Pages

Blogger templates

Follow Instagram penulis : @bayupradikto // Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan (Einstein) // Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan (F.D. Roosevelt) // Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka (Paulo Freire).
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 24 Juni 2019

DEFINISI DAN TUGAS PENILIK PENDIDIKAN NONFORMAL

Undang-Undang Pendidikan No. 20 tahun 2003 pasal 3 tentang sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa perkembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pencapaian tujuan dan pelaksanaan fungsi pendidikan nasional perlu didukung oleh jalur pendidikan nonformal dan informal.
Pendidikan nonformal atau yang akrab disapa pendidikan luar sekolah (sekarang juga dikenal dengan istilah pendidikan masyarakat), seperti yang dijelaskan pada pasal 26 ayat 1  bahwa:

"Pendidikan nonformal bagian dari sistem pendidikan nasional merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang yang diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat, selanjutnya dalam ayat 2 dinyatakan pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional” dan ayat 3 menyatakan bahwa “pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik”. (UU No 20 tahun 2003)

Bidang pendidikan nonformal adalah merupakan pendekatan dasar dalam pembangunan masyarakat sekaligus bagian terpenting dari program pembangunan masyarakat itu sendiri. Berdasarkan PP No. 73 tahun 1991, tujuan pendidikan nonformal: (1) melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mukin dan sepanjang hayatnya guna meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya. (2) membina warga belajar agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, bekerja mencari nafkah atau melanjutkan ketingkat pendidikan yang lebih tinggi. (3) memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dapat dipenuhi dengan jalur pendidikan sekolah.
Upaya mencapai tujuan pendidikan nasional, terutama jalur pendidikan nonformal maka dibutuhkan adanya pendidik maupun tenaga kependidikan yang bergerak dibidang pendidikan nonformal. Pendidik pendidikan nonformal bisa pamong belajar, tutor pendidikan kesetaraan, instruktur kursus, dan lainnya. Sedangkan tenaga kependidikan pendidikan nonformal, antara lain : pengelola PKBM, Pengelola PAUD, pengelola LKP dan tenaga administrasi pada bidang PNF di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Provinsi dan penilik pendidikan nonformal.
Salah satu tenaga pendidikan nonformal yang cukup potensial dan berhubungan langsung dengan masyarakat ialah para penilik. Berdasarkan  Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 14 tahun 2010, tentang jabatan fungsional penilik dan angka kreditnya, dijelaskan bahwa:

Penilik adalah pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan penilikan pendidikan nonformal dan informal, yang meliputi: pendidikan anak usia dini, pendidikan kesetaraan dan keaksaraan, kursus dan pelatihan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik, yang terdiri dari: penilik PAUD, penilik pendidikan kesetaraan dan keaksaraan, serta penilik kursus. Penilik memiliki tugas utamanya melakukan kegiatan pengendalian mutu dan evaluasi dampak program pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan kesetaraan dan keaksaraan, serta kursus pada jalur pendidikan nonformal dan informal (PNFI).

Tugas penilik adalah untuk mampu memotret mutu satuan pendidikan nonformal dan informal dan bahkan mampu melakukan pengendalian mutu yang dilakukan dengan cara: 1) melaksanakan perencanaan program pengendalian mutu pendidikan nonformal (PNF), 2) pelaksanaan pemantau program pendidikan nonformal (PNF), 3) melaksanaan penilaian program pendidikan nonformal (PNF), 4) melaksanaan pembimbingan dan pembinaan kepada pendidik dan tenaga kependidikan  pada satuan pendidikan nonformal (PNF), dan 5) menyususn laporan hasil pengendalian mutu program pendidikan nonformal (PNF).
Penilik pendidikan nonformal orang pertama yang berhadapan langsung dengan kelompok masyarakat yang berkedudukan di Kantor Cabang Diknas Kecamatan (UPT Pendidikan SD, TK dan PNFI). Begitu sentralnya peran penilik pendidikan nonformal di lapangan maka tak heran bila peran serta mereka sangat menetukan terhadap kesuksesan program pendidikan nonformal dan informal di lapangan. Seorang penilik dituntut mempunyai kinerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya sehingga tujuan pendidikan nonformal dapat dicapai secara maksimal.


REFERENSI :
1.     Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2.   Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 14 tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Penilik dan Angka Kreditnya
3.    Iswandi. (2012). Kontribusi Kompetensi Dan Kerjasama Penilik Terhadap Kinerja Penilik Dalam Pengendalian Mutu Program Pendidikan Nonformal Di Kabupaten Agam. (Tesis). Padang : Universitas Negeri Padang

Kamis, 28 Februari 2019

JENIS - JENIS EMOSI


Stewart at all (1985)[1] mengutarakan perasaan senang, marah, takut, dan sedih sebagai basic emotions.
1.        Gembira
Setiap orang pada berbagai usia, mulai dari bayi hingga orang yang sudah tua mengenal perasaan yang menyenangkan. Pada umumnya perasaan gembira dan senang diekspresikan dengan tersenyum atau tertawa. Dengan perasaan menyenangkan, seseorang dapat merasakan cinta dan kepercayaan diri. Perasaan gembira ini juga ada dalam aktivitas kreatif pada saat menemukan sesuatu, mencapai kemenangan ataupun aktivitas reduksi stres (Izard dalam Stewart, 1985).
2.        Marah
Emosi marah terjadi pada saat individu merasa dihambat, frustrasi karena tidak mencapai yang diinginkan, dicerca orang, diganggu atau dihadapkan pada suatu tuntutan yang berlawanan dengan keinginannya. Perasaan marah ini membuat orang, seperti ingin menyerang “musuhnya”. Kemarahan membuat individu sangat bertenaga dan impulsif (mengikuti nafsu/keinginan). Marah membuat otot kencang dan wajah merah (menghangat). Bartlet dan Izart (Stewart, 1985) menguraikan ekspresi wajah tatkala marah yang ditandai dengan dahi yang berkerut, tatapan tajam pada objek pencetus kemarahan, membesarnya cuping hidung, bibir ditarik ke belakang, memperlihatkan gigi yang mencengkeram, dan sering kali ada rona merah di kulit.
3.        Takut
Perasaan takut merupakan bentuk emosi yang menunjukkan adanya bahaya. Menurut Helen Ross (dalam Simanjuntak, 1984) perasaan takut adalah suatu perasaan yang hakiki dan erat hubungannya dengan upaya mempertahankan diri. Stewart (1985) mengatakan bahwa perasaan takut mengembangkan sinyal-sinyal adanya bahaya dan menuntun individu untuk bergerak dan bertindak. Perasaan takut ditandai oleh perubahan fisiologis, seperti mata melebar, berhati-hati, berhenti bergerak, badan gemetar, menangis, bersembunyi, melarikan diri atau berlindung di belakang punggung orang lain.
4.        Sedih
Dalam kehidupan individu akan merasa sedih pada saat ia berpisah dari yang lain, terutama berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Perasaan terasing, ditinggalkan, ditolak atau tidak diperhatikan dapat membuat individu bersedih. Selanjutnya Stewart at all (1985) mengungkapkan bahwa ekspresi kesedihan individu biasanya ditandai dengan alis dan kening mengerut ke atas dan mendalam, kelopak mata ditarik ke atas, ujung mulut ditarik ke bawah, serta dagu diangkat pada pusat bibir bagian bawah.

Keempat emosi dasar ini dapat berkembang menjadi berbagai macam emosi, yang diklasifikasikan ke dalam kelompok emosi positif dan emosi negatif. Namun demikian, adapula beberapa di antaranya yang dapat mengekspresikan keduanya, tergantung pada pengalaman yang kita alami. Klasifikasi emosi positif dan negatif sebagaimana yang dikemukakan oleh Reynold (1987)[2] tersebut adalah berikut ini.

 


[1] Stewart, A. C. at al. (1985). Child Development A Topical Approach. New York: John Wiley & Sons
[2] Reynolds, V. (1987). A Practical Guide to Child Development. Volume 1 The Child. England: Stanley Thrones (Publishers) Ltd.
 

Blogroll

Silahkan memberikan komentar/kritik/saran/ucapan terimakasih untuk kebaikan web ini. Terima Kasih!!!