. Akhirnya beliau menawarkan tumpangan kepada saya. Hmmmm.. tanpa ragu saya menerima tawaran tersebut.

Selama perjalanan saya memperkenalkan diri dan beliau juga mengenalkan dirinya. Dari obrolan tersebut saya ketahui ternyata beliau juga membuka lapak (dagangan) disekitar stadion. Tak lupa juga beliau menawarkan untuk singgah (mampir) di lapaknya tepatnya sih... lapak jualan kopi gitu. Dari atas sepeda motor dia menunjukkan tempat lapaknya yang saat itu mata saya langsung terfokus pada satu titik. Lapak yang terlihat belum siap untuk menyambut pelanggannya, karena suasana memang masih pagi. Tak enak rasanya hati ini untuk mampir ke lapaknya, dalam pikiran saya pasti nanti saya akan merepotkan dan mengganggu persiapan beliau untuk menjajakkan dagangannya. Akhirnya saya mengatakan kepada beliau kalau saya masih mau keliling-keliling Stadion dan tak lupa saya haturkan terima kasih atas bantuannya mau memberikan tumpangan kepada saya.

Menikmati suasana sekitaran luar Stadion Kanjuruhan yang banyak dipadati oleh orang-orang yang sedang olahraga pagi. Ada yang latihan drum band, jogging, jualan, main bola, atraksi dan lain-lain.
Mata saya tertuju kepada salah satu sudut toko yang menjual berbagai macam atribut yang berwara Biru (khas Arema). Memang banyak yang menjual atribut-atribut Arema di sekitaran Stadion Kanjuruhan. Jadi bagi kalian yang mampir ke Kanjuruhan dan mau mencari atribut Arema (jersey, t-shirt, syal, bendera, boneka singa, gelang, topi dan sebagainya yang berbau Arema) di sini bisa menjadi salah satu pilihan untuk memburunya. 

Walaupun saya bukan fans Arema, tapi saya tetap tergoda untuk membeli satu jersey Arema FC sebagai kenang-kenangan. Pilihan saya jatuh kepada salah satu jersey tandang Arema FC yang berwarna dominan merah gelap. Setahu saya sih jersey tandang ini pernah dipakai Arema FC waktu tandang ke Bandung (menghadapi Persib Bandung) pada partai Pembukaan Gojek Traveloka Liga 1 tahun 2017.

Setelah membeli jersey, saya lanjutkan perjalanan mengelilingi Stadion. Kembali, mata saya tertuju pada satu kerumunan yang terdengar suara alunan musik tradisional. Benar saja, ternyata ada pertunjukan reog ponorogo di sekitaran Stadion. Wah, keren juga ya... bisa ketemu pertunjukan ini di sekitaran stadion. Inilah Indonesia yang kaya dengan budayanya, makin cinta dengan Indonesia. Kalau bisa dibilang ini tuh, temanya sport and culture gitu deh. Luar biasalah pokoknya!!!

Hari itu semakin siang, terik mentari semakin terasa cukup panas. Saya pun melanjutkan perjalanan mengitari stadion. Mata saya kembali tertuju pada suara lantang yang menjajakkan sesuatu yang kedengarannya sedikit samar di telinga. Saya pun mendekati suara tersebut. Ternyata suara itu berasal dari laki-laki yang sudah cukup berumur, kalau saya taksir umurnya sekitar 55 an. Dengan menggunakan bahasa Jawa, dia terus menawarkan apa yang ia jual. Itu adalah orang yang menjual tiket pertandingan sepak bola Gojek Traveloka Liga 1 antara Arema FC vs Bhayangkara FC.

Saya awalnya berpikiran bahwa ini pasti calo yang menawarkan tiket. Namun penasaran saya tak terbendung. Iseng-iseng saya menanyakan harga dan jenis tiket yang dijual. Beliau menawarkan mau yang mana? Ekonomi atau VIP? Saya coba menanyakan ini ekonomi di tribuan mana? Beliau menjawab, “Kalau Ekonomi bebas Mas”. Jadi dari penjelasan beliau, bahwa tiket ekonomi itu bebas mau di tribun ekonomi sebelah mana juga bebas. Mau di timur, utara, selatan atau ekonomi samping VIP juga boleh. Tak lupa beliau mengingatkan kalau mau tribun timur (biasanya tribun yang ramai dan paling sering di sorot kamera TV) maka datangnya harus lebih awal, ya sekitar jam 16.00 WIB itu biasanya sudah ramai. 

Saya kembali bertanya tentang tiket tersebut, beliau menjawab sesuai dengan yang tertera pada tiket (Ekonomi Rp. 40.000). Dipikiran saya ini kayaknya bukan calo, karena menjual sesuai dengan yang tertera pada tiket. (Namun belakangan saya ketahui bahwa sebenarnya harga tiket itu aslinya adalah Rp. 35.000. Memang awalnya manajemen menaikkan harga tiket menjadi Rp. 40.000,- namun karena banyak Aremania yang protes mengenai kenaikan harga tiket akhirnya tiket untuk ekonomi diturunkan menjadi Rp. 35.000). artinya pada saat itu mungkin saya kebagian tiket yang masih dalam cetakan harga awal (itu sih dugaan saya) tapi tidak masalah, karena menurut saya masih dalam batas kewajaran harga segitu untuk suatu pertandingan.

Dalam sela-sela obrolan dengan Bapak penjual tiket, saya menanyakan tentang penginapan yang ekonomis disekitar sini. Beliau langsung memberikan rekomendasi beberapa penginapan di sekitar Kepanjen (tidak jauh dengan Stadion Kanjuruhan) lengkap dengan arah yang harus saya lewati untuk menuju lokasi yang dimaksud. Dengan detail beliau menunjukkan lengkap dengan ekspresi tangan dan logat khas Jawa-nya. Mendengar obrolan saya dengan bapak penjual tiket, ada salah satu orang yang menawarkan penginapan yang bersamaan dengan rombongan Arema FC dalam arti satu hotel dengan pemain-pemain Arema FC. Waduh.... gila aja nih... dalam pikiran saya berapa duit yang harus keluar ini?? Namun kembali rasa ingin tahu saya terus menggelora. 

Iseng-iseng saya menyanyakan, “Berapa kira-kira tarif hotelnya Pak?”. Dengan meyakinkan beliau menjawab, “Ya... Paling murah sekitar Rp. 300 ribuan permalam”. Ya nanti bisa ketemu dengan Kurnia Meiga, Dendi Santoso dan lainnya.

Seru sih sebenarnya bisa satu hotel dengan pemain Arema. Namun, dengan mempertimbangkan budget di kantong, akhirnya saya menolak dengan halus tawaran bapak tersebut. “Kayaknya belum deh Pak, saya cari yang biasa-biasa aja lah”.

Kembali ke petunjuk awal tentang hotel ekonomis yang ada di sekitaran Kanjuruhan. Tak lupa saya menanyakan kendaraan apa yang bisa saya naiki untuk menuju hotel tersebut kepada Bapak penjual tiket. Beliau menjawab, “sebenarnya ada angkutan umum menuju ke sana tapi biasanya lama menunggunya dan lewatnya tidak menentu, nah kalau mau cepat bisa naik ojek yang ada di sekitaran depan gerbang stadion” jawab Bapak tersebut.

Tak lama berbincang-bincang tentang angkutan umum. Ada seorang laki-laki muda (kurang lebih seusia dengan saya) menawarkan tumpangannya ke arah sana (mungkin dia mendengar obrolan saya tadi). Awalnya saya sempat takut juga sih (ya.. pikiran negatif karena baru pertama ke Malang) bisa jadi ini mau copet, atau apalah.. jujur itu sih yang awalnya ada dipikiran saya. Saya walaupun kalau dipikir-pikir apa sih yang mau dicopet dari saya? Uang pas-pasan, palingan Cuma HP dan laptop butut. Hahahahahaha.... Namun Bapak penjual tiket itu membuat saya yakin, “Iya Den, naik saja nanti mas ini mengantarkan... Aman kok searah”. Akhirnya saya menerima tawaran tersebut.

Selama perjalanan ke penginapan, saya memperkenalkan diri saya dan banyak bertanya-tanya kepada Mas yang mengantarkan saya (Saya lupa namanya) tentang Malang. Beliau menjawab dengan ramah dan sopan sekali. Salah satu pertanyaan yang cukup membuat saya penasaran, “Mas, Saya tidak apa-apa ini tidak memakai helm?”. Beliau menjawab, “Tidak apa-apa Mas, Kalau Arema lagi main disini bebas mas. Tidak pakai helm juga tidak apa-apa. Tidak akan di razia polisi, tenang saja”. Dari obrolan, Mas-nya cerita kalau pernah ke Sumatera tepatnya ke Sumatera Selatan. Dari yang Mas-nya sebutkan ada daerah Sekayu, Prabumulih.. itu sih yang saya tahu dan yang saya ingat. Bahkan Mas-nya juga cerita kalau pernah ke Kalimantan Timur untuk bekerja. “Wah,.. keren juga ya, kerjanya sudah kemana-mana”, jawab saya.

Tak disangka saya diantar hingga sampai diantar ke resepsionis penginapannya. Saya bilang ke Mas-nya, “tidak usah mas, sampai sini saja!”. Mas-nya menjawab, “Tidak apa-apa mas, saya antar ke dalam, nanti biar saya nego kan dengan resepsionisnya. Takutnya nanti di mahal-mahalin atau dibilang tinggal kamar yang mahal yang ada”. Wah luar biasa pokoknya, ramah bangetlah orang-orang yang baru saya temui di sini. Benar saja, saya mendapat harga yang cukup murah untuk kelas hotel dengan fasilitas cukup bagus yang saya dapat, bisa langsung cek in walau sebenarnya jadwal cek in jam 13.00 (saat itu baru jam 10.30 WITA) sudah beserta sarapan juga, hanya Rp 125.000,- . Keren kan... Malang the best lah.... kesan pertama saya.

Setelah selesai mandi, sholat dan istirahat, sekitar pukul 13.00 WITA, saya keluar hotel mencari makan. Saat itu saya lagi kepengen makan nasi dan sayur-sayur gitu. Maka sepanjang perjalanan di pelataran toko Kepanjen, saya menemukan ibu-ibu penjual nasi pecel. Akhirnya saya memutuskan untuk makan di sana. Ya, benar saja... harganya cukup murah, nasi pecel dengan telur, peyek, segelas teh hangat, hanya Rp.13.000. lumayan murahlah.

Sambil makan, ibu penjual nasi pecel itu bilang kepada saya, “Baru ya mas di Malang? Mas yang main bal-balan lawan Arema ya?” seketika saya kaget!!! Mungkin maksud ibu penjual nasi pecel ini saya pemain bola (Bhayangkara FC) yang akan melawan Arema FC malam ini. Memang sih penampilan saya hari itu casual sporty gitu deh. Pakai t-shirt bertuliskan Nike, jaket hijau AC Milan, celana pendek dan sepatu casual vans tanpa kaos kaki. Mungkin karena kostum Bhayangara hijau-hijau kali aja dikira sama dengan warna jaket saya dan rambut saya memang pendek rapi sih.. ya kali aja dikira pemain Bhayangkara (dikira polisi kali) hahhahahhahhah... hahhaa...

Pertanyaan ibu itu saya jawab saja, “Bukan Bu, saya cuma jalan-jalan saja di Kepanjen, saya dari Sumatera Bu, nah... nanti sore juga mau nonton ke stadion”. Ibu itu kembali menjawab, “o, tak kira sing main bal-balan. Kan iki deket hotelne”. Mungkin dikira Ibu itu saya yang main Bola itu, karena kebetulan hotel menginapnya pemain bola itu dekat dari sini. Benar saja, ternyata hotel yang saya lewati tadi itu adalah hotel tempat pemain bola menginap. Saya jadi ingat tawaran Bapak di stadion tadi untuk menginap satu hotel dengan pemain Arema. Hahhahaahaa... 

Ternyata seorang Ibu penjual nasi pecel pun juga tahu banyak tentang Arema. “Arema disini sudah seperti budaya. Setiap Arema main, pasti ramai dari mana-mana saja pada datang kesini. Kadang dari Jakarta juga sering banyak datang ke sini”, begitu penjelasan Ibu penjual nasi pecel. Ya seperti diketahui bersama kalau hubungan antara Aremania (sebutan untuk supporter Arema) dan The Jakmania (sebutan untuk supporter Persija Jakarta) sangat akrab dan dekat sehingga tak jarang bila masing-masing klub bertanding entah itu kandang maupun tandang biasanya saling berkunjung dan menonton bersama.

tiket pertandingan
Setelah selesai makan, saya kembali ke hotel sambil diperjalanan membeli cemilan untuk di hotel. Sepanjang perjalanan di toko-toko yang ada di Kepanjen, saya melihat beberapa toko juga menjual atribut-atribut Arema. Ya walaupun tidak terlalu banyak seperti di sekitaran stadion. Cuaca saat itu cukup bersahabat untuk berjalan-jalan di Kepanjen.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.15 WITA, tiket sudah ada di tangan, jersey Arema sudah dibeli untuk dipakai ke Stadion (padahal emang stok baju sudah menipis, hahahhaha) tak lupa sholat Ashar terlebih dahulu barulah berangkat.
Dengan berjalan kaki dari penginapan menuju stadion, ditemani langit yang teduh. Terlihat antusias Aremania untuk mendukung tim kesayangannya, ada yang konvoi, naik mobil dan ada juga yang berjalan kaki. Tapi cukup melelahkan sih sebenarnya jalan kaki dari penginapan saya ke Stadion.
Sesampai di Stadion, saya memilih untuk masuk ke jalur tribun ekonomi sebelah kiri tribun VIP (Ekonomi Barat). Pemeriksaan cukup ketat ketika akan masuk Stadion, hal ini dilakukan untuk menghindari supporter yang membawa senjata tajam dan hal-hal lain yang dilarang dibawa ke dalam stadion.

Sebenarnya laga baru akan mulai malam sekitar jam 18.30, namun pukul 17.00 WITA stadion sudah mulai terisi penuh, terutama pada tribun ekonomi timur. Namun, sebelum pertandingan dimulai, sekitar pukul 17.00 WITA hujan lebat membahasi Kanjuruhan. Alhasil, banyak yang mencari alas untuk berlindung. Hari itu penjual mantel plastik kebagian panggung. Benar saja laris manis, harga Rp 10.000 mantel plastik ludes diserbu penonton, tak terkecuali saya yang juga ikut membeli. Ya daripada nanti hujan-hujanan terus sakit, kan engga lucu juga...

Di dalam stadion khususnya di tribun tempat saya duduk, cukup banyak penjual kopi dan minuman yang bisa dijumpai keliling membawa dagangannya. Malam yang cukup dingin pasca hujan melanda. Obrolan-obrolan ringan ku buka dengan penonton sekitaran kiri kanan tempat saya duduk. Ada yang datang beramai-ramai, ada yang datang sendiri bahkan ada pula yang datang bersama pacarnya. hhhhmmmm... Ada yang datang dari Kota Malang, ada pula yang dari luar Malang. Ya begitulah sepakbola yang disebut-sebut universal, bisa menyatukan semuanya. hahahahhaha...

Obrolan cukup hangat, ditawari pula kopi sachetan ala penjual-penjual keliling. Iya, itulah Malang, Malang yang hangat karena keramahan dan segelas kopi. Arema mungkin sudah menjadi budaya disini. Layaknya Persija Jakarta dengan Jakmanianya, Persib Bandung dengan Bobotoh/Vikingnya, Persebaya Surabaya dengan Boneknya. Klub kebanggaan sudah menjadi budaya yang merasuki jiwa pecintanya. Maka tak heran kadang mereka rela jauh-jauh datang hanya untuk mendukung tim kebanggannya. Ya, begitulah sepakbola yang punya sisi dan sudutnya sendiri untuk dinikmati. Mungkin saat ini saya menikmati sisi dan sudut kehangatan dari sepakbola yang ada Malang.
Pemain Arema FC sedang pemanasan sebelum pertandingan

Kembali ke cerita di lapangan, suara musik mulai berbunyi ketika pemain memasuki lapangan untuk sesi pemanasan, gemuruh Aremania pun mulai berkumandang melihat idola mereka memasuki lapangan, sembari meneriaki nama-nama pemain kesayangan mereka. Berbagai yel-yel dan nyanyian dikumandangkan di Stadion Kanjuruhan untuk mendukung Kurnia Meiga cs berlaga.

Benar saja, energi dari Aremania seolah memompa semangat pemain Arema FC. Saat pertandingan mulai hingga berakhir, tak henti Aremania ternyanyi memberi dukungan. Dari kejauhan terlihat dirigen Aremania (yang sering saya lihat di sosial media, Yuli Sumpil) memimpin Aremania dalam memberikan semangat kepada Arema. Suasana stadion cukup padat menyesaki Stadion Kanjuruhan, terutama pada tribun timur dan tribun-tribun ekonomi lainnya. Dalam pertandingan tersebut, Arema Fc berhasil menumbangkan tim tamu Bhayangkara FC dengan skor 2-0. Gol dicetak oleh D. Setiawan pada menit ke 18 dan Esteban Viscara pada menit ke 72.

Malam itu Aremania berpesta menyambut kemenangan di awal musim 2017 yang cukup menjanjikan. Kegembiraan terlihat dari wajah Aremania yang saya temui sepanjang jalan pulang menuju hotel.

Inilah sedikit cerita saya tentang pengalaman ketika di Kepanjen dan menyaksikan pertandingan di Stadiun Kanjuruhan. Pengalaman pertama kesana, semoga suatu saat lagi bisa kesana menyaksikan pertandingan-pertandingan yang besar, mungkin Arema vs Persija. Hahahhaha.. tentu saja dengan “kehangatan Malang dan Arema-nya”.
 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!